
Bruk!
"Awh!"
Shera terjungkal ke lantai saat seseorang tiba-tiba menabraknya dari depan. Alhasil lembaran-lembaran dokumen yang ia pegang berhamburan di lantai saat ini. Secepat kilat ia mencari si pelaku, melihat Anne tengah bangkit berdiri sambil melayangkan tatapan tajam.
"Apa kau tidak punya mata ha!" teriak Anne sembari merapikan dress-nya sejenak.
Shera enggan menanggapi, memilih mengambil kertas-kertas yang berserakan di lantai.
Perasaan dia yang nabrak aku tadi, kok malah aku yang disalahin.
Sementara Anne melipat tangan di dada, memperhatikan sikap Shera sekarang, yang menurutnya tak sopan. Semakin membara amarah yang berada di hatinya tadi. Tanpa banyak kata Anne berdiri di hadapan Shera, yang masih sibuk sendiri, memungut kertas. Akan tetapi, kedua matanya menyipit seketika saat melihat sebuah cincin berlian melingkar di jari Shera.
Entah mengapa Anne memiliki feeling yang aneh tentang Shera kini. Sebuah feeling yang tak bisa artikan sendiri.
"Kau sudah memiliki suami?" tanya Anne kemudian.
Mendengar pertanyaan Anne, Shera mendongakkan kepala ke atas lalu berkata," Suami?"
"Iya, itu cincin nikah kan, siapa suamimu?" Anne kembali bertanya dengan melototkan matanya sedikit.
Shera bangkit berdiri lalu melirik sekilas cincin yang lupa ia lepas tadi pagi.
__ADS_1
Aish! Bodoh sekali kau, Shera.
"Hei! Kau dengar aku tidak?!" seru Anne.
Membuat para karyawan memusatkan perhatian ke sumber suara. Sontak mereka penasaran, apa yang terjadi diantara Anne, kekasih atasan mereka dan Shera, karyawan baru di perusahaan.
"Maaf Nona, ini cincin pemberian mendiang Mamaku," kilah Shera.
Anne tak serta-merta percaya, dia memicingkan mata, mengamati raut wajah Shera. "Cih! Memangnya Mamamu berkerja apa? Sampai bisa membelikan kau cincin berlian?" tanyanya dengan nada meremehkan.
Semula Shera agak sungkan dengan Anne. Namun, melihat sikap Anne yang terkesan angkuh, dia menatap tajam mata Anne.
"Kau tidak perlu tahu, apa perkerjaan orangtuaku, kalaupun ini cincin nikah, apa ada masalah?"
Anne naik pitam. Dengan napas memburu, ia kembali berkata,"Lihatlah orang miskin sepertimu, berani menatapku, asal kau tahu, gaji kau tidak seberapa dengan kekayaan–"
"Anne."
Perkataan Anne terhenti, saat Samuel baru saja keluar dari ruangan. Pria itu keheranan melihat Anne dan Shera saling beradu mulut saat ini.
Anne menoleh sekilas lalu mengabaikan Samuel. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Shera lagi. "Cih? Sudahlah kau tidak akan mengerti!" Setelah itu, Anne melangkah cepat, meninggalkan Shera dan Samuel yang saling melemparkan pandangan.
"Maaf Mister, kalau begitu saya permisi dulu." Shera memutus kontak mata seketika dan hendak menggerakan kedua kakinya.
__ADS_1
"Tunggu! Ke ruanganku sekarang, ada yang mau aku bicarakan," kata Samuel.
Lantas perkataan Samuel, mengurungkan niat Shera untuk kembali ke ruangan kerjanya.
Shera mengangguk pelan, kemudian mengekori Samuel dari belakang.
Di dalam ruang kerja, Shera berdiri tegap sambil menundukkan muka, di hadapan Samuel yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
"Ada apa Mister?" Walaupun hanya berdua saja, sebisa mungkin Shera bersikap profesional terhadap suaminya sekaligus atasannya di tempat berkerja.
Samuel mengangkat satu alis mata. "Soal semalam jangan kau pikirkan Shera, aku melampiaskan kemarahanku karena ulah pacarku." Samuel tak mau menutupi hubungannya dengan Anne, agar Shera tahu diri akan posisinya.
"Iya, Mister. Tenanglah, aku tahu diri."
Meskipun bibir berkata tenanglah, namun Shera menahan diri agar tidak menangis saat ini. Padahal dia sudah berharap Samuel memiliki perasaan yang sama, terlebih lagi percintaan tadi malam masih membekas diingatan Shera. Percintaan yang membuat Shera sampai lupa diri sebab disela-sela permainan Samuel menyebut namanya berulang kali. Tapi ternyata cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
Tak ada tanggapan dari Samuel. Pria itu terdiam membisu sembari menatap lurus ke depan.
Hening sejenak.
"Kalau begitu saya permisi dulu Mister." Tanpa mendengar tanggapan Samuel, Shera berlalu pergi dari ruangan.
Sesampainya di luar pintu, Shera menitihkan air matanya seketika sambil mengigit bibir bawahnya.
__ADS_1