Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Sebuah Pesan


__ADS_3

Apa yang aku rencanakan yaitu menyelinap masuk ke rumah Riyu. Gagal total karena aku mendapatkan sebuah pesan yang menunjukkan sebuah lokasi.


Entah mengapa aku yakin jika ini adalah lokasi keberadaan Kimiko. Sebenarnya aku ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh paman Asamu.


Namun, Kimiko lebih penting dari semua ini jika aku sudah menemukan Kimiko, aku akan mencari tahu semuanya. Dan tidak akan terlewat sedikit saja.


Aku mengirimkan lokasi ini pada paman Daichi serta Eriko. Setelah semua pesan terkirim, aku bergegas menuju motor lalu pergi dari tempat ini dengan kecepatan tinggi.


“Tidak akan aku biarkan Riyoichi menyakiti Kimiko!”


Sepertinya ada yang mengikuti aku, kulihat ke belakang dari kaca spion ada beberapa pengendara motor yang terus mengikuti. Tidak hanya pengendara motor, melainkan dua buah mobil yang mengikuti pula.


“Siapa mereka? Mengapa mereka mengikuti aku!”


Itulah yang ada dalam benakku. Namun, untuk memastikannya kembali. Apakah mereka benar-benar mengikutiku atau tidak. Akan aku tes sekarang.


Aku menarik gas motor dengan kuat sehingga motor melaju dengan kecepatan tinggi. Untuk mengetahui apakah mereka benar-benar mengikuti atau tidak.


Rupanya mereka benar-benar mengikuti aku, sepertinya aku harus bisa menghindari mereka atau melawan mereka dan melumpuhkannya. Karena tujuan utamaku malam ini adalah penyelamatan Kimiko.


Sekuat apa pun aku menghindari mereka tidak berhasil. Sebab mereka orang-orang yang sangat keras kepala. Dan memiliki kemampuan dalam menunggangi sepeda motor.


Ckitttt!


Suara decitan ban motor begitu nyaring, aku menginjak dan menekan rem motor dengan sangat kuat. Sehingga motorku berdiri hanya dengan satu ban depan saja.


Di depanku sudah ada sebuah mobil yang berhenti, terlihat beberapa pria yang sudah berdiri tegap. Sepertinya mereka sengaja berhenti untuk menghadang jalanku.


Aku membuka helm, menstandarkan motor lalu turun dari jok motor. Kutatap mereka semua, terlihat ekspresi wajah mereka yang tidak bersahabat.


Tidak berapa lama, terdengar suara motor dan berhenti di belakang. Kulihat ke belakang sudah ada beberapa orang yang mengejar tadi serta satu mobil.


“Siapa kalian?!” tanyaku pada mereka.


“Kau tidak perlu tahu siapa kami—sekarang lebih baik Nona ikut bersama kami!” jawab seorang pria padaku dengan tegas.


Jika dilihat dari penampilan mereka terlihat jelas mereka adalah pengawal yang sudah profesional. Apakah mereka adalah pengawal Riyu? Tapi mengapa mereka ingin aku ikut bersama mereka.


“Kalian jangan menghalangi aku! Cepat menyingkir!” tukasku.


Sudah tidak ada waktu lagi untuk menghadapi mereka. Aku sedang berburu dengan waktu karena ku takut terjadi sesuatu pada Kimiko.


“Kalau begitu jangan salahkan kami!” ucapnya pria itu sembari memberi tanda pada anak buahnya.


Bug!

__ADS_1


Bug!


Whussss!


Setelah mendapatkan tanda dari bosnya, mereka 4 orang langsung menyerang dengan pukulan dan sesekali dibarengi dengan tendangan.


Yang bisa aku lakukan sekarang adalah bertahan dan menghindar dari serangan mereka. Sembari melihat kapan waktu yang tepat untuk menyerang balik mereka semua.


Sepuluh menit. Tidak ini sudah berlangsung lima belas menit. Namun, mereka belum berhasil melumpuhkan aku dan mereka sudah terlihat kelelahan.


Aku tersenyum miring, mungkin mereka menganggap aku adalah wanita yang lemah. Tidak akan aku biarkan mereka berhasil menumbangkan diriku dengan mudah.


“Binggo!” kataku dengan tersenyum karena melihat titik lemah mereka berempat. Seorang waktunya bagiku untuk menyerang balik dan melumpuhkan mereka semua.


Bug!


Bug!


Whussss!


Aku melayangkan pukulan bertubi-tubi dan diakhiri dengan sebuah tendangan pada seorang musuh. Brugggg! Musuh itu pun langsung terjatuh di jalanan beraspal.


Setelah melihat dia tumbang, aku langsung menyerang sisinya. Dengan pukulan yang begitu cepat sehingga mereka tidak ada wanita berpikir untuk menyerang balik.


Brugggg!


Sisa dua orang yang sedari tadi terlihat kesal karena mereka melihat kedua temannya sudah tersingkir di atas jalan beraspal.


“Wanita kurang ajar!” kata seorang pria dengan geram.


Mereka berdua langsung menyerang dengan cepat. Namun, kecepatan mereka sudah tidak seperti awal, salah seorang dari mereka terlihat berjalan terpincang-pincang. Itu tandanya kaki sebelah kirinya adalah kelemahannya.


Whussss!


Dengan senyum manis aku layangan tendangan pada kaki sebelah kirinya. Dia pun terjatuh dan terdengar erangan kesakitan sembari memegang kakinya yang baru saja aku tendang.


“Wanita sial!” ucap pria yang sudah kesal karena melihat ketiga temannya terkapar di atas jalanan beraspal.


Dia langsung menyerang kulit dengan membabi-buta, sehingga dia tidak menyadari jika dirinya sudah menjadi targetku saat ini. Aku hanya menerima serangan yang tidak beraturan darinya.


Menunggu sejenak agar dia kelelahan dan tidak memiliki tenaga lagi. Kelemahannya sudah aku temukan, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menyerang titik lemahnya itu.


“Ini saatnya!” kataku sembari tersenyum kecut.


Bug! Bug! Pukulan cepat dan berkali-kali aku layangkan pada perutnya lalu memukul dengan sangat kuat di bagian pahanya yang sudah terlihat bercak merah.

__ADS_1


Itu adalah titik lainnya, sepertinya dia sudah terluka sebelumnya. Dan luka itu belum sembuh tetapi dia sudah berani menyerangku. Apakah dia berpikir jika aku adalah lawan yang mudah dihadapi.


Brugggg! Pria itu pun jatuh, dia meringis kesakitan sembari memegang pahanya yang mengeluarkan darah segar.


Prok!


Prok!


Aku melihat ke arah pria yang menepuk kedua tangannya. Dia terlihat tersenyum kecut lalu mengatakan, “Tidak aku sangka Nona begitu hebat.”


Pria itu berjalan mendekat, bukan hanya dia tetapi semua anak buahnya yang sedari tadi memperhatikan aku pun mendekat. Aku bersiap-siap dengan pertahananku.


“Kalian membuatku kehilangan banyak waktu saja! Lebih baik kalian pergi jika tidak ingin seperti mereka!” ungkapku dengan nada dingin.


Mereka terkekeh saat aku mengatakan itu, tidak satu pun di antara mereka menghentikan langkahnya. Sorot mata mereka seperti seorang serigala yang hendak memangsa buruannya.


Aku menghitung jumlah mereka semua ada 7 orang, apakah aku sanggup melawan dan melumpuhkan mereka semua. Bodoh! Mengapa aku berpikir tidak bisa melumpuhkan mereka semuanya.


Jika aku berpikir tidak bisa maka hasilnya akan buruk. Bilamana aku berpikir bisa, maka aku bisa melumpuhkan mereka semua.


“Serang!!” ucap pria berjaket hitam itu pada semua anak buahnya.


Bug!


Bug!


Whussss!


Mereka menyerangku berbarengan dengan pukulan yang terus-menerus. Yang bisa aku lakukan hanya bertahan dari serangan mereka semua. Jika begini terus aku bisa kelelahan.


Brugggg!


Aku terjatuh setelah mendapatkan hantaman begitu keras dari salah seorang musuh. Mereka menyeringai setelah melihat aku terjatuh.


Namun, aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku berusaha kembali berdiri dan bersiap-siap untuk menyerang atau bertahan dari serangan mereka semua.


“Menyerahlah, Nona kau tidak akan sanggup melawan kami!” kata seorang pria dengan sombongnya.


“Kalian pikir bisa dengan mudah membuatku menyerah! Jangan harap!!” balasku sembari memberikan tanda untuk menyerang kembali.


Dia terlihat sangat marah dengan apa yang aku lakukan. Dengan cepat dia berlari ke arahku lalu melayangkan pukulannya yang sangat kuat dan cepat. Namun, aku bisa mengatasinya lalu menyerang balik pada titik lemahnya.


Brugggg! Dia terjatuh, tanpa memberiku jeda mereka yang masih berdiri tegap langsung menyerangku. Semuanya benar-benar ingin menjatuhkan aku hingga tidak bisa berdiri lagi. Mereka mengelilingi aku dan aku sudah terpojok kali ini.


“Sial mengapa aku bisa terpojok seperti ini!”

__ADS_1


 


 


__ADS_2