Istri Bayangan Tuan Arogan

Istri Bayangan Tuan Arogan
Semakin Penasaran


__ADS_3

"Mom, lihat ada pria memakai pakaian wanita!


Belum juga Samuel menggerakkan kakinya. Seorang bocah laki-laki yang hendak masuk ke cafetaria melihat ke arahnya dengan kening berkerut kuat. Ibu si bocah pun menatap heran Samuel saat ini.


Samuel menyengir kuda sejenak sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudah, jangan dipikirkan, kalau sudah besar nanti, kau jangan seperti pria itu ya, ayo kita masuk!" Wanita itu menggandeng tangan anaknya lalu melirik Samuel seketika. "Dasar pria aneh, sudah mau kiamat dunia ini! Cih!" ucapnya, memandang sinis Samuel kemudian melangkah masuk ke dalam cafetaria.


Samuel berdecak kesal. "Aish! Mengapa aku lupa mengganti bajuku, memalukan sekali!" gerutunya sambil menelisik penampilannya sendiri.


Samuel malu setengah mati karena sekarang banyak pasang mata melayangkan tatapan aneh padanya. Mau tak mau Samuel pun memutuskan pergi mencari penginapan terdekat untuk mandi dan mengganti pakaian. Tak mungkin pula dia masuk ke cafetaria dalam keadaan seperti ini kan.


Berjarak sekitar 1 mil, akhirnya Samuel menemukan sebuah hotel klasik. Dia memesan kamar untuk dirinya dan begitu sampai di kamar Samuel langsung membersihkan diri.


Lima menit pun berlalu, dia keluar dari kamar mandi dalam keadaan handuk yang melilit di pinggangnya. Baru saja beberapa langkah dari daun pintu, terdengar getaran ponselnya di atas meja, Samuel pun mengambil ponsel tersebut. Dahi Samuel berkerut kuat kala melihat nama Dimitri menghiasi layar ponselnya. Sebelum Samuel pergi ke kota ini, Dimitri sedang ditahan oleh John Martinez karena permasalahan yang diciptakan Anne kemarin membuat Dimitri terbawa arus.


"Hallo, ada apa Dimitri?" tanya Samuel langsung.

__ADS_1


"Mister, saya sudah bebas, berkat istri John saya bisa lolos dan sekarang pria itu juga jatuh miskin," balas Dimitri.


Samuel senang karena pada akhirnya Dimitri bisa bebas. "Baguslah, aku senang mendengarnya."


"Jadi, bagaimana Mister, kata Nyonya Lily anda di kota XXX, apa Nona Shera mau kembali bersama anda?"


Helaan napas berat terdengar dari hidung mancung Samuel. "Hm, dia tidak mau, aku takut dia benar-benar tak mau kembali padaku, Dimitri, susah sekali meluluhkan hatinya, belum lagi sekarang ada pria gila yang mulai mendekati dia!" Saat mengingat wajah Sean, Samuel mulai meradang.


"Hal yang wajar, Mister. Mengingat anda memperlakuan Nona Shera dengan sangat kejam dulu, pasti Nona Shera trauma, sebaiknya dekatilah Nona Shera dengan memberikannya perhatian terlebih dahulu Mister, anda jangan menyerah, karena sebenarnya Nona Shera juga mencintai anda, saya akan membantu anda nanti, setelah membereskan Nona Anne dulu."


"Hm, entahlah, Dimitri, apa lagi yang dia lakukan?" Samuel mengetatkan rahangnya kala mendengar nama Anne disebut.


"Ckk! Biadab! Wanita ular itu, berani sekali dia mengotori namaku! Urus dia secepatnya!"


"Baik, Mister."


Setelah sambungan terputus, Samuel bergegas memakai pakaian yang dia beli saat diperjalanan mencari hotel. Setelah selesai, dia pergi lagi ke cafetaria' tempat di mana Shera berkerja.

__ADS_1


Samuel masuk ke dalam sambil mengedarkan pandangan ke seluruh meja, mencari keberadaan Shera.


Dia menyipitkan mata ketika melihat Shera duduk berhadapan dengan Sean dan seorang wanita tua. Samuel penasaran, mengapa Shera tak berkerja dan malah duduk bersama pengunjung cafe. Dia pun memutuskan mencari tempat duduk di sudut ruangan, hendak memantau pergerakan Shera.


Sementara itu, dengan jarak beberapa meter, Shera tersenyum kaku saat Mommnya Sean memperhatikannya dengan sangat intens sedari tadi. Shera sampai salah tingkah dibuatnya. Tadi pagi dia tak mengira Sean berkunjung ke cafetaria dan membawa Mommynya kemari.


"Apa ada sesuatu di wajahku, Aunty?" tanya Shera memberanikan diri.


Risa tersenyum tipis. "Tidak Shera, hehe, wajahmu mirip sekali dengan seseorang yang sangat aku kenali," ucapnya cepat. Risa semakin penasaran dengan wanita di hadapannya ini sebab kemiripan antara Shera dan Clara begitu kentara. Bagaikan pinang di belah dua. Risa heran, siapa orangtua Shera, namun dia sungkan bertanya mengenai kehidupan pribadi Shera.


"Oh, aku pikir apa, sepertinya wajahku terlalu pasaran ya Aunty." Shera terkekeh-kekeh sejenak sambil melemparkan pandangan ke arah Sean seketika. Sean pun tertawa pelan. Akan tetapi, pemandangan tersebut, disalah artikan oleh Samuel saat ini.


Terlihat asap mengepul keluar dari kepala Samuel seketika. Samuel terbakar cemburu. Matanya melotot tajam sehingga bocah laki-laki yang memergokinya tadi saat memakai pakaian wanita, salah paham. Entah secara kebetulan atau apa meja bocah tersebut berhadapan dengan Samuel saat ini.


"Mom! Lihat, pria itu mau memakanku! Hiks, hikss, hiksss...." Bocah itu menitihkan air matanya seketika.


Samuel kalang kabut saat Mommy bocah itu beranjak dari tempat duduknya lalu melayangkan tatapan mematikan.

__ADS_1


Argh! Aduh bagaimana ini?! Tidak mungkin aku berkelahi dengan wanita kan?


Samuel menjerit di dalam hatinya kala wanita itu menaikkan lengannya seakan ingin mengajaknya berkelahi.


__ADS_2