
“Bagaimana keadaanmu?” tanyaku pada Riyu yang sudah bisa dengan jelas melihat diriku.
Riyu hanya tersenyum, aku tidak tahu apa yang dipikirkan olehnya. Namun, yang pasti aku benar-benar senang dia bisa selamat dari semuanya.
“Bagaimana denganmu?” Dia balik bertanya padaku dengan lirih.
Dia bertanya tentang keadaanku padahal dia yang baru saja berjuang antara hidup dan mati. Apa dia tidak memikirkan dirinya sendiri, aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikirannya.
“Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?” jawabku sembari kembali bertanya.
“Syukurlah kau baik-baik saja, aku bisa bernapas lega sekarang.” Dia berkata dengan perlahan tetapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.
Tidak berapa lama Kenta tiba, dia langsung mendekat pada Riyu. Dia terlihat sangat senang, mungkin melihat tuannya selamat dari ambang kematian.
“Bagaimana denganmu, Tuan?” tanya Kenta pada Riyu.
“Aku sudah membaik, bagaimana kau sudah tahu siapa dalang dari kejadian kemarin?!” jawabnya dan dibarengi oleh pertanyaan kembali.
“Dia begitu keras kepala. Namun, Tuan tidak perlu khawatir aku sudah membuatnya sangat menderita!” jawab Kenta dengan nada percaya diri.
“Buat dia menderita hingga ingin mati! Hingga aku melihat dengan mataku sendiri penderitaannya!” ucap Riyu.
Dia terlihat begitu sangat kejam bagiku, apakah ini Riyu yang sesungguhnya. Meski dia terlihat lemas tetapi aura kekejamannya begitu terasa.
“Pergilah aku ingin malam ini kau tahu siapa dalang penyerangan itu!” perintah Riyu pada Kenta
“Baik, Tuan.” Kenta menjawab sembari membungkuk lalu berjalan meninggalkan ruangan.
Ponselku bergetar aku membukanya dan terlihat ada sebuah pesan masuk dari Kimiko. Dia mengatakan jika Eitaro mengetahui peristiwa penyerangan itu dan dia terlihat sangat marah.
Kimiko pun mengatakan jika Eitaro sekarang sedang menuju rumah sakit. Itulah pesan dari Kimiko, ini akan menimbulkan masalah besar. Jika Eitaro bertemu dengan Riyu. Entah apa yang akan terjadi nanti.
Ada baiknya aku langsung menunggunya di luar saja. Tidak baik juga jika Eitaro membuat keributan di saat Riyu masih terlihat lemah.
“Aku akan keluar sebentar,” ucapku pada Riyu.
Riyu mengangguk, dia tidak banyak bertanya padaku. Saat aku hendak membuka pintu, mataku terbelalak melihat Eitaro yang sudah berdiri dengan tegap di balik pintu.
Tanpa banyak bicara dia menarik tanganku, tenaganya begitu kuat sehingga aku tidak bisa menghentikannya.
__ADS_1
“Eitaro, lepaskan—kau menyakitiku!” kataku untuk menghentikannya.
Dia menghentikan langkahnya lalu berbalik dan melihat ke arahku dengan saksama. Entah apa yang ada di pikirannya tetapi yang aku rasakan akan berakhir tidak baik.
“Apa kau tidak tega meninggalkan pria itu hah?!” tanyanya dengan nada penekanan.
Terlihat sangat jelas dia sedang kesal, aku tahu pasti dia marah karena aku tidak memberitahukan semua kejadian kemarin padanya. Bukan apa-apa karena aku tidak ingin membuatnya khawatir. Itu saja.
“Bukan itu,” jawabku.
Dia kembali terdiam lalu menarik tanganku kembali. Namun, dia tidak berjalan keluar rumah sakit melainkan kembali ke ruangan Riyu.
“Tidak, Eitaro jangan lakukan ini!” kataku padanya.
Namun, dia tidak mendengarkan apa yang aku katakan. Eitaro membuka pintu ruang rawat Riyu, dia menarikku masuk ke ruangan.
“Siapa kau?! Mengapa kau menggenggam tangan Yuki!” tanya Riyu pada Eitaro.
“Lihat luka lebam di wajah dan tubuhnya! Apa kau tidak bisa melindunginya sedikit pun hah?!” Eitaro bertanya sembari memperlihatkan wajahku yang masih terlihat penuh dengan luka lebam.
“Sudah cukup Eitaro! Apa kau tidak lihat dia sedang terluka juga!” pekikku padanya.
“Ikut denganku!” perintah Eitaro padaku.
“Tidak!” jawabku.
“Kau sudah membuatku hilang kesabaran, Yuki Arsalan!!” tukasnya lalu menarik tanganku dan menggendongku.
Aku berusaha untuk memintanya menurunkan aku tetapi dia tetap menggendongku keluar dari rumah sakit. Banyak orang yang melihat ke arahku, ada beberapa penjaga keamanan yang menghadang kami.
“Tuan, kami harap Anda melepaskan Nona itu!” perintah seorang security padanya.
“Aku ingin membawa istriku pulang! Apakah kalian tidak melihat jika dia baru mengalami kecelakaan!” katanya dengan nada dingin.
Mereka tidak berkutik setelah Eitaro mengatakan itu. Dia pun berbisik padaku untuk diam dan mengatakan jika apa yang dikatakannya benar.
Kalau aku mengatakan tidak maka dia akan mengatakan semua kejadian ini pada ayah dan ibu. Tidak, aku tidak mau ayah serta ibu tahu kejadian ini.
“Tidak apa-apa dia suamiku,” ucapku untuk bisa pergi secepatnya dari sini. Karena semua ini begitu memalukan bagiku.
__ADS_1
Security itu pun memberikan jalan pada kami, Eitaro berjalan dengan penuh percaya diri. Dia sama sekali tidak merasa malu karena sudah berkata bohong mengenai status kami.
Seharusnya aku mengatakan jika dia adalah adikku bukan suamiku. Mengapa juga aku mengikuti apa maunya hanya karena dia mengancamku akan mengatakan semuanya pada ayah dan ibu.
Kulihat dia sekilas tersenyum, senyuman itu menandakan bahwa dia menang. Sial! Dia benar-benar membuatku merasa kesal sekaligus malu.
“Hentikan senyummu itu! Kau membuatku kesal!” tukasku padanya.
“Aku tidak peduli,” jawabnya dengan santai sembari terus berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di depan.
Hanya bisa menghela napas panjang dengan sikap konyolnya ini. Mengapa dia semakin menjadi tidak terkendali seperti ini dalam menggodaku.
“Ambilkan lucu mobil di saku celanaku!” perintahnya padaku.
“Turunkan aku dan kau bisa mengambil kunci mobil sendiri!” timpalku.
“Cepat ... Jangan banyak bicara!” Dia kembali memerintahku dengan seenaknya.
Aku terpaksa mengambil kunci mobil yang berada di saku belakang celananya. Dengan cepat aku menekan tombol kunci mobil agar terbuka, sehingga aku bisa langsung masuk kedalam mobil.
Eitaro membuka pintu mobil sembari tetap menggendongku lalu mendudukkan aku di depan. Dia memasangkan sabuk pengaman, setelah itu menutup pintu mobil dan berjalan ke arah kendali setir.
Dia menyalakan mobil secara perlahan keluar area rumah sakit. Dalam perjalanan aku teringat dengan Riyu, bagaimana dengan dia? Apakah dia tidak apa-apa karena aku pergi begitu saja.
“Ada apa denganmu? Kau bertingkah seperti ayah saja!” tukasku dan itu memecahkan kesunyian di dalam mobil.
“Kau lebih tua dariku tetapi kau seperti seorang gadis yang bawahku!” jawaban yang membuatku sedikit kesal.
Eitaro menganggap aku seperti gadis kecil, bukan aku yang bersikap seperti anak kecil melainkan dia yang bersikap seperti pria dewasa yang ingin melebihi umurku.
“Cih ... Kau saja yang ingin bersikap seperti ayah Arata!” timpalku dengan nada kesal.
“Jika kau mau—aku akan menjadi seperti yang kau inginkan.” Dia menimpali setiap perkataanku, jika dilanjutkan maka dia terus akan membalasnya.
Ponselku berdering, aku mengambilnya lalu melihat siapa yang menghubungi. Tertera nama Riyu, aku langsung mengangkatnya.
Aku meminta maaf padanya atas kejadian tadi dan mengatakan jika Eitaro adalah adikku. Dia terdengar merasa lega, entah mengapa aku merasakan itu.
Apa yang dipikirkan olehnya?
__ADS_1