
Akibat hujan deras dan suara guntur bersahut-sahutan di atas pencakar langit, Shera tak dapat mendengar dengan jelas perkataan Samuel.
"Apa yang dilakukannya? Apa Samuel sudah gila?" Kepala Shera geleng-geleng sejenak. Melihat Samuel hujan-hujanan di bawah sana.
Bledar!
Shera tersentak kala bunyi guntur kembali terdengar, kali ini lebih nyaring dari sebelumnya. Begitu pula dengan Samuel. Dia terperanjat kaget, sampai-sampai memegang dadanya yang berdebar-debar seketika.
"Ck! Kenapa Samuel masih di situ," desis Shera kemudian. Tanpa pikir panjang Shera pun bergegas turun ke bawah apartment sambil membawa payung.
"Samuel, apa yang kau lakukan? Mengapa kau tidak pulang ke LA!" Kini Shera berdiri tegap di hadapan Samuel sambil memayungi dirinya sendiri.
"Aku tidak akan pulang, sebelum kau kembali ke pelukanku, aku mencintaimu Shera." Samuel menatap dalam kedua bola mata Shera, berharap mantan istrinya itu mau kembali padanya.
Shera mendengus pelan. "Hentikan Sam, pulanglah ke LA sekarang."
"Tidak, apa kau tidak mendengarku, aku tidak akan pulang, sebelum kau kembali padaku." Samuel berusaha mengapai tangan Shera namun wanita itu menyentak kasar tangannya.
__ADS_1
"Sam, pulanglah, di antara kita sudah tidak ada hubungan lagi, aku mau ke atas, lebih baik kau pergi ke hotel atau apa." Tanpa mendengarkan perkataan Samuel, Shera membalikkan badan seketika lalu mulai melangkahkan kakinya menuju bangunan apartmentnya.
"Aku tidak akan pergi! Aku akan tetap di sini sampai kau mengiyakan permintaanku!"
Di belakang sana, Samuel berteriak nyaring sambil memperhatikan punggung Shera bergerak menjauhinya.
Ayunan kaki Shera berhenti bergerak. "Terserah, Samuel. Aku tidak peduli, itu urusanmu!" serunya tanpa menatap lawan bicara. Setelah itu, Shera bergegas naik ke apartmentnya.
Di lantai dua, Shera mengintip Samuel dari sela-sela jendela. Di tengah guyuran hujan, Samuel masih setia berdiri tegap menghadap ke apartment sambil menahan gigil di sekujur tubuhnya. Shera terenyuh sejenak melihat keadaan Samuel saat ini. Ingin sekali dia menyuruh Samuel masuk ke apartmentnya. Akan tetapi, Shera masih ragu-ragu untuk memasukan Samuel ke apartmentnya.
Selang beberapa menit, Samuel masih bergeming di tempat semula. Bibir pria itu nampak bergetar kuat dan wajahnya sudah pucat pasi seperti mayat hidup. Sedari tadi Shera mondar-mandir di dalam ke kamarnya sedang bergelut dengan batinnya.
"Masuklah ke apartmentku, Sam," ucap Shera.
Senyum lebar terlukis di wajah Samuel seketika.
"Aku menyuruhmu berteduh apartmentku, bukan berarti aku mau kembali bersamamu, tapi karena aku kasihan melihat dirimu hujan-hujanan di sini seperti orang gila, aku tidak mau orang-orang mengira aku sangat kejam denganmu, Sam. Maka dari itu Masuklah dulu di apartment ku, setelah hujan reda, carilah penginapan Sam!" kata Shera agak ketus.
__ADS_1
Samuel menarik napas dalam karena hati Shera belum juga luluh. Meskipun begitu dia tak akan menyerah. Setidaknya Shera masih mengkhawatirkannya. "Baiklah, terima kasih Sa–"
Perkataan Samuel terhenti saat Shera melenggang pergi dari hadapannya. Dia pun bergegas mengikuti langkah kaki Shera.
Sesampainya di apartment. Samuel mengedarkan pandangannya sejenak, melihat keadaan apartment Shera yang jauh dari kata layak menurutnya.
"Pakailah ini! Kamar mandi ada di sana!" Shera melempar handuk dan pakaian miliknya tepat di atas kepala Samuel tiba-tiba.
Samuel mengambil handuk dan pakaian tersebut sambil mengerutkan dahi. "Apa ini? Ini kan pakaian wanita Shera?"
"Aku masih berbaik hati memberikanmu tumpangan, jangan banyak membantah Sam, aku tidak punya pakaian pria, pakai atau tidak sama sekali, aku tidak mau pakaian basahmu mengotori lantai apartmentku!" Shera memandang sinis Samuel kemudian.
Samuel menghela napas. Mau tak mau dia pun pergi ke kamar mandi dan memakai pakaian pemberian Shera.
"Oh God, untung saja saudara-saudaraku tidak melihat aku memakai pakaian aneh ini." Samuel bergedik ngeri melihat dress bumil oversize berwarna pink menempel di tubuhnya sekarang. Namun, karena perawakannya yang besar dan tinggi, alhasil menampakkan otot-otot Samuel tercetak dengan jelas sekarang.
"Apa Shera sengaja mengerjaiku? Tapi tidak mungkin kan, argh apa dia tidak memiliki kaos? Ah sudahlah, yang terpenting aku dekat dengan Shera sekarang." Sebelum keluar dari kamar mandi, Samuel melihat bayangan dirinya di depan cermin. Dia pun keluar dari ruangan dan melangkah pelan, mendekati Shera.
__ADS_1
Saat ini Shera tengah duduk di depan televisi sambil menyeduh teh hangat.
"Shera, pakaian ini sangatlah sempit, apa tidak ada pakaian lain?" tanya Samuel dengan hati-hati, takut jika Shera tersulut emosi lagi. Sedari tadi dia berusaha menurunkan dressnya agar pahanya tak terlalu terekspos.