
Aku terbangun di pagi hari dan perutku terasa lapar sebab semalam aku menolak untuk makan malam serta mengunci pintu kamar agar tidak ada yang masuk ke dalam kamar. Dan akhirnya pagi ini aku kelaparan, lebih baik aku segera bersiap dan ke bawah untuk melihat menu sarapan pagi ini.
Apabila sedang lapar maka yang kulakukan akan semakin cepat dan semua persiapanku untuk pergi ke perusahaan ibu pun sudah selesai. Tanpa banyak berpikir lagi aku mengambil tas dan beberapa dokumen yang akan aku bawa ke perusahaan menuju ke ruang makan.
"Mudah-mudahan tidak ada, Eitaro,"
kuhentikan langkahku saat sudah tiba di ruang makan dan senyumku muncul tatkala tidak melihat pria yang menyebalkan itu. Dia masih kecil sudah menyebalkan seperti itu, ingin rasanya aku langsung menjewer telinganya itu.
"Nona, apakah akan disiapkan sekarang?" tanya seorang pelayan padaku.
"Iya siapkan sekarang," jawabku pada pelayan wanita itu.
Kulihat pelayan wanita itu pun menganggukkan kepalanya dan berjalan meninggalkan ruang makan dan tidak berapa lama dia pun kembali dengan membawa menu sarapan pagi ini. Pelayan itu pun menata rapi semua menu makanan dia atas meja dan aku merasa ada yang aneh mengapa menu makanan pagi ini begitu banyak.
"Apa kau tidak salah menyiapkan menu sarapan kali ini?" tanyaku pada pelayan wanita itu.
"Semuanya sesuai perintah, Tuan Eitaro," jawab pelayan wanita itu padaku lalu dia membungkukkan sedikit tubuhnya dan berjalan meninggalkan aku.
Aku mengerutkan dahi sejenak lalu menyantap apa yang sudah pelayan itu siapkan, meski perutku keroncongan tetapi aku pun tidak mungkin bisa menghabiskan semuanya. Setelah setelah selesai sarapan aku pun beranjak dan berjalan menuju mobil dan aku langsung menjalankan mobil untuk menuju ke perusahaan sebab ada meeting yang harus dilakukan.
Selama dalam perjalanan menuju perusahaan aku mendengar ponselku berdering terus-menerus tetapi aku memutuskan untuk mengabaikannya karena lebih baik menyetir dari pada mengangkat telepon itu. Tibalah aku di perusahaan, kuberikan kunci mobil pada seseorang dan orang itu memarkirkan mobilku.
Sedangkan aku langsung berjalan menuju ruang kerja dan dengan langkah cepat, ada beberapa hal yang belum aku selesaikan dan aku ingin semuanya selesai sebelum meeting di mulai. Kubuka pintu ruanganku dan aku berjalan menuju meja kerja lalu duduk di kursi yang biasa aku duduki untuk menyelesaikan semua pekerjaan.
__ADS_1
"Aku ingat sedari tadi ada yang menghubungiku," gumamku lalu mengambil ponsel yang ada di dalam tas.
Kulihat semua nama yang ada di layar ponsel adalah Riyu, rupanya dia sedari dari tadi menghubungi aku. Ada apa sebenarnya mengapa aku merasa ada hal yang penting ingin dia katakan padaku.
"Masuk," perintahku pada seseorang yang ada di balik pintu.
Kedua mataku melihat ke arah pintu untuk melihat siapa yang mengetuk pintu tuang kerjaku, terlihat Akina yang berjalan masuk dengan dokumen di tangannya. Dia berhenti tepat di depan meja kerjaku dan dia menyerahkan dokumen yang harus aku periksa.
"Apakah kau sudah tahu siapa pria tua itu?" tanyaku pada Akina.
"Orang yang saya perintahkan masih belum mengumpulkan semuanya dan dia mengatakan akan menyelesaikan secepatnya," Jawabnya.
Dan dia juga menjelaskan padaku jika orang yang sedang diselidiki saat ini adalah orang yang sangat licin dan menutupi semua kelemahannya dengan sangat rapat. Sehingga sedikit sulit untuk orang itu untuk mengumpulkan semua informasi itu.
Aku juga tidak ingin ada orang-orang baru yang muncul dalam hidupku dan mengatakan jika mereka mengenal ayahku. Aku tidak heran jika
mereka mengenal ayah Arata karena selama ini aku tinggal bersama dengannya. Sedangkan ayah Kenzo tidak semua mengenali aku sebagai putrinya.
"Kau lanjutkan pekerjaanmu dan ingatkan aku jika meeting-nya jika sudah di mulai," ujarku pada Akina.
Akina menganggukkan kepalanya dan dia pun pamit untuk ke luar dari ruang kerjaku. Dia pun berjalan meninggalkan ruang kerjaku dan aku kembali mengerjakan apa yang sudah ada di depan mataku.
Ponselku berdering dan aku melihat siapa yang menghubungi ternyata itu Riyu, dia hari ini sudah beberapa kali menghubungi aku. Dan akhirnya aku memutuskan untuk mengangkat teleponnya. Dia terdengar senang saat aku mengangkat telepon dan dia langsung mengatakan apa yang dia inginkan.
__ADS_1
"Untuk apa kau ingin bertemu denganku? Apakah semua yang kau sampaikan itu penting?" tanyaku pada Riyu yang ada di seberang telepon.
Riyu mengatakan jika hal yang ingin di sampaikan begitu penting sehingga ingin bertemu denganku tetapi hari ini aku tidak bisa bertemu dengannya. Namun, dia memaksa dan memintaku untuk bertemu dengannya setelah semua pekerjaanku selesai dan malam pun tidak masalah.
"Baiklah setelah pekerjaanku selesai aku akan menemuimu dan kuharap apa yang kau sampaikan memang penting," ucapku padanya yang ada di seberang telepon.
Aku memutuskan sambungan telepon setelah mengatakan semua itu, kusimpan kembali ponsel di atas meja dan kembali melanjutkan pekerjaanku. Kudengar suara Akina yang meminta izin masuk sembari mengetuk pintu ruang kerjaku dan aku pun menyuruhnya untuk masuk dengan melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku.
"Nona, sudah waktunya untuk meeting," ucapnya padaku.
"Oke," jawabku sembari berdiri lalu merapikan pakaianku dan berjalan ke luar dari ruangan kerja menuju ruang meeting.
Aku berharap jika meeting kali ini tidak ada lagi yang membuatku kesal sehingga harus bertindak dengan keras. Dan aku selalu teringat atas perkataan ayah Arata harus bertindak kejam untuk menghadapi orang-orang yang menginginkan kehancuran bagi kita.
Hingga saat ini aku selalu mengingat apa yang selalu di katakan oleh ayah Atara dan juga ibu Lili yang selalu membuatku bisa bertahan untuk menghadapi semua musuhku. Aku menghentikan langkahku di depan pintu ruang meeting. Akina membukakan pintu ruang meeting dan aku pun langsung berjalan ke dalamnya.
Terlihat orang-orang yang kemarin sudah membuatku kesal, aku juga melihat pria tua yang kemarin mengatakan jika dia mengenal ayah Kenzo. Dia menatapku dengan tajam dan aku tidak peduli dengan apa yang akan dia lakukan tetapi jika dia sudah mulai menyenggolku maka aku tidak akan tinggal diam.
"Kita mulai meeting-nya," ucapku pada semua yang ada di dalam ruangan setelah duduk di kursi yang biasa ibu duduki jika melakukan meeting di perusahaan ini.
Semua terdiam dan mulai mendengarkan apa yang di sampaikan oleh salah seorang karyawan perusahaan. Aku hanya memperhatikan apa yang dia katakan sembari melihat reaksi setiap orang yang ada di dalam.
"Aku tidak setuju dengan dia ... apakah kalian semua percaya pada wanita muda yang sama sekali tidak memiliki pengalam di dalam bisnis ini?" Pria tua itu berkata dengan nada merendahkan aku.
__ADS_1