Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Apa Dia Bodoh


__ADS_3

"Sungguh memuakkan,"


Aku tidak mengira jika dia masih menghubungi aku setelah apa yang sudah dia perbuat padaku dan juga Kimiko. Aku tidak akan memaafkannya meski dia terus meminta maaf dan membawaku ke tempat di mana ayahku berada saat ini.


Sopir menghentikan mobilnya, aku pun membuka pintu mobil lalu ke luar dan berjalan memasuki rumah. Terlihat ada beberapa pelayan yang sedang bekerja dan juga pengawal yang masih berjaga dengan ketat.


"Apa ibu dan ayah sudah pulang?" tanyaku pada seorang pelayan yang merupakan kepala pelayan yang ada di rumah ini.


"Tuan dan Nyonya belum pulang ... Nona apa ada yang diperlukan? Nanti saya akan siapkan," jawab kepala pelayan padaku sembari bertanya lagi.


"Panggil aku jika sudah siap makan malam," jawabku lalu berjalan meninggalkan kepala pelayan menuju kamarku.


Aku berjalan menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar, kulihat pintu kamar Rioichi yang terbuka. Rasa ingin tahuku begitu besar sehingga aku pun berjalan mendekat. Kubuka sedikit pintunya agar bisa melihat apa yang terjadi di dalam sana.


"Apa kau bodoh hah! Mengapa tidak bisa mencari satu orang saja," pekik Eitaro.


Dia sedang mencari siapa sehingga kesal begitu, lebih baik aku pergi dari sini bisa bahaya jika dia tahu aku mendengarkan apa yang dibicarakan dengan seseorang yang ada di seberang telepon. Langkahku terhenti saat mendengar Eitaro memanggilku dengan nada dingin.


Tubuhku membalik perlahan dan melihat pria yang sudah kuanggap sebagai adik terlihat sangat tajam menatapku. Dia terlihat sangat marah sekali seperti seekor harimau yang akan menerkam mangsanya.


"Apa?" tanyaku dengan nada datar.


"Kau menguping?" tanyanya padaku dengan nada mengintimidasi.


"Tidak. Untuk apa aku menguping," Aku menjawab lalu membalikkan tubuh dan berjalan meninggalkan Eitaro yang saat ini suasana hatinya sedang buruk.


Aku pikir anak itu akan mengejar tetapi tidak, syukurlah sehingga aku tidak banyak berdebat dengannya. Kubuka pintu kamar dan masuk lalu menutup pintunya, semua dokumen yang ada di tangan aku simpan di atas nakas serta tas yang aku bawa tadi.

__ADS_1


Sebelum makan malam tiba dan memeriksa semua dokumen lebih baik aku membersihkan diri terlebih dahulu. Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi dan melepaskan satu per satu pakaian yang menempel di tubuh.


Pikirkanku kembali saat mendengar apa yang dikatakan oleh Eitaro, sebenarnya siapa yang dia cari. Apakah aku mengenal juga orang yang sedang dia cari itu, apakah yang dia cari adalah Riyoichi apabila benar untuk apa dia mencarinya.


"Sungguh mengesalkan mengapa Eitaro menjadi pria yang menyebalkan setelah dewasa,"


Aku berdiri di bawah shower dan memutar keran shower, air pun mulai membasahi tubuhku dan membuat kepalaku terasa segar. Ingin rasanya melupakan semua hal yang sudah terjadi. Andai saja ayah tidak menghilang mungkin saat ini aku tidak akan merasa selelah ini.


Begitu banyak rahasia yang ada di kehidupanku yang membuat aku lelah menghadapi semuanya, akut juga tidak tahu siapa yang sudah membuat Paman Asamu bertindak seperti itu. Apakah ayah juga sudah tahu siapa yang ada di balik perbuatan Paman Asamu.


Aku menekan sebuah tombol kotak sabun cair dan sabun pun jatuh di telapak tangan lalu aku membersihkan tubuhku dengan sabun. Setelah itu aku kembali membersihkan sabun yang ada di tubuhku dengan air yang masih menyala tadi.


Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri aku pun mengambil handuk yang ada di dalam almari kecil di dalam kamar mandi dan mengeringkan tubuhku. Aku membuka pintu kamar mandi dan berjalan ke luar, terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu kamarku.


"Siapa?" tanyaku sebelum aku membukakan pintu kamar.


"Aku. Cepat buka pintunya,"


"Ada apa?" tanyaku padanya yang hanya memperlihatkan kepalaku saja.


Eitaro terlihat tidak senang dan dia berkata jika dirinya tidak suka hanya melihat kepala saja sebab dia merasa bicara dengan hantu kepala. Mendengar perkataan Eitaro yang menyebutku seperti hantu kepala membuatku kesal dan akhirnya aku membuka pintu kamar dengan lebar.


"Cepat katakan padaku kau mau apa?" tanyaku dengan nada kesal.


Eitaro hanya diam dan terus menatapku bukannya mengatakan apa yang ingin dia sampaikan padaku. Mengapa dia menjadi diam seperti itu dan terus menatap ke arahku.


'Sial mengapa aku lupa jika saat ini hanya mengenakan sehelai handuk saja,'  batinku.

__ADS_1


Dengan cepat aku menutup pintu kamar tetapi kaki Eitaro menghalangi pintu sehingga pintu kamarku tidak bisa tertutup rapat. Dia mendorong pintu kamar sangat keras sehingga aku terdorong ke belakang.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" tanyaku padanya dengan sangat kesal.


"Mengapa kau malu? Bukankah aku sering melihatmu dalam keadaan seperti ini sejak dulu," ucapnya yang membuatku semakin kesal saja.


Dia ini bodoh atau tolol mengatakan semua itu dengan datarnya, dulu itu tidak masalah karena dia masih kecil dan sekarang Eitaro sudah tumbuh menjadi seorang pria dewasa dan bahkan tingginya pun sudah berada di atasku.


Aku menatap ke arahnya yang masih belum mengatakan apa yang ingin disampaikan padaku, tanpa memedulikan dirinya aku berjalan melewatinya menuju almari untuk mengambil pakaian setelah itu aku kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk mengenakan pakaian yang sudah aku bawa tadi.


"Dasar bodoh mengapa dia seperti itu,"


Aku terus menggerutukan hal yang sama dan aku benar-banar tidak paham dengan sikap Eitaro yang terkadang seperti dulu tetapi mendadak berubah menjadi pria yang dingin. Dia sama sekali berbeda dengan ayah dan ibunya.


Setelah selesai mengenakan pakaian aku pun berjalan ke laur dari kamar mandi dan masih Eitaro pun masih berada di dalam kamar. Dia dengan santainya duduk di atas tempat tidurku sembari memainkan ponselnya.


"Katakan apa yang ingin kau sampaikan padaku," tukasku padanya agar dia bisa cepat mengatakannya.


Eitaro beranjak dan berjalan mendekat ke arahku lalu dia berkata, "Ibu dan ayah tidak akan kembali ke rumah dalam sebulan."


"Apa? Mengapa ibu tidak mengatakannya padaku?" timpalku yang tidak tahu sama sekali ayah dan ibu pergi selama itu.


"Tidak tahu ... kau tanyakan saja pada mereka," jawab Eitaro lalu dia berjalan ke luar dari kamarku.


Sungguh menyebalkan mengapa harus seperti ini dan ibu juga tidak mengatakan apa-apa padaku. Dengan cepat aku berjalan mendekat ke arah tas dan mengambil ponsel lalu aku menghubungi ibu dan bertanya mengapa pergi tanpa memberitahukan semuanya padaku.


Terdengar suara nada sambung tetapi ibu tidak mengangkatnya, "Ada apa sebenarnya?"

__ADS_1


 


 


__ADS_2