Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Hidup dan Mati


__ADS_3

Sudah dua jam lebih Riyu masih berada di ruang operasi. Aku sangat khawatir dengan keselamatannya, ini benar-benar membuatku tidak tenang. Di saat aku bertemu dengan orang yang tahu tentang ayah, mengapa pula hal ini terjadi.


Apakah luka tembak yang dideritanya sangat parah sehingga begitu lama sekali proses operasinya. Lampu ruang operasi padam, diri tandanya operasi sudah selesai.


Seorang perawat keluar dari ruang operasi, dia terlihat begitu tergesa-gesa. Ada apa? Apa yang sudah terjadi? Mengapa dia terlihat seperti itu.


“Ada apa?!” tanyaku pada perawat itu.


“Pasien dalam keadaan kritis, sekarang dia membutuhkan transfusi darah! Sedangkan stok darah menipis,” jawabnya dengan nada khawatir.


“Ambil darahku!” ucapanku padanya.


Perawat itu langsung membawaku ke sebuah ruangan untuk mengecek golongan darahku apakah cocok untuk Riyu. Aku harap darahku bisa membantunya. Aku tidak ingin ada orang lain lagi yang mati karena aku.


“Golongan darah Anda cocok,” Suster berkata lalu memulai mengambil darahku.


Kuharap ini bisa menolongnya, Tuhan aku mohon jangan biarkan orang lain berkorban nyawa untukku. Aku tidak sanggup lagi melihat orang tidak bersalah tewas karena aku.


Setelah beberapa saat suster mengambil darahku, dia kembali masuk ke ruang operasi. Tubuhku terasa lemas, mungkin semua ini adalah efek transfusi darah tadi.


Aku harus kuat, tidak boleh tumbang karena ini. Dia masih berjuang dalam hidup dan mati, maka aku tidak boleh menjadi wanita yang sangat lemah.


Hanya bisa berdoa dan pasrah dengan semuanya, itulah yang aku lakukan demi Riyu. Ponselku berdering, aku mengambil ponsel dari dalam tas. Kebetulan Kenta memberikan tasku sebelum memasuki ambulans.


Ada sebuah pesan masuk, itu dari Riyoichi. Dia menanyakan apakah semuanya sudah siap, rencana untuk mencuri chip dari tangan Riyu.


Aku kembali berpikir apakah aku akan melakukan hal ini. Padahal Riyu sedang dalam perjuangan hidup dan mati. Semua itu karena melindungiku dari peluru musuh, apakah aku sanggup melakukannya.


Ponselku kembali berdering sekarang dia menghubungi aku. Entah mengapa aku tidak ingin bicara dengannya saat ini, dia pasti akan bertanya padaku tentang rencananya.


Dia masih bersikeras menghubungi aku, meski tidak kuangkat dan itu sangat mengganggu. Akhirnya aku mengangkat teleponnya darinya.


Riyoichi langsung bicara, terdengar suaranya sedikit kesal. Mungkin dia kesal karena aku tidak membalas pesan dan mengangkat teleponnya.

__ADS_1


Aku hanya diam, mendengar semua perkataannya. Dia terus bertanya apakah aku benar-benar serius dengan apa yang sudah direncanakan. Riyoichi pun mengingatkan aku akan semua informasi tentang ayah.


Semua ini membuatku semakin bingung, sebenarnya siapa yang benar dan siapa yang berbohong. Kedua pria yang mendekatiku sama-sama kenal dengan ayahku


 “Kita bicarakan nanti!” Aku berkata pada Riyoichi lalu menutup sambungan telepon.


Seorang dokter keluar, aku langsung mendekat pada dokter itu. “Bagaimana dengan, Riyu?!


“Tuan Riyu, dalam keadaan kritis—jika bisa menghadapi malam ini dan besok pagi tersadar maka dia akan selama!” jawab dokter lalu pergi meninggalkan aku.


Tidak berapa lama Riyu dibawa keluar dari ruang operasi, dia akan dibawa ke ruang rawat dengan peralatan yang masih menempel di tubuhnya.


Aku mengikuti para perawat yang mendorong Riyu menuju sebuah ruangan. Untung saja aku masih bisa masuk dalam ruangan itu.


“Jika Nona membutuhkan sesuatu bisa menekan tombol yang berada di atas tempat tidur.” Seorang perawat mengatakan itu lalu pergi meninggalkan ruangan.


Betapa bodohnya dia, mengapa juga mengorbankan tubuhnya untuk melindungi aku. Aku ini bukan wanitanya ataupun saudarinya. Ayah. Benar aku teringat akan kata terakhir dia.


Sepertinya aku tidak bisa pulang, lebih baik aku memberi kabar pada Kimiko. Aku mengambil ponsel yang berada di dalam tas.


Ada pesan dari Eitaro, dia mengatakan jika malam ini tidak akan pulang ke rumah. Karena ada urusan yang harus diselesaikan.


Untunglah dia tidak kembali ke rumah, sehingga Kimiko tidak perlu memberikan alasan tentangku yang tidak pulang ke rumah.


Aku duduk tepat di sampingnya, entah mengapa hatiku tidak ingin jauh-jauh darinya untuk saat ini. Mungkin karena rasa bersalahku atas semua yang sudah terjadi.


***


Ada yang menyentuh kepalaku, aku membuka mataku. Rupanya aku tertidur sambil duduk dan kepalaku berada di atas ranjang tepat di samping tangan Riyu.


Apakah ini tangan Riyu, aku langsung mengubah posisiku. Ternyata bukan Riyu, melainkan nyonya Yuna. Dia tersenyum melihatku, lalu mengatakan padaku untuk beristirahat di ranjang sebelah.


“Istirahatlah di sana!” perintahnya pada sembari menunjukkan arah ranjang sebelah kiri.

__ADS_1


“Tidak perlu, aku sudah cukup beristirahat.” Aku menjawab dengan lembut padanya.


Aku kembali melihat Riyu, dia belum juga terbangun. Apakah ini tidak apa-apa? Mengapa dia belum juga bangun. Bukankah ini sudah pagi?


Seorang dokter masuk dengan dua orang perawat, dia memeriksa keadaan Riyu. Dokter mengatakan jika semuanya membaik, tinggal menunggu kesadaran dari Riyu.


“Terima kasih Dokter,” ucap nyonya Yuna sembari berjalan mengikuti dokter.


Mungkin nyonya Yuna ingin bertanya lebih lanjut tentang keadaan Riyu. Aku tidak bisa berkata apa-apa saat ini, aku takut nyonya Yuna akan menyalahkan aku atas semua ini jika mengetahui semuanya.


“Bangunlah—kau masih berhutang penjelasan padaku!” ucapku pada Riyu guna menyadarkannya.


“Dia pasti akan sadar, kau tunggulah sebentar lagi, Sayang.” Suara yang lembut mengatakan itu padaku.


Aku tidak menyadari kedatangan nyonya Yuna, aku pikir dia masih berbicara dengan dokter tentang keadaan Riyu.


“Maafkan aku, semua salahku jika saja...,” kataku pada nyonya Yuna.


“Ini buka salahmu, Sayang! Itu semua adalah salah para penjahat itu! Biarkan Kenta yang mengurus mereka semua!” jawab nyonya Yuna padaku dengan lembut.


Apakah nyonya Yuna tahu tentang semua itu, aku pikir dia akan sangat marah jika mengetahui akulah penyebab putranya terluka.


Terdengar suara lemah dari arah Riyu, aku langsung melihat ke arahnya. Aku berdiri tepat di sampingnya, apakah yang aku dengar tadi salah karena dia masih memejamkan kedua matanya.


Aku memegang tangannya, tidak begitu lama jari-jemarinya mulai bergerak perlahan-lahan. Dengan cepat aku menggenggamnya agar dia tahu jika ada orang-orang yang menunggunya untuk tersadar.


“Riyu...,” Aku memanggilnya dengan lirih.


Dia masih belum merespons apa yang aku lakukan tetapi aku tidak menyerah dan terus memanggilnya sembari menggenggam tangannya.


Kedua matanya terbuka perlahan, aku sungguh senang akhirnya dia terbangun. Nyonya Yuna pun terlihat bahagia dia berlari keluar untuk memanggil dokter.


“Syukurlah,” ucapku dengan napas lega.

__ADS_1


Dokter pun tiba, dia langsung memeriksa keadaan Riyu dengan saksama. Terlihat senyum lega dari dokter, mungkin dia pun bisa tenang sekarang karena Riyu sudah tersadarkan.


__ADS_2