Istri Bayangan Tuan Arogan

Istri Bayangan Tuan Arogan
Keputusan


__ADS_3

Berjarak beberapa meter dari Samuel, Shera menatap lekat-lekat bunga pemberian Sean. Dia tak menyangka Sean mengungkapkan perasaannya, Sean mengatakan sejak pandangan pertama sudah jatuh cinta padanya dan akan mempersunting dirinya bulan depan, jika Shera mau menerimanya.


Shera nampak berpikir keras sambil memutar-mutar sebuket bunga mawar merah tersebut. Dia melirik sekilas ke arah pohon rindang, Shera jelas tahu di balik pohon itu, Samuel sedang memantaunya dari tadi. Selama kurang lebih seminggu ini, Shera mengetahui jika sedang diperhatikan Samuel. Namun, dia hanya diam saja dan tak mempermasalahkan hal tersebut. Malahan Shera merasa aman.


Kini, Shera amat penasaran, apa yang dilakukan Samuel di sana. Mengapa kepalanya tak menyembul lagi, apakah pria itu sudah pergi?


Bukannya memikirkan ungkapan cinta Sean, tapi Shera malah memikirkan Samuel saat ini.


"Shera, bagaimana, apa kau mau menerimaku? Kau tenang saja Shera, aku berjanji akan menjadikanmu ratu di hatiku."


Sean mengapai tangan Shera seketika dan menggenggamnya dengan erat. Dia menatap seksama bola mata wanita yang berhasil mencuri hatinya itu. Sedari tadi jantungnya berdetak kencang, kala menunggu jawaban dari Shera.

__ADS_1


Di ujung sana, Samuel mengintip sekali lagi, hatinya langsung terbakar cemburu, melihat pemandangan yang membuatnya murka. Kini ingin sekali dia berlarian ke arah Sean dan membogem pukulan di wajahnya. Akan tetapi, Samuel meredam amarahnya yang meluap-luap karena tak mau Shera marah. Dia semakin menyembulkan kepalanya. Namun, tiba-tiba tangannya tergores kaca yang menancap di tanah.


"Ahk..." Samuel meringis pelan kala beling tersebut mengiris jari tengahnya. Terlihat darah menetes perlahan dari tangannya. Secepat kilat ia menarik benda tajam tersebut dan melempar ke sembarang arah. Lalu menutup bekas lukanya itu dengan dasi. Tak mau sampai ketahuan, Samuel terpaksa bangkit berdiri dan melangkah pergi dari sana, hendak ke apartment, mengobati lukanya, karena darah tak kunjung berhenti.


Shera menarik napas dalam lalu menarik perlahan tangannya dari tangan Sean.


Perasaan Sean mulai merasa tak nyaman sekarang, saat Shera melepas genggaman tangannya. Namun, dia berusaha menepis pikiran negatifnya.


Hati Sean mencelos seketika. Napasnya tercekat, dunianya seakan berhenti berputar. Dia menatap nanar bola mata Shera.


"Maksudnya, Shera?" Sean masih berusaha berpikir positif.

__ADS_1


Sebelum menggerakkan bibirnya, Shera melempar senyum tipis. "Aku minta maaf, Sean. Aku tidak bisa menerimamu, aku tidak mencintaimu, aku hanya menganggapmu sebagai abangku saja, tidak lebih, lagipula sekarang aku hanya ingin fokus bersama anakku."


"Tapi, Shera. Setelah menikah, kita bisa saling mencintai, percayalah cinta akan datang seiring waktunya," ucap Sean, berusaha membujuk Shera untuk mengubah keputusannya.


Shera menggeleng cepat. "Tidak Sean, dulu aku juga percaya akan hal itu, tapi nyatanya sesuatu yang dipaksakan tidak akan baik pada akhirnya. Kau pria baik, Sean, aku yakin ada wanita yang pantas untukmu, tapi itu bukan aku."


"Shera, aku mohon..., pikirkan lah sekali lagi, apa karena mantan suamimu kau tak mau membuka hati untukku?" Sean bertanya sambil mengambil lagi tangan Shera.


"Bukan, bukan karena dia, mengertilah Sean, aku hanya mau fokus dengan anakku dulu."Shera tersenyum tipis lalu menarik kembali tangannya.


Sean terpaku di tempat. Sepertinya Shera tak memberinya kesempatan sama sekali. Bagai tertusuk sembilu, hatinya begitu perih.

__ADS_1


"Aku pergi dulu, Sean. Waktu istirahatku sudah mau habis," ucap Shera kemudian lalu melenggang pergi. Meninggalkan Sean sendirian dengan perasannya yang muram.


__ADS_2