
“Jika kau menatapku seperti itu—jangan salahkan aku tidak bisa menahannya!” ucap Riyu yang menyadarkan aku.
“Ada apa kau mengajakku makan malam?!” tanyaku padanya guna mengalihkan perhatiannya.
Dia tertawa kecil lalu mengatakan padaku untuk menyantap makan malam dulu, baru dia akan mengatakan apa yang ingin dikatakan olehnya.
Tidak berapa lama setelah dia mengatakan itu, beberapa pelayan tiba dengan hidangan yang telah dipesan oleh Riyu. Dia tidak bertanya terlebih dahulu apa yang aku sukai dan langsung saja memesan.
“Apa ini halal?!” tanyaku pada pelayan tersebut.
Karena sejak aku tinggal bersama ibu Lili aku selalu memakan makanan yang bisa dimakan oleh ibu. Pelayan itu tertegun dia tidak tahu dengan apa yang aku katakan, apa mungkin dia pelayan baru sehingga tidak tahu.
“Tenang saja, semua itu halal!” Riyu berkata sembari menyuruh para pelayan pergi meninggalkan kami.
Sepertinya ada yang aneh dengannya, mengapa dia tahu mengatakan itu dengan santainya. Apakah dia juga sama seperti ibu Lili dan ayah Arata.
“Mengapa kau bingung?” tanyanya padaku.
Dia pun kembali berkata jika dirinya adalah seorang keturunan Indonesia-Jepang. Ayahnya seorang asli keturunan Jepang sedang ibunya asli orang Indonesia.
Mengapa dia mengatakan ini padaku, padahal aku tidak bertanya tentang hal pribadi padanya. Tunggu dulu! Dia mengatakan jika dirinya adalah putra dari seorang wanita Indonesia dan pria Jepang, itu artinya dia sama seperti Eitaro.
Dan wanita paruh baya yang kulihat di rumahnya itu siapa? Bukankah dia adalah ibunya, mengapa tidak terlihat seperti wanita Indonesia.
“Kau pasti bingung dengan ibuku yang kau lihat di rumah,” katanya padaku, apa terlihat jelas di wajahku tanda pemasaran. Sehingga dia mengatakan itu.
“Iya,” jawabku dengan jujur karena aku penasaran juga.
Riyu mengatakan jika ibunya yang ada di rumah adalah ibu angkatnya. Sedangkan ibu kandungnya sudah lama pergi dan tidak akan kembali. Intinya ibu kandungnya sudah lama meninggal dunia.
“Maaf aku tidak ber—,” sebelum melanjutkan kata bermaksud Riyu berkata tidak apa-apa sembari tersenyum.
“Makanlah,” katanya dengan lembut.
Dia terlihat sangat berbeda dengan kemarin, sekarang dia terlihat lebih tenang dan tidak emosi. Baguslah itu baik untukku dan untuknya, sehingga aku tidak perlu mengeluarkan energi untuk berdebat.
Aku pun menyantap hidangan yang sudah tertata rapi di atas meja. Dia terus saja menatapku dan itu membuatku menjadi risi.
__ADS_1
“Apa ada yang salah denganku?!” Aku bertanya padanya dengan nada menyelidiki.
“Kau cantik saat makan,” jawabnya sembari kembali menyantap makannya.
“Gombal,” kilahku.
Tidak kusangkak dia bisa menggombal seperti ini karena yang aku lihat dia selama ini selalu bersikap dingin. Terkadang sikapnya itu selalu membuatku merasa kesal.
Riyu terkekeh lalu tangannya mendekat pada wajahku. Mataku terbelalak saat dia menyentuh ujung bibirku dengan lembut.
“Ada saus yang menempel di ujung bibirmu,” ungkapnya lalu dia menjilat jarinya yang ada saus yang berasal dari ujung bibirku.
“Kau...,”tukasku.
“Lanjutkan makannya!” timpalnya.
Ada apa dengannya? Mengapa dia menjadi seperti ini. Aku tidak terbiasa dengan sikapnya yang seperti ini sebab aku terbiasa dengan sikap dinginnya.
Makanan sudah kudanya, perutku terasa kenyang begitu pula dengan Riyu dia pun sudah selesai menyantap makan malamnya. Tangannya dijulurkan ke atas, tidak berapa lama beberapa pelayan tiba dan merapikan meja.
Pelayan pun dengan gesit merapikan semuanya dan mereka pergi meninggalkan kami setelah semuanya sudah rapi. Aku kembali teringat apa yang hendak disampaikan olehnya.
Riyu terdiam sejenak lalu dia berkata, “Apakah kau masih bertemu dengan dia?!”
Siapa yang dia maksud, apakah yang dimaksud adalah Riyoichi. Jika benar itu artinya dia selalu memata-matai apa yang aku lakukan.
“Apa kau memata-matai aku?!” Aku balik bertanya padanya.
“Tidak!” jawabnya singkat.
Aku menatapnya dengan lekat untuk melihat apakah dia berkata jujur atau tidak. Namun, tidak terlihat keraguan sedikit pun, sepertinya dia berkata jujur kali ini.
Jika bukan Riyu yang selalu memata-matai aku lalu siapa? Apakah ini ulah paman Asamu yang tidak menginginkan aku menemukan ayah. Aku heran dengan paman mengapa dia tidak ingin aku menemukan ayah, padahal dia adalah adiknya.
Bukankah dia tahu jika ayah tidak ada maka pakan tidak akan mendapatkan semua harta atau saham yang dimiliki ayah. Namun, berbeda halnya jika ayah kembali maka semua yang diinginkannya bisa tercapai.
“Apa kau masih bertemu dengannya?!” Riyu kembali bertanya padaku.
__ADS_1
“Riyoichi yang kau maksud? Jika dia. Iya itu benar, aku masih bertemu dengannya!” jawabku dengan tenang.
Aku ingin tahu apa yang akan dikatakan olehnya kali ini. Sebenarnya aku masih penasaran mengapa kedua pria ini selalu bertentangan padahal aku belum melihat mereka berdua bertemu satu sama lain.
“Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua? Mengapa kalian seperti ini?!” Aku kembali bertanya karena dia hanya diam.
“Aku belum bisa menceritakan semuanya padamu. Namun, yang pasti kau harus menjauhinya sebelum semuanya terlambat!” ungkapnya padaku.
Dia selalu saja mengatakan ini dan membuatku semakin penasaran. Sebenarnya siapa di antara mereka yang kawan atau musuh.
“Percayalah padaku—dia benar-benar akan membuatmu menderita!” timpalnya selagi aku masih memikirkan apa yang dikatakan olehnya.
“Apa kalian saling mengenal?!” Entah mengapa aku hanya ingin tahu apa hubungan mereka berdua, sehingga kedua orang ini bermusuhan.
Dia menghela napasnya lalu berkata, “Iya. Aku mengenalnya dan aku harap kau menuruti apa yang aku katakan, jauhi dia.”
Jadi mereka benar-benar saling mengena, mungkin mereka sudah saling mengenal dan berdebat lalu bermusuhan hingga kini. Ahhh mengapa juga aku memikirkan semua ini.
Namun, aku selalu saku terpikirkan oleh mereka berdua. Karena kedua-duanya tidak mengatakan yang sebenarnya dan itu membuatku semakin penasaran.
“Apa hanya ini yang ingin kau sampaikan? Aku pikir kau mengundangku makan malam untuk mengatakan hal yang lainnya?” kataku padanya.
“Apa yang ingin kau dengar dariku selain itu?” Dia malah balik bertanya padaku.
“Tidak ada! Jika sudah selesai aku pulang!” jawabku padanya.
“Aku antar kau pulang! Ini sudah larut malam,” ucapnya padaku sembari beranjak dari duduknya.
Kutolak dia secara halus karena aku membawa mobil dan tidak perlu diantar olehnya. Dia memaksa untuk mengantar aku hingga di depan rumah serta mobilku akan dibawa oleh anak buahnya.
Sudah tidak bisa menolak lagi karena mobilku sudah dibawa oleh anak buahnya. Aku pun memasuki mobilnya, dalam perjalanan pulang suasana di dalam mobil begitu sepi.
Kedua mataku terasa berat, apakah karena perut kenyang sekarang rasa kantuk menghinggapi aku. Lantunan musik yang begitu tenang dinyalakan oleh sopir atas perintah Riyu. Dan itu membuat rasa kantukku semakin kuat.
Brugggg!
Aku terkejut karena ada yang menabrak mobil Riyu dari belakang. Apa yang terjadi?
__ADS_1
“Apa yang terjadi?!” tanyaku pada Riyu.
“Tambah kecepatan mobilnya!” merintih Riyu pada sopir tanpa menjawab pertanyaanku.