
Secepat kilat Shera memalingkan wajahnya saat melihat penampilan Samuel sekarang. Dia berusaha menahan tawanya agar tak pecah. Beberapa menit sebelumnya, entah mengapa Shera ingin sekali melihat Samuel memakai pakaian miliknya. Mungkin faktor dirinya hamil, keinginan Shera akhir-akhir ini sangat aneh. Alhasil tanpa pikir panjang dia menyuruh Samuel mengenakan dressnya.
"Shera! Apa tidak ada pakaian lain?" Sekali lagi Samuel bertanya sambil menunjukkan wajah sedih.
Shera berdeham rendah lalu melirik Samuel sekilas. "Tidak ada, jangan banyak membantah Sam. Sepertinya malam ini hujan akan turun sampai pagi, maka dari itu tidurlah di apartmentku untuk sementara waktu dan besok kau harus pergi dari sini!"
Samuel membalas dengan tersenyum tipis. Karena dia memiliki kesempatan untuk mendekati Shera.
"Sebentar lagi aku mau tidur, kau tidurlah di sofa ini dan–"
"Tapi aku mau tidur denganmu," potong Samuel cepat.
Raut wajah Shera berubah drastis. "Stop! Ini aparmentku Sam. Patuhi apapun perintahku, aku masih berbaik hati menyuruhmu tidur di sofa, bukan di lantai seperti dulu kau membiarkanku tidur dengan luka-luka di sekujur badanku!" serunya berapi-api. Shera kebingungan sendiri mengapa dirinya tak dapat mengontrol emosinya saat ini.
Samuel terdiam seketika.
"Selamat malam, Sam. Besok kau harus pergi dari apartmentku, jangan masuk ke kamarku, aku memiliki CCTV di dalam kamar, jadi aku bisa tahu kalau kau masuk!" Shera mengertak Samuel. Padahal jelas-jelas kamar tersebut tidak ada kamera pengawas, ingin sekali dia mengunci kamarnya, namun, di apartment yang sederhana ini kunci kamar tidak berfungsi dengan baik.
Samuel lagi-lagi membisu dengan muka merenggut. Setelah melihat Shera menghilang dari penglihatannya. Samuel melangkah cepat menuju sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sofa berukuran sedang tersebut.
Samuel menarik napas panjang sambil memperhatikan langit-langit bangunan. Bunyi rintik hujan di luar sana masih terdengar amat jelas.
__ADS_1
"Ah... Aku ingin sekali memeluknya tadi," gumam Samuel sambil melirik-lirik sekilas pintu kamar Shera. Samuel benar-benar tersiksa tak dapat menyentuh tubuh Shera dan melepas kerinduannya tadi. Rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya. Kedua matanya pun menutup perlahan-lahan.
Waktu menunjukkan pukul dua belas malam, Samuel tampak grasak-grusuk saat tempat tidurnya terasa sempit dan pakaian yang dia kenakan pun membuatnya kesusahan bergerak. Samuel akhirnya terbangun juga.
"D4mn!" umpat Samuel sambil melepas gaun milik Shera dan melemparnya ke sembarang arah hingga menyisakan kain berbentuk segitiga di tubuhnya. Entah dorongan dari mana, Samuel beranjak dari tempat tidur dan melangkah perlahan mendekati kamar Shera.
Samuel membuka pintu kamar lalu mengendap-endap masuk ke dalam kamar Shera. Dia merekahkan senyuman saat melihat Shera tertidur pulas sambil memegangi perutnya. Dia pun menghampiri Shera lalu duduk di tepi ranjang dan menatap dalam wajah mantan istrinya itu.
"Bodoh sekali aku, mengapa dulu aku sangat kejam denganmu, Shera. Aku harap dalam minggu ini aku bisa meluluhkan hatimu, Sayang." Samuel melabuhkan kecupan di pucuk kepala Shera, kemudian berjalan keluar lagi menuju ambang pintu.
*
*
*
"Kemana dia? Tidak mungkin dia pergi kan?" Samuel melilitkan selimut ke pinggangnya, yang dia ambil semalam di kamar Shera. Dia panik seketika, tanpa pikir panjang berlarian ke kamar Shera.
Kosong.
Shera tak berada di dalam kamarnya. Samuel resah. "Ahk! Jangan bilang dia pergi!" ucapnya sambil membalikkan badan. Namun, pergerakannya terhenti saat melihat secarik kertas tergeletak di atas nakas. Dia pun menyambar benda tersebut dan membacanya dengan seksama.
__ADS_1
Kau pikir aku tidak tahu, kalau kau masuk ke kamarku semalam! Pergilah, Sam! Aku tidak akan kembali padamu, sudah cukup kau membuatku tersiksa, kembalilah bersama pacarmu itu! Jangan cari aku lagi!
~ Shera
Samuel memegang kupingnya seketika saat membaca pesan tersebut seolah-olah mendengar teriakan Shera yang melengking nyaring di sekitarnya.
"Never!" Samuel merobek kertas tersebut lalu memutuskan pergi ke lantai dasar.
"Madam, apa kau tahu di mana Shera sekarang?" Begitu sampai di lobby, Samuel langsung bertanya pada Madam Dolores.
Madam Dolores tak langsung menyahut. Dia tengah memindai penampilan Samuel yang menurutnya aneh bin ajaib, bagaimana tidak Samuel tengah memakai pakaian Shera yang semalam.
"Dia kerja di cafetaria jalan Brooke, apa yang kau pakai? Apa kau sudah gila ha!?" tanya Madam Dolores setelahnya sambil melototkan mata.
Samuel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Terima kasih, Madam." Bukannya menjawab pertanyaan wanita tua itu, Samuel malah melangkah pergi menuju tempat kerja Shera.
***
Sesampainya di sana, Samuel mengepalkan kedua tangannya ketika melihat pria kemarin berada di cafetaria dan berbincang-bincang bersama Shera sekarang.
"Si4l! Apa yang pria itu lakukan, awas kau!"
__ADS_1