
Sam, kalau kau tidak mau menceraikan istrimu, aku akan bunuh diri.
~ Anne
Sebuah pesan singkat dari Anne barusan, berhasil membuat kedua mata Samuel membulat. Dia pun langsung menelepon Anne, akan tetapi panggilannya di tolak.
"Ayolah, Anne, angkat teleponku!" Samuel mengumpat kesal sembari melirik arloji dipergelangan tangannya, sebab tiga puluh menit lagi akan ada rapat penting yang harus dihadirinya.
"Si4l!" Sekali lagi Samuel mengerutu kesal ketika Anne mengirim sebuah foto dirinya memegang pisau.
Tanpa pikir panjang Samuel menghubungi Dimitri untuk memundurkan rapat tersebut. Setelah itu, dia bergegas pergi ke apartment Anne hendak menghentikan perbuatan kekasihnya.
Sesampainya di sana, Samuel mendobrak paksa pintu apartment Anne.
"Hentikan Anne! Apa kau sudah gila?!" pekik Samuel sambil melangkah cepat mendekati Anne.
Anne langsung mengarahkan pisau ke pengelangan tangan kirinya.
"Tidak! Iya, aku memang gila! Gila karena mu, lebih baik aku mati saja karena kau sudah menjadi milik wanita lain! Aku membencimu, Sam!" jeritnya sambil meneteskan air mata, Anne tanpa sengaja mengiris sedikit tangannya. Namun, dia mengabaikan rasa sakit yang mendera kulitnya saat ini.
__ADS_1
Samuel panik setengah mati, melihat darah segar mulai menetes dari tangan Anne. Dia berjalan pelan-pelan, menghampiri Anne. "Tapi aku mencintaimu, Anne. Aku minta maaf karena telah mengkhianatimu, hentikanlah sekarang Baby, aku mohon."
"Tidak!" Anne hendak menggores lebih dalam lagi namun pergerakannya lambat karena Samuel mengambil cepatpisau yang berada tangannya dan melempar benda tajam itu ke lantai. Kemudian Samuel menarik tangan Anne dan memeluknya seketika.
"Argh! Lepaskan aku, aku membencimu, Sam, hiks, hiks..." Anne memukul-mukul dada bidang Samuel.
Samuel hanya diam saja. Dia mendekap Anne dengan erat. Dadanya begitu sesak saat suara tangisan Anne terdengar pilu.
Di dalam dekapan Anne berteriak histeris. Dia menangis tersedu sedan karena kekasih yang sangat ia cintai sudah menikah dengan wanita lain. Anne begitu hancur dan kecewa.
Beberapa jam lalu, Anne mendapatkan kiriman sebuah foto pernikahan Samuel dan seorang wanita yang wajahnya di blur dari nomor tak dikenal. Perasaan Anne campur aduk. Antara terkejut, marah dan kecewa melebur menjadi satu. Tanpa pikir panjang ia datang ke kantor, ingin meminta penjelasan Samuel.
"Baby, jangan seperti ini, aku minta maaf, sungguh aku tak bermaksud ingin mengkhianati cinta kita, tapi apa boleh buat Mommy dan Daddy mengancam ku kalau tidak menuruti keinginan mereka." Samuel tengah membalut pergelangan tangan Anne.
Anne mengatur napasnya yang masih tak beraturan sejenak. "Terserah, kalau kau memang mencintaiku, kau harus menceraikannya, Sam."
Samuel tergugu, bibirnya sangat sulit untuk digerakkan sekarang.
"Kalau kau tidak mau menceraikannya, aku akan bunuh diri lagi." Anne kembali membuka suara saat melihat Samuel hanya diam saja.
__ADS_1
Samuel tampak berpikir keras. Pikirannya berkecamuk seketika.
"Sam!" Tampaknya Anne tak sabaran mendengar jawaban Samuel.
"Baiklah, Anne. Tapi berikan aku waktu, aku harus memikirkan cara agar Mommy dan Daddy tak marah padaku nanti." Setelah melontarkan kalimat tersebut, perasaan Samuel tak karuan.
"Benarkah?" Kedua mata Anne nampak berbinar-binar.
Samuel mengangguk pelan sambil meletakkan gulungan perban di atas sofa.
"Oh ya, siapa nama istrimu itu? Dan dimana dia sekarang?" tanya Anne penasaran.
"Dia berkerja sebagai karyawanku sekarang, namanya Shera Winfred. Kau berpapasan dengannya tadi di kantor."
Awas kau, aku akan memberimu pelajaran j4lang!
Mendengar nama Shera Winfred disebut, rahang Anne mengeras seketika.
__ADS_1