Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Pertemuan


__ADS_3

Riyoichi sudah memberikan alamat apartemen, di mana apartemen tersebut menjadi tempat pertemuan kami. Aku mengajak Kimiko untuk bertemu dengannya.


Aku tiba di apartemen, kutekan tombol di samping pintu. Tidak berapa lama pintu terbuka dan terlihatlah Riyoichi, dia terkejut dengan Kimiko yang berada di belakangku.


“Mengapa kau mengajaknya?!” tanya Riyoichi padaku.


“Itu hak aku karena dia akan selalu menjadi partner terbaikku!” jawabku dengan tegas padanya.


“Apa kau takut padaku?!” Kimiko bertanya dengan nada dingin.


“Untuk apa aku takut? Masuklah!” timpal Riyoichi sembari membuka pintu apartemennya selebar mungkin.


Aku pun masuk diikuti oleh Kimiko, kulihat apartemennya sangat rapi sepertinya dia sangat jarang menempatinya. Apa mungkin apartemen ini hanya digunakan untuk pertemuan kami saja. Riyoichi mempersilakan aku untuk duduk, aku duduk di atas sofa dan Kimiko duduk tepat di sampingku.


“Kita akan mulai menjalankan misi—kuharap kalian berdua bisa menjalankan misi dengan sukses!” ucap Riyoichi dengan serius.


Dari apa yang dikatakan olehnya aku bisa menilai jika hanya aku dan Kimiko yang menjalankan misi ini. Sedangkan dia sama sekali tidak ikut campur dalam pergerakan kami.


“Hanya kami? Apa kau tidak akan ikut bersama denganku untuk mengambilnya?!” Aku bertanya padanya.


“Tidak—hanya kalian berdua saja yang pergi,” jawabnya dengan santai.


Mengapa aku merasa ada yang janggal dengan dirinya, jika seperti ini aku merasa ada yang tidak bisa kupercaya darinya. Namun, dia dengan cepat bisa mengubah semua pandanganku tentangnya.


Tidak. Kali ini tidak akan aku biarkan dia mengelabuiku dengan sikapnya itu. Akan aku ikuti semua yang sudah direncanakan olehnya dan yang pasti sebelum chip itu sampai ditangannya aku akan melihat isinya terlebih dahulu.


Riyoichi mengatakan semua rencana yang harus aku dan Kimiko jalankan untuk memasuki kediaman Riyu. Sepertinya dia sangat mengenal betul seluk-beluk rumah Riyu Ozora. Sekarang aku yakin benar jika mereka berdua memang memiliki hubungan dan itu akan aku ketahui.


“Semua rencana yang aku katakan tadi sudah sempurna, aku harap kalian bisa dengan sukses mengambil chip itu dari tangan Riyu Ozora!” kata Riyoichi sembari menatapku.


Terdengar lantunan musik dari ponsel Kimiko, dia pamit untuk mengangkat telepon lalu beranjak dan berjalan menjauhi kami. Aku kembali menatap Riyoichi, seraya bertanya apa lagi yang harus kulakukan.

__ADS_1


“Apa?” tanyanya padaku dengan senyumnya yang terlihat menggoda.


Dia kembali seperti beberapa hari ke belakang yang selalu berusaha menggodaku. Apakah ini sifatnya lalu mengapa jika ada orang lain di antara kami dia akan bersikap berbeda.


Tatapannya mulai membuatku sedikit kesal tetapi anehnya aku tidak bisa marah padanya. Beberapa saat kemudian Kimiko kembali duduk di sampingku, dia mengatakan jika dirinya harus pergi terlebih dahulu karena ada urusan yang harus diselesaikan olehnya.


“Apa perlu aku antar?” tanyaku padanya.


“Tidak. Kau lanjutkan saja bicara dengan Riyoichi, aku bertanya padamu nanti malam saat kau sudah kembali ke rumah!” timpalnya sembari mengambil tas lalu pergi meninggalkan aku di apartemen bersama dengan Riyoichi.


Riyoichi beranjak dari duduknya lalu dia berkata, “Apakah kau mau makan malam bersamaku?”


“Tidak perlu, jika tidak ada yang mau dibicarakan lagi sebaiknya aku kembali ke rumah.” Aku berkata sembari berdiri berniat untuk pergi dari apartemen.


Aku melangkahkan kaki menuju pintu tetapi langkahku terhenti tatkala ada yang memegang tanganku. Riyoichi menarik tanganku dengan sangat kuat sehingga aku terjerembap dalam pelukannya.


“Mengapa kau selalu melakukan ini hah? Lepaskan aku!” tukasku padanya.


Menghindar? Siapa yang menghindar darinya? Sebenarnya apa yang dia pikirkan tentang aku. Namun, yang dikatakan olehnya tidak semuanya salah karena aku belum tahu dengan pasti siapa sebenarnya dia.


“Lepaskan aku!” perintahku padanya.


Namun, dia tidak mau melepaskan aku—malahan dia semakin mengeratkan pelukannya. Sehingga tubuhku benar-benar sangat dekat dengannya, wajahnya semakin mendekat pada wajahku.


“Izinkan aku,” katanya dengan lembut.


Izin? Apa yang ingin dilakukan olehnya sehingga dia meminta izin padaku. Sebelum aku mengatakan penolakan, bibirnya sudah menempel pada bibirku. Mataku terbelalak saat dia benar-benar mengecup bibirku, aku berusaha untuk melepaskan kecupannya.


Apa yang aku lakukan untuk melepaskan diri darinya tidak berhasil, dia memegang kepala belakangku sehingga aku tidak bisa lepas darinya. Pria kurang ajar, aku tidak menyangka jika dia seperti ini dengan kuat aku menggigit bibirnya. Dan akhirnya dia melepaskan bibirnya dari bibirku, kulihat sedikit darah segar keluar dari bibirnya.


“Sudah kubilang lepaskan aku!” kataku dengan kata dingin lalu menginjak kakinya dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


Dia meringis kesakitan, aku merasa sangat senang jika melihat dia kesakitan seperti itu. Karena dia sudah berani sekali mencuri kecupanku, mungkin ini alasan dia tadi meminta izin padaku. Meski itu adalah meminta izin tetapi aku belum mengizinkannya dan dia langsung mengecupku.


“Kau membuatku kecewa Riyoichi!” tukasku lalu berjalan meninggalkan dirinya.


Aku sudah tidak peduli dengannya meski dia berteriak memanggil namaku dan memintaku untuk berhenti. Sudah cukup untuk hari ini,  aku sangat kesal dengan perbuatannya.


Saat berjalan menuju mobil aku mendapatkan sebuah pesan dari Riyu, dia memintaku untuk bertemu dengannya. Secara tidak langsung dia mengajak aku untuk makan malam.


Mengingat tentang chip itu, aku pun menyetujui ajakan makan malam. Dia mengatakan alamat yang harus aku tuju yaitu sebuah restoran yang cukup dibilang sangat privat.


Setelah mengatakan itu dia memutuskan sambungan teleponnya, aku pun bergegas menuju alamat yang diberikannya. Kunyalakan mesin mobil lalu menjalankannya meninggalkan area parkir apartemen Riyoichi.


Dalam perjalanan ponselku kembali berdering, aku memakai earphone lalu mengangkat telepon. Yang menghubungi adalah Eitaro, dia bertanya apakah aku akan makan malam di rumah atau tidak. Aku mengatakan padanya tidak akan makan malam di rumah, setelah itu kumatikan sambungan teleponnya.


Tibalah aku di restoran yang diajarkan oleh Riyu, aku melihat asistennya yang berdiri tegap di depan pintu sembari berbicara di telepon. Aku berjalan memasuki restoran, dia melihatku lalu menutup ponselnya.


“Selamat datang, Nona.” Dia menyapaku dengan penuh hormat.


“Tunjukkan jalannya!” ucapku padanya dan dia pun mempersilakan diriku untuk memasuki restoran.


Aku menyapu sekeliling ruangan tidak ada satu orang pun pengunjung yang duduk dan menikmati hidangan restoran ini. Apakah dia telah menyewa seluruh restoran ini sehingga tertutup bagi umum.


Kulihat dari kejauhan Riyu sedang duduk sembari membaca dokumen yang ada di tangannya. Dia melihat ke arahku lalu dengan perlahan dia menyimpan dokumen tersebut lalu menyerahkannya pada seorang pria yang berdiri tegap di belakangnya.


Dia berdiri lalu mempersilakan aku untuk duduk tepat di depannya, sepertinya suasana hatinya sedang baik dan itu terlihat jelas dari wajahnya. Aku hanya duduk menanti apa yang akan dikatakan olehnya.


Dan teringat akan chip yang selalu ada di jarinya, aku melihat pada jari tangannya terdapat satu cincin yang dipakai oleh. Apa itu adalah cincin yang berisikan chip yang diinginkan oleh Riyoichi?


_________________________________________


Sampai jumpa di bab berikutnya, jangan lupa like, komen, kasi bintang dan masukkan novel ini ke rak buku kalian ya hehe...kalo vote macan ga nolak juga xixixi.

__ADS_1


__ADS_2