
Keesokan harinya, Shera bangun pagi sekali, setelah memikirkan dengan matang-matang sejak semalam, sudah bulat tekad Shera untuk berpisah dengan Samuel suatu saat nanti, walaupun dia mencintai Samuel tapi Shera tak mau menjalin hubungan dengan pria yang tak pernah menganggapnya ada. Namun, sebelum pergi, Shera harus mengumpulkan pundi-pundi uang agar tak hidup luntang-lantung di jalanan.
Secara kebetulan atau tidak, Shera juga mendapatkan informasi dari Dimitri tadi pagi, kalau saat ini Lily juga tak berada di Los Angeles, mertuanya itu pergi ke Indonesia mendadak dan sedang mengurus urusan penting, yang harus diselesaikan secepat mungkin. Pantas saja, sejak kemarin saat Shera memberitahu Lily jika Mamanya telah meninggal. Lily tak membalas pesannya sama sekali.
Pagi ini, setelah mandi dan sarapan, Shera langsung berkutat di depan laptop, mencari lowongan perkerjaan yang sesuai dengan pendidikannya, beruntung sekali, di usianya yang masih terbilang muda, Shera sudah pernah mengenyam pendidikan di bangku kuliah, mengambil jurusan akuntansi.
Kali ini dia akan mencoba peruntungan mengirim lamaran di sebuah perusahaan dan tidak hanya mengirim lamaran ke restoran ataupun toko kue. Sedari dulu Shera tak memilih-milih dalam mencari perkerjaan, yang terpenting bisa menghasilkan uang.
"Lebih baik aku mengirim lowongan di sini saja, supaya lebih jauh dan tidak ketahuan Samuel atau Dimitri," gumam Shera sambil menekan-nekan keyboard. Ia berencana mencari tempat kerja yang jauh dari mansion Samuel. Dan berharap perusahaan baru di kota Los Angeles itu mau menerimanya sebagai karyawan.
Beberapa hari kemudian, saat Shera tengah duduk di sofa dan sibuk membaca sebuah buku, Shera tersentak saat mendapat panggilan dari nomor tak di kenal. Secepat kilat ia menggeser layar ponsel.
"Hallo?" sapa Shera terlebih dahulu.
"Apa benar ini Nona Shera Winfred?" Terdengar suara berat seorang pria di ujung sana.
"Iya benar, saya sendiri, ada apa ya?" Jantung Shera berdebar-debar rasanya. Dia berharap si penelepon adalah HRD di sebuah perusahaan.
__ADS_1
"Begini, kemarin kami sudah mendapat email dari anda dan sudah membaca CV anda, maka dari itu bisakah anda datang ke perusahaan Triplet Corp pukul dua nanti?"
Mata Shera melebar sempurna. Sepertinya Tuhan mendengarkan doanya. Shera begitu senang saat ini.
"Iya, tentu saja bisa, saya akan ke sana sebentar lagi," sahutnya semangat.
Setelah meminta izin dan mengatakan ingin membeli sesuatu ke supermarket, Shera bergegas pergi ke perusahaan. Sesampainya di sana, dia diarahkan seorang wanita masuk ke ruangan HRD.
Begitu masuk ruangan, Shera menarik napas panjang ketika melihat di ujung sana, seorang pria bermata coklat tengah memandanginya, sepertinya itu adalah HRD Manager perusahaan.
Kegugupan melanda Shera seketika. Dia sangat berharap di perusahaan ini dapat menerima. Apalagi kemarin ia sempat mencari informasi di situs website jika gaji di perusahaan sangat menggiurkan.
Sang pria bangkit berdiri dan menjabat tangan Shera, lalu berkata,"Selamat siang, silakan duduk."
Shera mengangguk cepat dan mendaratkan bokong di kursi.
Setengah jam kemudian, setelah diwawancarai oleh Bruno, HRD Manager Triplet Corp itu, Shera dapat bernapas lega. Tidak sia-sia ia belajar dan membaca buku dari kemarin, karena Shera menjawab pertanyaan dari Bruno dengan lugas.
__ADS_1
"Terima kasih Pak, karena sudah menghubungi saya, saya sangat berharap dapat berkerja di perusahaan ini dan dapat memberi kinerja yang terbaik bagi perusahaan," kata Shera sebelum pergi dari ruangan.
Bruno tersenyum lebar. "Saya pun begitu, terima kasih atas waktunya, kami akan menghubungi anda kembali nanti," sahutnya.
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu." Shera bangkit berdiri lalu menjabat tangan Bruno.
Selepas kepergian Shera, Bruno masih menatap lurus ke depan. Dia senyam-senyum sendiri sekarang, entah karena apa.
"Hmm, menarik," Bruno berdesis pelan kemudian.
***
"Dari mana saja kau?"tanya Samuel kala melihat Shera berjalan cepat, memasuki mansion dengan ekspresi yang aneh, menurutnya.
Langkah kaki Shera terhenti, lalu menoleh ke samping dan menatap langsung mata Samuel. "Dari luar, aku sudah meminta izin pada Dimitri tadi, kalau kau tak mau berpapasan denganku, suruh Dimitri membuatkan pintu khusus untukku," ucapnya tanpa takut sedikitpun. Suara Shera terdengar tegas dan terkesan berani.
Mendengar hal itu, kedua alis Samuel saling bertautan.
__ADS_1