Istri Bayangan Tuan Arogan

Istri Bayangan Tuan Arogan
Permintaan


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul lima sore, Shera baru saja sampai di kediaman mertuanya. Sebelum turun dari mobil, dia menaruh hasil USG di tas selempang lalu bergegas keluar. Baru saja sampai di depan pintu utama, Lily menyambutnya dengan sangat antusias.


"Shera, maafkan Mommy ya, baru pulang sekarang, ayo masuklah, temani Mommy makan dulu ya." Lily langsung memeluk Shera seketika, seperti putri kandungnya sendiri.


Shera tersenyum tipis. "Oke Mom," ucapnya sambil mengurai pelukan dan masuk ke dalam bersama Lily.


Ruang makan.


"Ayo duduklah di dekat Mommy, jangan malu-malu, Mommy minta maaf karena tak menemanimu saat Mamamu pergi waktu itu." Lily menarik kursi, mempersilakan Shera untuk duduk.


Sebelum membalas ucapan Lily, Shera menghela napas kasar lalu menjatuhkan bokongnya di kursi tersebut. "Iya Mom, tidak apa-apa."


Lily menatap sendu ke arah Shera, karena di saat Shera terpukul. Dia tak dapat menemani menantunya itu.


"Ya sudah kita makan dulu, selepas itu kita bersantai-santai di taman belakang ya," ucap Lily kemudian.


Balas Shera dengan anggukan pelan.


Setengah jam kemudian, setelah selesai makan bersama, Lily dan Shera duduk di taman belakang sambil menyeruput air kopi sebab cuaca sedikit dingin hari ini.


"Bagaimana hubunganmu dengan Samuel, Shera?" tanya Lily kemudian.


Shera tak langsung menjawab, apa dia boleh berkata jujur mengenai perlakuan Samuel padanya selama ini.


"Shera, apa yang kau pikirkan? Mengapa diam? Katakan pada Mommy, apa Samuel bersikap baik padamu?" Lily kembali bertanya.


Shera membuang napas kasar dan menundukkan wajahnya, tak berani menatap Lily. "Mom, sebenarnya hubunganku dan Samuel tidak sesuai harapan Mommy, aku ingin bercerai dengannya, Mom," ucapnya dengan bibir bergetar pelan.


Shera sedang menahan diri untuk tidak menangis di depan Lily. Dalam perjalanan ke rumah dia sudah memikirkan matang-matang keputusannya.


Meski sekarang uang yang dia miliki tak cukup untuk dia bertahan hidup ke depannya, akan tetapi dia tak mau menyiksa dirinya sendiri terlalu dalam lagi. Sudah bulat tekadnya untuk berpisah bersama Samuel, meski hatinya gamang karena ada anak yang ia kandung sekarang. Shera berharap Lily dapat menyetujui permintaannya.


Lily menatap lekat-lekat Shera. Dia beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Shera. "Shera, apa keputusanmu sudah bulat?" tanyanya sambil memegang kedua pundak Shera.

__ADS_1


Shera menoleh. "Sudah Mom, aku mohon kabulkanlah permintaanku, lagipula Samuel tidak mencintaiku Mom, apa Mommy tahu kalau Samuel sudah memiliki kekasih, aku tidak mau menjadi orang ketiga diantara mereka, izinkan aku berpisah dengan Samuel, Mom. Aku mohon..."


Tumpah juga air mata Shera, dia tak mampu lagi membendung perasaannya. Lebih baik berpisah daripada bersama namun ternyata dirinya tersiksa.


Lily terenyuh. Dia langsung mendekap Shera. "Maafkan Mommy, gara-gara Mommy kau tidak bahagia, Mommy egois, seharusnya Mommy tidak menikahkanmu dengan Samuel. Kalau memang keputusanmu sudah bulat, Mommy akan mengabulkannya."


Shera semakin terisak kuat. Bayang-bayang wajah Samuel menari-nari dibenaknya seketika. "Terima kasih Mom, aku mohon percepat perceraianku Mommy, jangan sampai Samuel tahu, setelah ini aku akan pergi jauh, Mom."


Lily mengurai pelukan, sedikit terkejut karena Shera akan pergi. "Baiklah, Mommy akan meminta Dimitri mengurus perceraian kalian, kau mau pergi ke mana?"


"Kemana pun Mom, aku ingin menyendiri dulu saat ini dan mencari perkerjaan sambil menata hatiku." Shera nampak sesenggukan.


"Apa Mommy boleh tahu kau mau pergi ke mana Sayang? Walaupun kau tidak menjadi menantu Mommy lagi, tapi Mommy akan selalu mengganggapmu menantu Mommy."


Shera tak menyahut.


Lily mengelus pelan rambut Shera. Dia memaklumi karena Shera enggan memberitahu kemana akan pergi.


Shera termangu, ingin sekali mengatakan bahwa ia tengah mengandung namun Shera urungkan karena tak mau Lily berubah pikiran nanti.


"Tidak ada Mom, aku harus pulang ke rumah Mom, malam ini aku harus pergi."


"Apa tidak terlalu cepat? Menginaplah malam ini di rumah Mommy dulu Shera." Lily membujuk Shera.


Shera menggeleng. "Lebih cepat, lebih baik Mom, maaf."


"Baiklah, tapi tunggu dulu, Mommy mau ke dalam sebentar, mengambil sesuatu." Lily bangkit berdiri dan melenggang masuk ke dalam mansion.


Shera hanya diam saja sambil menyeka air matanya.


Selang beberapa menit, Lily sudah kembali dan membawa amplop di tangannya.


"Ini untukmu, untuk kau bertahan hidup, Mommy tidak tahu kau mau kemana Shera, tapi yang jelas Mommy selalu mendoakanmu dalam keadaan baik-baik saja." Lily menyodorkan amplop kepada Shera.

__ADS_1


"Tidak usah Mom, jangan, Mommy sudah banyak membantuku." Shera menolak dengan halus.


Lily menyambar tangan Shera dan menaruh amplop itu di telapak tangan menantunya itu. "No, kau tidak boleh sungkan, ambillah, Mommy tahu mencari perkerjaan itu susah, selagi menunggu lamaran masuk, gunakan lah ini."


"Tapi Mom–"


"Sudahlah Shera, terimalah kalau kau tidak mau menerima, Mommy merasa bersalah denganmu." Lily menunjukkan mata memelas.


Shera tersenyum tipis. Merasa bersyukur mendapatkan mertua yang amat baik padanya walaupun hanya sebentar. "Baiklah, Mom, terima kasih, kalau begitu aku permisi dulu."


Lily mengangguk lalu mendekap lagi Shera. "Iya, berhati-hatilah, Mommy akan menyuruh supir Mommy mengantarmu."


"Baik Mom."


Setelah melihat mobil yang ditumpangi Shera menghilang di gerbang depan, Lily mengambil ponsel di saku jasnya lalu menghubungi Dimitri.


"Hallo Nyonya?" sapa Dimitri terlebih dahulu.


"Bagaimana Dimitri, apa kau mempunyai ide mengungkapkan rahasia Anne pada Samuel nanti?" Raut wajah Lily yang teduh berubah garang dan tegas.


"Saya sudah punya ide Nyonya, saya yang akan mengungkapkannya, saya tidak mau nama baik Nyonya dan Tuan Leon ternodai gara-gara Anne."


Lily tercengang, tak menyangka Dimitri mau mengorbankan dirinya sendiri. Sebab sejak lama, dia dan Leon berusaha mengulik rahasia Anne namun karena seseorang yang memiliki adikuasa sama sepertinya berada di belakang Anne selama ini, dia dan anak buahnya kesulitan. Apalagi nama perusahaannya menjadi taruhan sekarang.


Selama ini Lily juga menyuruh Dimitri memantau Shera dan Samuel. Dia sangat menyayangkan perbuatan Samuel, yang menurutnya keterlaluan.


"Kau yakin Dimitri? Konsekuensinya sangat bahaya untukmu, aku tidak bisa membantumu setelahnya, kau akan berhadapan dengan orang licik nantinya."


"Saya yakin Nyonya, ini demi Mister Samuel juga, dia harus tahu, oh ya, aku juga mau memberitahu kalau Anne hamil."


"Hamil?" Lily menyeringai tipis kemudian. "Aku sudah mengerti jalan pikiranmu sekarang, berhati-hatilah Dimitri, jangan sampai gegabah."


"Iya Nyonya, tenang saja."

__ADS_1


__ADS_2