
Untuk sekejap Shera termangu dan bertanya-tanya, siapa wanita yang memanggil suaminya dengan sebutan Baby ini, apakah kekasih Samuel yang bernama Anne.
Melihat kedatangan Anne ke kantor, sebisa mungkin Samuel bersikap biasa saja. Dia tak mau Anne sampai tahu jika wanita di hadapannya sekarang adalah istrinya.
"Maaf Baby, aku sedang memberikan karyawan baruku ini pelajaran, karena membuat ulah tadi di hari pertamaku berkerja," sahut Samuel tanpa menunjukkan ekspresi sama sekali.
Anne melipat tangan di dada lalu menelisik penampilan Shera. Perasaan cemburu mulai menyelimuti hatinya ketika melihat paras Shera yang terlihat lebih cantik darinya. "Oh begitu, ya sudah cepat kau keluar sana, jangan membuat masalah di perusahaan calon suamiku ini ya," ucap Anne, sedikit ketus.
Shera sontak terkejut.Namun, dia menyembunyikan keterkejutannya. Saat ini, entah mengapa hatinya begitu perih dan sakit, mendengar penuturan Anne barusan. Tanpa mengeluar satu katapun, Shera mengangguk pelan dan berlalu pergi dari ruangan.
Setelah melihat punggung Shera menghilang di pintu, Anne mendekati Samuel. "Baby, aku sudah kembali, aku minta maaf karena tak menepati janjimu kemarin ya," ucapnya sambil mengalungkan tangan di leher Samuel.
"Bukankah perkerjaanmu lebih penting dari aku, mudah sekali kau meminta maaf Anne. Aku menawarkan kau untuk berkerja di perusahaanku agar kita bisa sering berduaan tapi kau malah menolakku, sudahlah, aku kecewa pada dirimu." Samuel menurunkan tangan Anne kemudian berjalan cepat mendekati sofa.
Anne menghela napas kasar sambil menggerakan kaki, menghampiri Samuel. "Oh my God, Sam. Aku tak bermaksud seperti itu, mengertilah perkerjaanku Baby, jangan seperti ini Baby, aku merasa bersalah, maafkanlah aku, karena aku egois dan keras kepala..." lirihnya dengan mata berkaca-kaca.
Samuel terhenyak, melihat mata sendu Anne.
"Baby, maafkan aku, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Kedua mata Anne sudah digenangi air saat ini. Dia menatap dalam bola mata pria di hadapannya sekarang.
Melihat air mata Anne, Samuel terenyuh seketika. Dia tak tega melihat Anne menangis tersedu-sedu saat ini. Lalu Samuel membawa Anne ke dalam pelukan. "Baiklah, kali ini aku maafkanmu, sudah jangan menangis, Baby," ucapnya sambil mengelus punggung Anne.
Di dalam dekapannya, Anne mengangguk pelan. "Baby, hari ini aku di sini ya, sebagai gantinya,aku akan menemanimu berkerja hari ini."
__ADS_1
"Iya Baby," ucap Samuel.
Setelah menenangkan sang kekasih, Samuel pun berkerja sambil ditemani Anne. Dengan sabar Anne menunggu Samuel menyelesaikan perkerjaannya. Dari kejauhan, wanita itu duduk di sofa, memperhatikan Samuel sedang menganalisis dokumen yang menumpuk di atas meja.
Menjelang siang, sebelum beristirahat, Bruno diperintahkan Samuel untuk masuk ke ruangan.
"Siang Mister, ini dokumen yang anda minta." Bruno langsung menyodorkan sebuah dokumen kepada Samuel.
Samuel menyambut dokumen tersebut dan membaca data-data yang tertera didalamnya.
Selagi menunggu Samuel mengamati laporan, Bruno mengedarkan pandangan di sekitar dan tanpa sadar memicingkan mata kala melihat sosok wanita sedang duduk di sofa.
Saat merasa diperhatikan Anne sedikit risih. Dia memutar mata malas ke atas sejenak. "Ngapain tuh cowok, nggak bisa lihat cewek cantik apa," gumamnya pelan.
"Oh ya, baik, Mister, terima kasih." Bruno bergegas mengambil laporan dann melenggang pergi keluar.
"Ada apa Baby?" Samuel bertanya saat melihat wajah Anne sedikit bete.
Secepat kilat Anne mengubah mimik mukanya. "Nggak apa-apa Baby, sudah selesai kerjaannya?"
Samuel melempatkan senyuman tipis. "Sebentar lagi Baby, sabar ya."
***
__ADS_1
Tepat pukul tiga sore, para karyawan dan pimpinan perusahan sudah selesai berkerja. Mereka pun hendak pulang ke rumahnya masing-masing.
Shera menghela napas pelan karena akhirnya dapat pulang. Di hari pertamanya berkerja, pekerjaan Shera sebagai staff keuangan, lumayan menguras tenaga dan otaknya. Namun, Shera tak peduli, yang terpenting sekarang dia sudah memiliki perkerjaan tetap.
Setelah merapikan tas kerja, Shera langsung turun ke lantai bawah bersama teman kerja barunya.
"Kau naik apa, Shera?" tanya Jeni, teman baru Shera.
"Hm sepertinya taksi Jeni, kalau kau?"
"Hehe aku dijemput pacarku, nah itu dia, bye Shera!" Jeni melangkah cepat mendekati kendaraan roda empat milik kekasihnya.
"Bye!"
Selepas kepergian Jeni, perhatian Shera teralihkan tiba-tiba kala melihat pemandangan di depan sana, yang membuat jantungnya seakan tertusuk sebilah belati. Samuel dan Anne tengah bergandengan tangan dengan sangat mesra menuju mobil. Tanpa permisi cairan bening mengalir dari kedua matanya.
"Ada apa denganku?"
"Shera, ayo pulang bersamaku." Suara Bruno terdengar di belakang.
Shera terkejut. Dengan cepat menghapus air matanya lalu membalikkan badan. "Tidak usah Pak, aku bisa sendiri."
"Aish, kau ini!" Tanpa mendengarkan persetujuan Shera, Bruno menyambar tangannya dan menuntun Shera ke parkiran mobil.
__ADS_1