
Pesta kemarin membuatku sangat lelah, hingga aku memutuskan untuk beristirahat beberapa hari di rumah. Untung saja ada Kimiko yang bisa mengurus semua pekerjaanku selama aku tidak masuk kerja.
Sekarang Eitaro sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya karena perusahaan yang sudah selesai direnovasi. Pergerakan paman Asamu pun sudah mulai terlihat.
Aku penasaran bagaimana dengan paman Daichi, apakah paman sudah menemukan keberadaan ayah. Mengapa sampai detik ini belum ada kabar tentangnya.
Lebih baik aku menghubunginya saja, mungkin saat ini sudah ada kabar tentang keberadaan ayah. Kenapa ponselnya tidak aktif? Apakah sudah terjadi sesuatu padanya sehingga ponselnya tidak aktif.
Terdengar suara bel, apakah ada yang bertamu. Perasaan aku tidak memiliki janji untuk bertemu dengan siapa pun. Mungkin ada baiknya aku melihat siapa yang ada di luar.
Saat melihat di layar pemantau, seorang pria sedang berdiri membelakangi kamera. Siapa dia? Musuh atau kawan? Mengapa dia membelakangi kamera sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya.
Dia berbalik lalu menekan tombol bel rumah, rupanya dia adalah pria itu. Untuk apa dia ke rumahku? Dari mana dia tahu tentang rumah ini. Aku membuka pintu rumah, dia terlihat ramah kali ini. Tidak ada senyum mesum dari wajahnya.
“Dari mana Anda tahu rumah saya?!” tanyaku padanya tanpa basa-basi.
“Nona, apakah Anda tidak akan mempersilahkan saya untuk masuk terlebih dahulu?” Dia balik bertanya padaku.
Aku menghalangi langkahnya yang hendak memasuki rumah, dia seperti tidak memiliki rasa sopan santun. Dengan cepat aku menghalangi niatnya dengan mengatakan jika dia tidak aku izinkan untuk masuk.
“Apa kau serius?” bisiknya padaku.
Dengan cepat aku mendorong tubuhnya tetapi tubuhnya tidak sedikit pun goyah. Rupanya dia hebat juga, mungkin selama ini dia menyembunyikan kekuatannya.
Dia berjalan dengan santai masuk ke rumah lalu duduk di atas sofa. Tidak terlihat sedikit rasa canggung karena memasuki rumah orang. Sungguh pria tidak tahu diri, aku pun berjalan mendekatinya.
“Untuk apa Anda datang kemari?!” tanyaku dengan dingin.
“Kau bisa memanggilku Riyu,” ucapnya.
Aku memicingkan mata, siapa juga yang bertanya tentang namanya. Sungguh ya—orang ini tidak tahu malu, aku pikir dia orang yang sopan. Ternyata aku salah lagi, bertambahlah satu sifatnya yang tidak aku sukai. Yaitu sikap mesumnya dan sekarang tidak tahu malu.
__ADS_1
Dengan menghela napas lalu aku duduk di atas sofa, lebih baik aku mendengarkan apa yang ingin dikatakan olehnya. Biar bisa cepat selesai dan dia bisa pergi dari rumah ini.
“Ibu mengundangmu untuk makan malam,” ucapnya padaku.
“Kapan?” tanyaku.
Riyu mengatakan jika malam ini makan malam tersebut, dia mulai bicara dengan seenaknya lagi padaku. Dia juga mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang.
Senyum lembut muncul di bibirnya, lalu dia memberikan ponselnya padaku. Aku membelalakkan mata, lalu memberi tanda padanya siapa yang ada di jaringan telepon.
Dia menyebutkan nama ibu dengan tidak mengeluarkan suara, aku pun mengambil ponselnya lalu berbicara dengan nyonya Yuna. Dalam pembicaraan ini, memang benar beliau mengundangku untuk makan malam hari ini.
Nyonya Yuna dengan lembut meminta aku untuk memenuhi undangannya. Hingga aku tidak bisa menolak keinginannya kali ini. Setelah mendengar jawaban dariku, beliau menutup sambungan teleponnya.
Aku pun mengembalikan ponsel Riyu, dia terlihat senang dengan apa yang aku katakan tadi pada ibunya. Dia mengatakan mungkin hanya ibu yang bisa membujukku untuk menerima undangan makan malam.
“Sudah beres, 'kan? Kalau begitu sebaiknya kau pergi!” aku berkata padanya sembari mempersilakannya untuk segera pergi dari rumah.
Ponselku bergetar, aku mengambil ponsel yang tepat berada di atas meja. Melihat pesan yang masuk, itu adalah pesan dari Kimiko. Dia mengatakan akan pulang terlambat, sehingga dia menyuruhku untuk makan malam terlebih dahulu.
Tidak begitu lama Eitaro pun mengirimkan pesan padaku, dia juga mengatakan akan pulang terlambat karena ada rapat yang harus diselesaikan. Sehingga menyuruhku untuk makan malam terlebih dahulu.
Jika di pikir-pikir mengapa mereka berdua seperti pergi berdua tetapi itu tidak mungkin. Ahh biarkan saja, mereka sudah dewasa dan bisa menentukan apa yang baik dan tidak baik untuk mereka berdua.
Sebelum pergi memenuhi undangan nyonya Yuna, aku akan istirahat sejenak lalu bersiap. Niat hati ingin istirahat tetapi tidak bisa sebab aku masih terpikirkan oleh paman Daichi yang sangat sulit dihubungi.
Apakah aku harus mencari tahu keberadaan mereka, atau aku harus meminta bantuan Lexi untuk mencari keberadaannya. Iya jika besok tidak ada kabar dari paman Daichi, aku akan meminta bantuan Lexi atau Lexa.
Hanya mereka berdua yang memiliki kemampuan untuk melacak keberadaan seseorang. Terlebih lagi Lexi yang memiliki kemampuan di bidang IT.
Sebenarnya aku tidak ingin merepotkan mereka berdua tetapi aku khawatir dengan keadaan paman Daichi. Dan aku akan meminta mereka untuk merahasiakan semua ini dari ibu Lili. Karena aku tidak ingin membuatnya khawatir dengan masalahku.
__ADS_1
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, lebih baik aku bersiap untuk makan malam bersama nyonya Yuna. Ok. Semua sudah selesai, kulihat jam pun sudah saatnya aku jalan.
Saat aku membuka pintu, sudah ada seseorang yang menungguku di luar. Dia tersenyum lalu membungkuk, aku kenal dengannya. Bukankah dia adalah orang yang aku temui di Sapporo, yang saat itu dia dikejar-kejar oleh para penjahat.
“Selamat sore, Nona—mari.” Dia berkata padaku lalu mempersilakan untuk masuk kedalam mobil.
Saat dalam perjalanan dia mengatakan rasa terima kasih karena sudah membantunya saat di Sapporo dan juga sudah menyelamatkan nyonya Yuna.
Dia berkata, saat kejadian itu baik dirinya atau semua orang kepercayaan Riyu sedang dalam misi. Sehingga tidak bisa melindungi apa yang harus dilindungi.
Aku bertanya-tanya itu kemarin, saat Riyu tidak membawa asistennya atau pengawal yang tangguh saat itu. Rupanya semua pengawalnya sedang menjalankan misi.
“Apa misi kalian sehingga meninggalkan keselamatan tuan kalian, tanpa penjagaan yang ketat?!” tanyaku padanya.
Pria itu berkata, “Misi kami—menghancurkan semua kelompok penyokong penyerangan kemarin.”
Sepertinya pria ini bukan pria lemah yang aku temui di Sapporo, entah mengapa dia yang sekarang terlihat lebih bisa melindungi dirinya sendiri atau orang lain.
“Kau terlihat berbeda?!” Aku bertanya padanya karena rasa penasaranku cukup kuat.
“Anda memang luar biasa—bisa menilai dengan cepat. Waktu di Sapporo ada yang meracuni saya, hingga saya tidak bisa membela diri saya sendiri dan hanya bisa berlari untuk melindungi hal terpenting.” Jawabnya.
Mobil terhenti, aku melihat keluar rupanya sudah tiba di sebuah rumah yang tidak aku kenal. Dia mengatakan jika rumah ini adalah rumah Riyu. Dia pun keluar dari mobil lalu membuka pintu mobil seraya mempersilakan diriku untuk keluar.
Aku pun keluar dari dalam mobil, rumah ini mengapa membuatku merasa rindu akan ayah Arata dan ibu Lili. Apakah ini hanya perasaanku saja.
Bersambung...
*Jangan lupa ya beri like, komen, jadikan favorit dan beri bintang lima ya😉
Jangan lupa mampir juga di cerita macan yang satu lagi ya*, "WANITA BAYARAN"
__ADS_1