
Sesampainya di dalam, Bruno merebahkan Shera di tempat tidur. Dia menyeringai kala melihat Shera masih tak sadar akibat obat yang diberi Anne tadi padanya.
Beberapa jam lalu, Anne menghampirinya dan berbincang-bincang sejenak dengannya. Anne mengatakan kalau Shera menyukai Samuel dan mau merusak hubungannya. Tentu saja Bruno cemburu, sebab sejak pandangan pertama, dia sudah jatuh hati pada Shera.
Dan tanpa pikir panjang Bruno mengiyakan permintaan Anne. Saat wanita itu meminta Bruno menghamili Shera, agar Shera dapat jatuh kepelukannya.
Bruno pun mulai menyusun strategi. Secara diam-diam dia memasukan obat ke dalam minuman alkohol yang diberikan rekan kerjanya pada Shera tadi. Hingga Shera tak sadarkan diri saat ini.
"Kau akan menjadi milikku Shera." Bruno menanggalkan kain yang menempel di badannya seketika. Lalu naik ke atas tempat tidur.
Dalam keadaan setengah sadar Shera dapat melihat samar-samar wajah Bruno.
"Bruno, kita di mana?" gumamnya pelan sambil memegang kepalanya yang berdenyut kuat.
Seringai tipis tergambar jelas di wajah Bruno. "Kau tak perlu tahu Sayang, yang penting malam ini kita menghabiskan waktu bersama-sama," desisnya sambil mencekal kedua tangan Shera seketika.
Shera mengerjap-erjapkan mata sejenak kala baru menyadari kalau tubuh Bruno polos tanpa sehelai benangpun sekarang.
"Biadab!"Shera menendang kuat buyung Bruno seketika, hingga pria itu terjungkal ke lantai.
"Ahk!!!" Bak sengatan listrik, Bruno menjerit kesakitan sambil memegang buyungnya.
"Dasar pria gila! Aku kecewa padamu, Bruno!" Dengan susah payah Shera beranjak dari tempat tidur lalu melangkah cepat menuju pintu.
__ADS_1
Meninggalkan Bruno bergeming di tempat, masih memekik kesakitan.
"Shera! Kembali kau!"teriak Bruno kemudian setelah melihat punggung Shera menghilang di pintu.
***
Sementara itu di luar hotel, Shera memberhentikan taksi dan masuk ke dalam mobil.
"Oh my God, jam berapa sekarang?" Shera nampak panik saat melihat langit semakin gelap gulita di luar sana. Dia pun mengambil ponsel di tas selempangnya. Kedua matanya membulat sempurna, kala melihat Dimitri meneleponnya sebanyak 20 kali.
"Pak, bisa lebih cepat lagi." Shera menoleh ke depan seketika, meminta supir taksi melajukan mobil.
Sang supir mengangguk pelan lalu mempercepat laju kendaraannya.
"Samuel, maafkan aku, tadi aku main ke tempat kawan kerjaku dulu, aku–"
"Diam kau! Tak usah kau berbohong, Shera! Dasar wanita j4lang! Kau berani berbohong denganku ha! Padahal jelas-jelas kau tidur bersama Bruno tadi!" Samuel melangkah cepat mendekati Shera.
Shera terkejut dan ketakutan secara bersamaan. Tanpa sadar dia memundurkan langkah kakinya, ingin berlari ke luar. Namun, gerakannya kalah cepat. Samuel menarik tangannya dan menjambak rambutnya tiba-tiba.
"Argh! Sakit Sam! Lepas!" Shera mendongakkan kepalanya ke atas, menahan perih kala rambut-rambutnya ditarik begitu kuat oleh Samuel sekarang.
Kedua mata Samuel berkilat-kilat menyala, menahan amarah yang membuncah direlung hatinya kini karena mendapatkan foto Shera digendong Bruno ke dalam kamar hotel.
__ADS_1
"Tidak! Kau harus diberi pelajaran Shera!" Samuel menyeret paksa Shera menuju ruang belakang. Ruangan di mana para maid yang disiksa jika membuat kesalahan.
Di sepanjang jalan, Shera berusaha memberontak. Namun, apalah daya tenaganya begitu lemah karena pengaruh obat tadi masih terasa.
Sesampainya di ruangan, Samuel mendorong kasar Shera ke atas lantai, hingga kening Shera berdarah akibat terbentur keramik lantai.
"Argh!" Shera memekik kesakitan sambil memegang kepalanya yang berdenyut. "Kau mau apa, Sam? Aku minta maaf, aku dijebak Bruno, Sam. Tapi percayalah padaku Bruno tidak pernah menyentuh tubuhku," jelasnya singkat sambil menoleh ke arah Samuel, tengah mengambil cambuk di atas meja.
Shera sangat ketakutan. Dia memundurkan bokongnya sedikit. "Ampun Sam, aku minta maaf, jangan..." ucapnya memelas.
"Diam kau! Dasar pembohong! Mengapa Mommy bisa menikahkan aku dengan wanita seperti mu ha!" teriaknya sambil mengayunkan cambuk ke udara.
"Argh! Tolong,hentikan Sam...." Shera meringkuk di lantai sambil berusaha melindungi dirinya, dengan menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya.
Tanpa permisi cairan bening mengalir dari pelupuk matanya sekarang saat Samuel mencambuknya berulang kali.
Cletak!
Cletak!
Cletak!!!
"Jangan... Aku tidak bohong Sam, ampun Sam, hiks, hiks..." Dengan mata terpejam Shera memohon pengampunan.
__ADS_1
Kedua pipinya sudah banjir dengan air mata. Saat ini Shera tengah menahan rasa sakit yang mendera di sekujur tubuhnya.