
"Apa kau sudah gila ha! Berani sekali dengan anak kecil!" seru wanita itu sambil berkacak pinggang. Sehingga para pengunjung cafetaria memusatkan perhatian ke arahnya.
Samuel langsung menundukkan wajah dan bersembunyi di bawah meja kala Shera menoleh ke arahnya. Hampir saja matanya bertubrukan langsung dengan mata Shera.
D4mn! Benar-benar si4l! Seandainya saja ada Dimitri di sini!
"Hei, bangun kau! Ayo berduel denganku! Sini!"
Karena tak mau sampai ketahuan Shera, secepat kilat Samuel bangkit berdiri dan keluar dari cafetaria, meninggalkan Mommy bocah itu berteriak histeris.
"Orang aneh, berani sekali dengan anak kecil," ucap Sean kala melihat keributan di hadapannya barusan.
"Hush, jangan asal tuduh, siapa tahu saja, salah paham kan, lagian untuk apa pria itu mau memakan anak kecil." Risa melempar pandangan ke arah Shera sejenak.
"Iya, Aunty benar, siapa tahu saja salah paham, tapi mengapa pria itu tidak asing ya?" Shera bergumam pelan sambil memperhatikan punggung Samuel melalui kaca cafetaria, sampai menghilang dari pandangannya.
Sean mengedikkan bahunya sesaat.
***
__ADS_1
Menjelang sore, Shera mengelap meja cafetaria satu persatu bersama rekan kerjanya. Hari ini cafetaria tutup lebih awal dikarenakan si pemilik akan ada acara keluarga di luar jadi tak ada yang mengurus di bagian kasir. Setelah selesai membersihkan meja, Shera bergegas ke ruang belakang hendak mengganti pakaiannya.
Selang beberapa menit, dia sudah bersiap-siap untuk pulang. Namun, baru saja Shera melangkahkan kakinya keluar, Sean menghadangnya tiba-tiba di depan pintu.
"Oh my God! Kau membuatku terkejut Sean, mengapa kau ada di sini? Apa kau sudah pulang berkerja?" tanya Shera sambil mengelus perlahan dadanya.
"Aku sudah pulang, ayo aku antar pulang, kebetulan aku mau mengambil titipan Mommyku di toko sebrang apartmentmu," ucap Sean sambil menyunggingkan senyuman.
"Tidak usah Sean, aku bisa sendiri, aku tak ingin merepotkanmu," balas Shera tak enak hati.
"Kau sama sekali tak merepotkan ku, ayolah, mumpung gratis," kelakar Sean.
Menempuh waktu, kurang lebih lima belas menit menggunakan kendaraan roda empat, Shera sudah di depan bangunan apartmentnya. Dia dan Sean bersamaan turun dari mobil.
"Terima kasih, Sean," ucap Shera.
Sean mengulas senyum tipis. "Sa–"
"Shera!" teriak Samuel seketika sambil menghampiri keduanya.
__ADS_1
Shera tersentak karena Samuel ternyata masih di sini. Dia menatap heran pada mantan suaminya itu sekarang.
"Masuk ke apartment sekarang!" Samuel mencekal tangan Shera tiba-tiba.
Shera tergelak, sorot mata Samuel menyiratkan kemarahan yang meledak-ledak sekarang. Sebuah tatapan yang tidak dia sukai sama sekali. "Lepaskan tanganku, aku bisa masuk sendiri!" sentaknya sambil menghempas tangan Samuel kemudian berlalu pergi dari hadapan Samuel dan Sean.
Selepas kepergian Shera, Samuel menatap nyalang Sean. "Mengapa kau selalu mendekati istriku ha! Sebenarnya apa maumu? Jauhi dia!" seru Samuel berapi-api.
Sean menyeringai tipis lalu berkata,"Apa kau hilang ingatan? Kau dan Shera bukan lagi pasangan suami istri, kalian sudah bercerai, kau tak berhak menyuruh aku menjauhi Shera. Kau mau tahu apa mauku?" Sean mengangkat dagunya dengan begitu angkuh.
Samuel melototkan matanya.
"Aku ingin menjadikan Shera istriku, jadi kau yang seharusnya menjauhi Shera, pria sepertimu tak pantas mendampingi Shera!" Sean kembali menambahkan.
"Ckck! Jangan bermimpi, Shera tidak akan mudah dimiliki! Dia hanya milikku! Asal kau tahu anak yang dikandung Shera sekarang adalah anakku!" seru Samuel tak mau kalah.
"Terserah! Kita lihat saja, siapa yang berhasil mendapatkan Shera, aku atau kau, mantan suaminya!"
Samuel dan Sean menatap tajam satu sama lain. Keduanya telah mengibarkan bendera peperangan untuk mendapatkan hati Shera.
__ADS_1
Kini napas Samuel semakin memburu kala mengingat kejadian tadi saat di cafetaria kala Shera dan Sean saling memandangi satu sama lain. Rasa takut kehilangan mulai menyelinap masuk ke relung hatinya seketika.