Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Terpojok


__ADS_3

Dor!


Terdengar lagi suara tembakkan, aku langsung mencari arah tembakkan itu. Mataku tertuju pada Riyoichi, rupanya dia yang menembakkan senjata yang ada di tangannya.


Riyoichi menyeringai, dia berjalan mendekat padaku. Terlihat rasa kesal dalam sorot matanya tetapi ada sesuatu yang berbeda darinya. Namun, entah apa itu.


“Aku semakin menginginkan dirimu, Yuki Arsalan!” ungkapnya padaku dengan senyum yang memuakkan.


“Dan kau semakin memuakkan, Riyoichi!” balasku padanya.


Dia terkekeh lalu menyuruh semua anak buahnya untuk mengelilingiku dan Kimiko. Tenaga dia adalah membuat aku semakin terpojok.


Yang diinginkan oleh Riyoichi adalah aku bukan Kimiko. Apa aku coba saja meminta padanya untuk melepaskan Kimiko dan aku akan bertarung hingga darah titik penghabisan.


“Lepaskan Kimiko! Yang kau inginkan adalah aku bukan?!” imbuhku padanya.


“Apa kau bodoh Yuki? Kau mau mengusir aku hah?!” tukas Kimiko dengan nada kesal.


Dia bersikeras tidak ingin meninggalkan diriku, sudah cukup baginya kemarin tidak bisa menyelamatkan aku. Kimiko akan sangat marah jika aku meneruskan rencanaku.


“Apa kau tidak menyesal jika mati bersamaku di sini?” Aku kembali bertanya padanya.


“Cih ... Siapa yang ingin mati bersamamu di sini! Aku akan keluar hidup-hidup bersamamu dan menemukan ayahmu!” timpalnya dengan nada menyombong.


Riyoichi terkekeh kembali, dia mengatakan jika dirinya tidak akan melepaskan aku dan juga Kimiko. Dia ingin melihat penderitaan Kimiko karena baginya penderitaan Kimiko adalah penderitaanku.


Benar-benar pria tidak waras, dia mengatakan jika dirinya sangat mencintaiku. Namun, dia menginginkan aku menderita dengan penderitaan yang dirasakan oleh Kimiko.


Dia memberikan aba-aba pada semua anak buahnya, serentak semua anak buahnya terus berjalan mendekat. Sehingga aku benar-benar terpojok sekarang.


Aku harus berpikir dengan cepat, mencari celah untuk bisa lari dari tempat ini. Karena masih ada hal yang ingin aku lakukan yaitu bertemu dengan ayah.


“Tidak kusangkak seorang Riyoichi bisa memojokkan dua orang wanita dengan menggunakan anak buahnya!”


Aku mencari suara orang yang bicara, mataku tertuju pada seorang wanita yang berjalan mendekat. Dia bersama seorang pria paruh baya, mereka tak lain adalah Eriko dan paman Daichi.


Riyoichi menatap Eriko, terlihat dia sangat kesal. Mungkin dia merasa sudah tertipu dengan Eriko karena menyelamatkan aku dari cengkeramannya kemarin.

__ADS_1


“Rupanya kau Eriko—aku pikir kau tidak akan berani lagi muncul di hadapanku. Setelah pengkhianatan yang kau lakukan padaku!” imbuh Riyoichi.


Tanpa membalas kata yang diucapkan oleh Riyoichi. Eriko dan paman Daichi langsung menyerang semua anak buah yang sedang memojokkan aku.


 Jika dilihat dari perkelahian mereka, aku yakin sebentar lagi para musuh akan bisa dilumpuhkan. Aku juga tidak mau ketinggalan dalam melumpuhkan para musuh.


“Kau istirahatlah sejenak!” perintahku pada Kimiko. Sebab sekarang sudah ada paman Daichi dan Eriko.


Brugggg!


Satu per satu musuh tersungkur di atas lantai, aku melihat Riyoichi masih berdiri dengan tegap dengan senyum khasnya. Mengapa dia tidak merasa takut atau kesal karena semua anak buahnya sudah berhasil dilumpuhkan.


“Tidak sia-sia Kenzo Arsalan menjadikanmu asistennya. Dan kau juga berhasil mendidik putrimu menjadi sehebat ini!” kata Riyoichi dengan nada santainya.


Dia mengatakan tentang ayah lagi, apakah Riyoichi memang benar-benar mengetahui di mana keberadaan ayahku. Jika memang benar, mengapa dia bersikap kejam seperti ini padaku.


Riyoichi terus saja berkata tentang ayah tetapi dia tidak mengatakan di mana keberadaan ayah. Ada satu kata yang membuat paman Daichi sangat kesal dengannya.


Bug!


Bug!


Brugggg!


Riyoichi terjatuh setelah mendapatkan pukulan yang sangat kuat dari paman Daichi. Saat paman hendak memukulinya lagi. Aku menghentikannya.


“Hentikan, Paman! Ada yang ingin aku tanyakan padanya,” ucapku pada paman.


“Baiklah. Namun, jika aku mendengar lagi ancaman dari mulut kotornya itu ... Nona jangan menghalangi saya!” balas paman Daichi.


Aku berjalan mendekat pada Riyoichi, kupandangi wajahnya yang sudah ada lebam akibat pukulan paman Daichi. Namun, entah mengapa dia tidak memperlihatkan rasa takut.


“Katakan di mana ayahku?!” tanyaku padanya dengan sedikit penekanan.


“Menikah denganku dan aku akan mengatakan di mana ayahmu,” jawabnya sembari tersenyum.


Bug!

__ADS_1


Aku memukulnya tepat di perutnya, dia meringis kesakitan. Tangannya menyentuh perut yang baru saja aku pukul tadi. Namun, dia kembali menyeringai dan itu membuatku merasa kesal.


“Pukulanmu itu sangat manis sehingga membuatku semakin menginginkanmu!” imbuhnya.


“Kau membuatku muak Riyoichi—cepat katakan di mana ayahku!” pekikku sembari menarik kerah bajunya.


Dia terkekeh tangannya mulai menyergapku dan aku masuk dalam dekapannya. “Kau akan menjadi milikku dan tidak ada pria yang bisa memilikimu!”


Aku sungguh muak dengan semua kata yang keluar dari bibirnya itu. Sampai mati pun aku tidak akan pernah menjadi miliknya.


Bug!


Dengan sekuat tenaga aku menyikutnya, dia langsung melepaskan dekapannya. Dia meringis tetapi tidak lama kemudian kembali menyeringai.


Riyoichi mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Menekan sebuah tombol dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi.


Tidak begitu lama terdengar suara langkah kaki, sepertinya bukan satu atau dua orang yang mendekat. Mereka tiba dengan sangat cepat, jumlah mereka lumayan banyak.


“Hahahaha ... Apakah kau menyukainya, Sayang?” tanya Riyoichi dengan nada yang begitu memuakkan.


Aku melangkah mundur mendekati paman Daichi dan yang lainnya. Dan aku kembali terpojok oleh semua anak buahnya.


“Paman, apakah kau memberikan lokasi ini pada semua anak buahmu?” Aku bertanya pada paman.


Paman Daichi mengangguk, “Saya memberitahukan pada semua anak buah. Entah apa yang terjadi dengan mereka, mengapa belum tiba juga!”


Apa sudah terjadi sesuatu dengan mereka, sehingga mereka belum tiba di sini. Aku tidak mengira jika Riyoichi akan mengeluarkan anak buahnya di detik terakhir seperti ini. Dan aku sudah meremehkannya tadi.


“Bagaimana, Sayang? Apakah kau akan menyerah dan menikah denganku?!” tanya Riyoichi dengan tenangnya.


“Cih ... Jangan harap! Sampai aku mati pun tidak akan menikah dengan pria busuk seperti kau!” balasku pada dia.


Dia terkekeh-kekeh lalu mengatakan jika hanya dirinyalah yang sangat tepat sebagai pendamping hidupku hingga tua nanti. Riyoichi pun mengatakan jika dirinya akan membahagiakan diriku.


Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan olehnya. Karena dari sikap yang diperlihatkan beberapa hari ini, membuatku muak dan tidak ingin berurusan dengannya.


“Sudah cukup! Aku sudah muak mendengar kau bicara dan mengatakan jika kau sangat mencintaiku! Semua itu hanya siasatmu sebab yang kau perlihatkan padaku bukan cinta melainkan hawa nafsu kau saja!” ungkapku padanya untuk menghentikan semua omong kosongnya.

__ADS_1


“Kau ... Begitu berani, Sayang!” katanya dengan nada penekanan lalu menodongkan senjatanya padaku.


Apa yang akan dilakukan olehnya? Apakah dia akan menembak diriku?


__ADS_2