Istri Bayangan Tuan Arogan

Istri Bayangan Tuan Arogan
Memutuskan


__ADS_3

Aroma alkohol menyeruak ke indera penciuman Shera seketika. Sepertinya Samuel baru saja menengak minuman haram sehingga mabuk berat.


Di saat Samuel tengah melabuhkan kecupan lembut di bibirnya, Shera membeku di tempat. Sebab untuk pertama kalinya ia berciuman dan yang pertama merasakan bibir munggilnya adalah Samuel, suaminya sendiri.


Semenit pun berlalu, bak di sihir, tanpa sadar Shera memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan yang dilakukan Samuel saat ini. Dalam hitungan detik, Shera merasa tubuhnya di angkat, seperti bridal style.


Samuel menggendongnya dan melangkahkan kaki ke sisi kanan. Pria itu mendorong pelan dinding dan menampakkan lorong kecil yang ternyata terhubung dengan kamarnya.


Bruk!


"Ahk!" Shera tersentak kala tubuhnya di lempar ke atas kasur. Secepat kilat membuka mata, melihat dirinya di kamar yang sangat luas dan mewah.


Shera tertegun sejenak lalu mata melebar kala melihat di hadapannya Samuel tengah membuka pakaian.


"Sam, kau mau apa?" Shera begitu ketakutan. Secepat kilat ia beringsut memundurkan tubuhnya sambil melawan rasa sakit dan perih yang menjalar di tubuhnya dari tadi.


Tak ada sahutan, Samuel malah menyeringai tipis lalu naik ke tempat tidur dan langsung menarik kaki Shera.


"Argh! Kau mau apa?" Shera menjerit histeris. Meskipun dia dan Samuel adalah pasangan suami istri tapi tetap saja, dia tak mau berhubungan dengan pria yang tidak mencintainya.


"Diam!" Samuel mengukung Shera di bawah tubuhnya sambil menatap lapar. Menahan gairah yang sudah meluap-lupa sedari tadi.


"Sam, aku mohon, sadarlah, bukankah kau tidak mau menyentuhku! Argh! Jangan!" Tubuh Shera bergetar kuat kala Samuel merobek paksa pakaiannya, dalam satu hentakan hingga tubuhnya sekarang hanya ditempeli pakaian dal4m saja.


Samuel mengindahkan perkataan Shera. Pria itu malah memperhatikan tubuh Shera sejenak lalu mengecup kuat dua bola menantang di hadapannya.


"Jangan! Ah..." teriak Shera menahan sensasi geli bercampur nikmat kala lidah Samuel menyentuh kulitnya.


"Sam, jangan! Sadarlah ini aku Shera..." Tanpa permisi cairan bening mengalir di pelupuk mata Shera saat dia sekarang sudah tel4njang bulat.


Shera terisak pelan, Samuel menghujam inti tubuhnya tiba-tiba. Yang terasa amat perih dan begitu sakit. Semakin meluruh air mata Shera.

__ADS_1


Samuel menggerakkan pinggulnya dengan sangat kasar dan brutal. Shera menjerit kesakitan saat Samuel mengigit bibirnya. Karena mabuk, pria itu melampiaskan kekesalannya pada Shera. Di dalam ruangan, suara hentakan dan rintihan terdengar sangat nyaring.


Setengah jam pun berlalu, Samuel menyemburkan lagi benihnya ke rahim Shera.


"Sam, hentikan..." ucap Shera dengan sangat lirih.


Dengan napas memburu Samuel menghentikan gerakan lalu menatap Shera. "Kenapa Anne? Kenapa harus berhenti?


Shera terhenyak, sebuah nama asing terlontar dari bibir Samuel seketika. Membuat dadanya remuk redam. Dia menebak jika itu adalah pacar Samuel.


"Anne?" Shera bergumam-gumam. Namun, dapat di dengar Samuel.


"Iya Baby, kenapa kau malah minta berhenti, bukankah kau biasanya menyukai aku seperti ini, ah sudahlah malam ini kita harus menghabiskan waktu bersama, sebelum kau pergi lagi keluar kota." Samuel kembali memaju-mundurkan pinggangnya.


Kini kedua mata Shera sudah digenangi air mata. Dia tak mampu berkat-kata lagi kala Samuel seakan mempertegas jikalau pria itu memiliki tambatan hati. Kali ini yang sakit bukannya hanya bagian tubuhnya saja tapi juga hatinya, bagai tertusuk duri.


Menjelang petang, hujan turun semakin deras, menemani Samuel dan Shera mengarungi lembah kenikmatan.


***


"Jadi... Kemarin bukan mimpi?" Shera berharap apa yang terjadi antara ia dan Samuel hanyalah mimpi saja. Akan tetapi semuanya nyata. Shera kembali menitihkan air matanya ketika sadar Samuel menyetubuhinya karena salah melihat orang dan mengira dirinya adalah Anne.


"Nyonya." Dimitri menyelenong masuk ke dalam kamar bersama dua maid.


Shera kelabakan. Dengan cepat menarik lagi selimut sampai ke pundak. "Iya?" ucapnya sambil menghapus air mata.


"Mister sudah di kantor. Dia menitipkan pesan pada saya, menyuruh anda untuk keluar dari kamarnya secepat mungkin, dan dia mengatakan kalau kalau dia kemarin jadi beranggapan bahwa anda adalah kekasihnya, jadi tak usah anda pikirkan sama sekali melupakan semuanya tentang kemarin," kata Dimitri panjang lebar tanpa ekspresi sedikitpun.


Melupakan.


Shera tersenyum getir. Setelah merengut mahkotanya kemarin, Samuel malah meminta padanya untuk melupakan semuanya. Omong kosong sekali, pikir Shera sesaat.

__ADS_1


"Baiklah."


"Iya Nyonya, kami harus membersihkan kamar sekarang, Mister tak mau sprei dan tempat tidurnya bekas Nyonya," ucap Dimitri memperingatkan Shera agar lekas turun dari tempat tidur.


"Hm, terserah, tenanglah, aku akan keluar, agar Tuanmu itu tidak alergi dengan tubuhku ini." Dengan tertatih-tatih Shera turun dari ranjang sambil menahan perih di bawah sana.


Dimitri menaikan sebelah alis mata, sebab untuk pertama kalinya, ia mendengar suara Shera terkesan dingin dan ketus.


Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Shera keluar dari kamar melewati Dimitri dan dua maid tersebut.


"Ish, sok cantik banget, cuma istri bayangan aja belagu." Seorang maid berwajah bulat menatap sinis, melihat kepergian Shera.


"Iya kau benar." Maid yang satunya menimpali.


"Diam kalian! Kerjakan tugas kalian sekarang! Jangan banyak bicara!" Dimitri melototkan mata seketika pada kedua maid itu.


Keduanya tersenyum kikuk.


"Baik Tuan, maaf."


Dimitri melengoskan muka dan melangkah cepat menuju tempat tidur Samuel.


Sementara itu, di kamar Shera, tepatnya di kamar mandi, Shera mengguyur tubuhnya sambil tercenung memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.


"Aku harus bercerai dengan Samuel tapi sebelum aku berpisah dengannya, aku harus berkerja dan mengumpulkan uang yang banyak, ya benar itu."


Setelah bergelut dengan pikirannya barusan, Shera memutuskan untuk pergi dari Samuel. Dia tak sanggup menjalin hubungan bersama seseorang yang tidak membalas cintanya. Ditambahlagi sekarang dirinya sudah tidak memiliki orangtua, tak ada lagi tempatnya untuk bersandar. Maka dengan berat hati, Shera memilih berpisah setelah memiliki banyak uang, untuk dia bertahan hidup. Saat ini ia akan mempergunakan uang pemberiaan mertuanya dengan bijak.


Shera tak peduli. Jika Lily marah padanya nanti karena memutuskan bercerai dari Samuel. Shera tak mau terjebak hubungan yang tak sehat ini.


...----------------...

__ADS_1


Sembari menunggu up, mampir ke sini juga yuk 😍



__ADS_2