Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Penekanan


__ADS_3

Perusahaan Arsalan. Ya Arsalan—perusahaan yang selalu ayah banggakan. Ayah sudah menyerahkan banyak waktunya untuk membuat perusahaan ini menjadi perusahaan dilevel yang paling tinggi.


Namun, semua hasil jerih payahnya di rebut begitu saja oleh adiknya sendiri. Dan yang membuatku sangat marah hingga saat ini adalah kematian ibu dan juga menghilangnya ayah. Semua itu perbuatannya.


“Lihatlah—mereka memandangi kita!” Kimiko berbisik padaku.


Aku tersenyum lalu mengatakan, “Berilah mereka senyum teramah kita—maka kita akan melihat siapa saja yang akan berada di belakang kita.”


Terlihat seorang pria yang menatapku dengan lekat dan penuh kebencian. Siapa lagi jika bukan pamanku sendiri—paman Asamu. Rupanya dia menyambut kedatanganku.


Ternyata dia tidak bisa menatapku dengan waktu yang lama, mungkin dia merasa kesal dengan kedatanganku. Dia langsung berjalan menuju ruangannya. Namun, ada seorang pria yang mendekat padaku.


“Selamat pagi Nona Yuki, perkenalkan nama saya Hiroshima.” Sapa dia dengan hormat.


“Tunjukkan aku—ruangan Kenzo Arsalan!” Aku berkata tanpa basa-basi dengannya.


Dia terlihat sangat terkejut dengan apa yang aku katakan tetapi dia dengan cepat bisa merubah ekspresi keterkejutannya. Dia tersenyum lalu mempersilakan aku untuk menuju ruangan yang aku inginkan.


Pintu yang sama, warnanya pun tidak berubah masih sama seperti dulu. Hiroshima membuka pintu ruangan yang selalu aku rindukan. Di mana selalu ada ayah di dalam ruangan itu, ayah selalu menyambut diriku dengan senyum lembutnya lalu memangku aku.


Aku sangat merindukanmu—ayah, aku harap kau segera kembali padaku. Sudah cukup lama kita berpisah, apakah kau tidak merindukan aku?


“Kapan rapat dewan direksi dimulai?!” tanyaku pada Hiroshima.


“Tiga puluh menit lagi,” jawabnya singkat.


Aku meminta Hiroshima untuk menyiapkan dua ruangan di delta ruang kerjaku. Kedua ruangan itu khusus untuk paman Daichi dan Kimiko. Karena mereka berdua harus selalu berada di dekatku, agar aku bisa melindungi orang yang aku anggap penting ini.

__ADS_1


Hiroshima mengangguk, dia akan menyiapkan apa yang aku pinta. Di perusahaan ini tidak ada yang bisa menolak keinginanku, semuanya masih tahu jika semua saham terbesar aku yang pegang. Dia pamit undur diri, untuk menyiapkan apa yang aku pinta.


“Aku tidak perlu ruangan tersendiri—lebih bagus jika kita satu ruangan, maka aku bisa selalu melindungimu!” ucap Kimiko yang di benarkan oleh paman Daichi.


“Tidak—kalian berdua memerlukan ruangan tersendiri! Aku ingin kalian mengerjakan apa yang menjadi keahlian kalian tanpa adanya gangguan! Karena aku yakin setiap detik akan ada orang yang datang untuk mengawasi.” Jawabku.


Mereka terlihat sudah pasrah karena apa yang sudah aku putuskan tidak bisa di rubah lagi. Tidak begitu lama, datang seorang wanita muda. Dia mengatakan bahwa ruangan untuk Kimiko dan paman Daichi sudah siap untuk di tempati.


Aku menyuruh mereka untuk melihat ruangan yang akan ditempati untuk setiap hari bekerja. Melihat sekeliling ruangan yang penuh akan kenangan ayah, membuatku menitikkan air mata. Betapa aku sangat merindukannya, sudah cukup lama ayah bersembunyi. Apakah setakut itu ayah pada paman Asamu.


Namun, aku tidak boleh berprasangka buruk pada ayah, mungkin semua ini dilakukan untuk membuatku semakin kuat. Sehingga tidak mudah ditindas oleh orang-orang yang membenci aku. Karena aku adalah putri dari seorang wanita yang mereka benci.


Tok! Tok! Terdengar suara ketukan pintu, aku menyuruhnya masuk. Terlihat Hiroshima masuk, dia mengatakan bahwa rapat akan segera dimulai. Aku beranjak, berjalan keluar ruangan. Terlihat Kimiko dan paman Daichi sudah berdiri menunggu aku.


Di depan sana adalah ruangan yang penuh dengan orang-orang yang menginginkan kehancuranku. Namun, aku tidak akan kalah dengan mereka semua. Karena aku adalah Yuki Arsalan putri dari Kenzo Arsalan.


Dengan penuh kebanggaan dan rasa percaya diri yang aku miliki aku duduk di kursi yang selalu ayah duduki. Mata mereka menatapku dengan tajam, guna melihat apakah aku sanggup menjadi pengganti ayah.


“Baiklah—kita mulai rapatnya!” ucapku dengan tegas sehingga membuat mereka terkesiap.


Salah satu pria paruh baya mulai melayangkan serangannya dengan kalimat yang ingin membuatku mundur. Aku hanya ingin lihat siapa saja yang menentangnya untuk duduk di kursi ini.


Semua perkataan yang terlontar dari mulut mereka membuatku muak, aku melihat ke arah paman Asamu. Dia tersenyum penuh dengan kemenangan. Kau bisa tersenyum saat ini—tunggu sebentar lagi kau pasti terkejut.


Aku membiarkan mereka bicara sesuka hati, meski ucapan mereka tidak patut diucapkan orang yang berpendidikan seperti mereka. Ada beberapa orang yang hanya diam memperhatikan argumentasi yang membuatku jengah kali ini.


“Apa sudah puas?!” ucapku dengan nada penekanan.

__ADS_1


Semua terdiam, aku melirik Kimiko. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Dia menyodorkan dokumen pada para pemegang saham. Terlihat dari mereka terkejut saat membaca dokumen yang baru saja diberikan oleh Kimiko.


Brakkk!


“Apa maksud semua ini!?”


Paman Asamu terlihat marah hingga di menggebrak meja dengan sangat kuat. Aku hanya tersenyum melihat kekesalan yang terpancar dari sorot kedua matanya. Dia beranjak lalu pergi meninggalkan ruangan dengan rasa kesal.


“Apa ada yang ingin pergi?” Aku bertanya pada mereka semua.


Ada beberapa orang yang pergi dari ruangan, aku tahu mereka adalah orang-orang yang bekerja sama dengan paman Asamu untuk menghancurkan ayah. Kali ini kalian tidak akan bisa hidup dengan tenang.


Sekarang giliran paman Daichi yang bicara, semua orang yang masih duduk di dalam ruangan hanya mendengarkan apa yang di ucapkan paman Daichi. Semuanya terdiam, mereka pergi meninggalkan ruang rapat.


“Bagaimana menurut Paman?” tanyaku.


“Kita pantau mereka semua—saya yakin mereka tidak akan bisa tenang dalam beberapa hari ini.” Jawabnya.


Paman Daichi pun mengatakan jika dia akan pergi untuk beberapa hari. Karena dia mendapatkan informasi mengenai keberadaan ayah.


Tadinya aku ingin ikut bersamanya tetapi paman melarangku karena perusahaan masih belum bisa dikendalikan sepenuhnya. Paman Daichi yakin jika paman Asamu akan melancarkan serangannya dalam waktu dekat ini.


Pembicaraan kami selesai, aku kembali ke ruangan bersama dengan Kimiko. Seorang wanita mendekat dia mengatakan jika sudah ada seseorang yang menungguku di ruang kerja.


Aku bertanya padanya, siapa orang yang sudah menungguku itu. Namun, dia mengatakan jika orang itu sangat dekat denganku. Sehingga tidak mau mengatakan siapa namanya, aku sungguh tidak habis pikir mengapa perusahaan sebesar ini bisa menerima pegawai seperti dia. Yang tidak bisa menanyakan nama dari orang yang ingin bertemu denganku.


jual

__ADS_1


__ADS_2