
Aku terus mencari keberadaan Kimiko lalu menemui pria yang menemukan ponselnya. Dan mengatakan jika dia melihat Kimiko dibawa oleh beberapa orang.
Paman Daichi pun mulai mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Kimiko. Sedangkan Eriko lebih memilih bekerja sendiri untuk mencari keberadaan Kimiko.
Semua orang berusaha mencari keberadaan, aku terpikirkan Eitaro. Karena dia tidak menghubungiku, aku mengambil ponsel lalu menghubunginya dan mengatakan jika Kimiko dalam bahaya.
Nada sambung terhubung tetapi Eitaro tidak mengangkatnya. Sebenarnya di mana dia? Mengapa di saat aku membutuhkan dirinya dia tidak dapat dihubungi.
Aku coba menghubungi paman saja, apakah dia sudah menemukan keberadaan Kimiko. Tidak akan aku biarkan dia mengalami hal yang buruk karena aku akan merasa sangat bersalah terhadap bibi Sarada dan paman Maru.
Nada sambung berbunyi, tidak berapa lama mana Daichi mengangkatnya. Aku langsung saja bertanya bagaimana apakah sudah ada kabar tentang Kimiko.
Paman mengatakan jika sampai saat ini belum menemukan keberadaannya. Aku menghela napas lalu menutup sambungan telepon. Berusaha untuk bersikap tenang dan berpikir siapa yang sudah berani menculik Kimiko.
Ponselku berdering, aku tidak mengenal nomor yang tertera di layar ponsel. Aku berpikir yang menghubungiku adalah orang yang bisa membantu menemukan Kimiko
“Hallo...,” kataku setelah mengangkat telepon.
Ada suara Kimiko tetapi suaranya terdengar samar, apakah ini adalah Kimiko. Aku berusaha terus memanggilnya tetapi dia tidak menjawab. Sebaiknya aku diam sejenak mendengarkan apa yang hendak di sampaikan olehnya.
“Mengapa kau melakukan semua ini, hah?!” terdengar suara Kimiko dari seberang telepon.
Dia sedang bicara dengan siapa? Apa orang itu yang menculiknya dan dia mengenalinya. Andai saja aku bisa melacak keberadaannya maka aku bisa dengan cepat menyelamatkan dirinya.
Aku tidak tahu akan seperti ini, sehingga tidak bertanya pada Eitaro tentang alat pelacak yang di pasangnya dalam ponsel Kimiko. Namun, semua itu tidak mungkin karena ponsel Kimiko sekarang berada di tanganku.
“Meski kau menghabisiku—kau tidak bisa membuat Yuki terpuruk! Dia akan terus mengejarnya hingga ke ujung neraka sekalipun!” Kimiko berkata di seberang telepon.
Terdengar suara tawa seorang pria yang aku kenal. Suara itu mirip dengan suara Riyoichi, tidak mungkin. Mengapa dia bisa melakukan semua ini padaku dan sekarang melakukannya pada Kimiko.
__ADS_1
Terdengar suara benda pecah belah yang jatuh dan terdengar juga suara Kimiko yang memerintah kesakitan.
“Kimiko!” pekikku dan terus memanggil namanya. Namun, aku tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka perdebatan.
Sambungan telepon terputus, aku berusaha untuk menghubunginya. Namun, tidak bisa karena ponselnya mati. Aku harus kembali ke rumah dahulu mengganti pakaianku dan mempersiapkan semuanya.
Sebelum itu aku menghubungi paman Daichi dan Eriko. Mengatakan pada mereka untuk mencari keberadaan Riyoichi karena Kimiko berada dalam dekapan Riyoichi saat ini.
Mereka berdua pun dengan cepat menjalankan apa yang aku perintahkan. Sambungan telepon aku putuskan setelah semuanya sudah aku perintahkan.
Setibanya di rumah aku memasuki kamar Kimiko, mencari sesuatu apakah ada yang bisa aku jadikan petunjuk keberadaannya.
Aku melihat dengan saksama kamarnya, melihat-lihat apakah ada yang membuatku curiga. Namun, tidak menemukan apa-apa. Ada foto dia bersama keluarga kecilnya.
Kupandangi foto itu, terlihat bibi Sarada dan paman Maru yang memeluk erat Kimiko serta seorang adik laki-laki yang sangat disayangi olehnya.
Ponselku berdering, kulihat nama yang tertera adalah Riyu. Dia menghubungi aku untuk apa lagi, bukankah dia tidak menepati janjinya untuk menyelamatkan aku.
Dia terus saja menghubungi aku meski aku mengabaikan panggilan darinya. Dan itu membuatku sangat lelah mendengar suara dering ponsel.
“Ada apa?!” tanyaku pada Riyu yang sedang berada di seberang telepon.
Suara Riyu terdengar sangat lemah, sepertinya dia dalam keadaan tidak sehat. Apakah dia sakit? Sehingga dia membatalkan rencana penyelamatan aku. Namun, itu tidak mungkin juga karena dia memiliki anak buah yang cukup hebat.
Riyu mengatakan jika dirinya sedang berada di rumah dan tidak bisa bergerak. Dia mengatakan kemarin ada yang menyerangnya. Sehingga dia tidak bisa datang menjemput.
Alasan yang biasa sekali, aku ingin tahu sepatah apa dia sehingga tidak bisa menepati janjinya. Aku mengatakan padanya untuk beristirahat karena pikiranku saat ini hanya Kimiko.
Aku menutup ponselku lalu menghempaskan tubuh di atas tempat tidur. Melihat langit-langit kamar Kimiko, sungguh aku tidak ingin semua ini terjadi padanya.
__ADS_1
Itu sebabnya sedari awal aku tidak ingin mengajaknya dalam rencanaku untuk menemukan ayah. Namun, dia begitu keras kepala dan terus ingin ikut denganku ke Kyoto.
Pikiranku kembali teralih pada Riyu, aku benar-benar ingin tahu bagaimana keadaannya. Dia berkata ada yang menyerangnya. Lebih baik aku menemuinya di rumah dan melihat bagaimana keadaannya.
Aku mengganti pakaianku yang biasa aku gunakan untuk menjalankan misi. Sepertinya aku akan menyelinap masuk ke rumah Riyu. Hanya ingin tahu saja apakah yang dikatakan olehnya benar atau tidak.
Semuanya sudah siap, alat yang aku perlukan pun sudah siap. Sekarang saatnya untuk menyusup masuk ke rumah Riyu.
Kulangkahkan kedua kakiku menuju garasi, di sana sudah ada motor yang biasa aku gunakan untuk menjalankan misi. Jika melihat ini aku teringat dengan Kimiko.
Kunaiki motor kesayanganku ini, lalu menekan sebuah tombol. Secara perlahan pintu garasi pun terbuka perlahan, mesin motor sudah kunyalakan. Pintu garasi sudah terbuka lebar, aku menarik gas motor dan pergi meninggalkan rumah.
Dengan kecepatan tinggi aku memacu motorku untuk tiba lebih cepat di kediaman Riyu. Entah mengapa aku merasa ini harus kulakukan. Apakah rasa percayaku padaku sudah memudar.
Akhirnya aku tiba di rumah Riyu, mencari tempat yang pas untuk menyembunyikan motorku. Dirasa sudah aman, aku melihat sekeliling ternyata rumah ini sudah dijaga dengan sangat ketat.
Coba aku lihat seberapa hebatnya anak buah Riyu, ini juga sebagai alat melatihku untuk menjadi lebih kuat lagi. Aku tidak akan berhenti untuk terus menempa bela diriku.
Kejadian kemarin akan aku jadikan pelajaran yang sangat berharga. Tidak akan aku biarkan pria seperti Riyoichi menyentuhku lagi.
Ada sebuah mobil yang baru tiba di rumah Riyu, bukankah itu adalah mobil paman Asamu. Ada apa paman mendatangi rumah Riyu.
Aku ingat dulu pernah melihat mereka berdua sedang berbicara di area parkir. Apakah mereka benar-benar bekerja sama, aku harus mengetahui apa hubungan di antara mereka berdua.
Dan aku kembali teringat akan perkataan Riyoichi, dia mengatakan jika Riyu adalah pria yang sangat kejam. Bahkan Riyu lebih kejam dari Riyoichi, aku tidak akan percaya begitu saja kemarin.
Namun, jika melihat kedekatan antara Riyu dan paman Asamu. Itu membuatku kembali bimbang dengan sikap Riyu dan rasa cintanya padaku.
__ADS_1