Istri Bayangan Tuan Arogan

Istri Bayangan Tuan Arogan
Panas


__ADS_3

Hanya berjarak berapa meter, Samuel begitu terkejut, melihat istri bayangannya berada di kantor sekarang. Tanpa mengeluarkan satu katapun, Samuel melirik Dimitri seketika, mencari jawaban atas pertanyaan yang bersarang dibenaknya sekarang. Bukankah tadi Dimitri mengatakan Shera pergi keluar ada urusan dan pulang sampai sore.


Dimitri pun tak kalah terkejutnya, karena berhasil dibohongi Shera. Dia membungkukkan badan sedikit, sebagai tanda permintaan maaf dan berharap Samuel tak marah ataupun melakukan kesalahan di hari pertamanya menjabat sebagai CEO.


Samuel malah mendengus kasar dan mengalihkan pandangan ke arah Shera, yang sekarang nampak salah tingkah.


"Maaf, Mister, dia karyawan baru di bagian keuangan, dan baru saja masuk hari ini, saya akan nasihati dia nanti," kata Bruno seketika saat melihat riak muka Samuel tak enak di pandang. Sebagai HRD manager, dia tak mau karyawan yang baru saja ia terima, membuat ulah pada CEO baru tersebut.


Samuel menyeringai tipis.


Berani sekali kau membohongiku Shera, awas saja kau, aku akan memberi kau pelajaran nanti.


"Hmm, baguslah, ajari dia sopan santun," ucap Samuel kemudian.


Bukannya bernapas lega, perasaan Shera malah tak karuan saat ini saat melihat seringai tipis yang terpatri di bibi Samuel barusan.

__ADS_1


Seulas senyum terukir di wajah Bruno. "Baik Mister, serahkan semuanya pada saya."


Tak ada sahutan, acara kembali dilanjutkan sampai selesai.


Selang beberapa menit, setelah melihat Samuel dan Dimitri keluar ruangan. Bruno langsung menggandeng tangan Shera dan melangkahkan kaki keluar aula. Pria itu hendak memberitahu Shera, mengenai tata krama berhadapan dengan Bos.


Shera terlihat salah tingkah saat banyak mata para karyawan khususnya karyawan wanita memandangnya dengan sinis.


"Pak, lepaskan tangan saya, tidak enak dilihat karyawan lainnya," ucap Shera sambil menyeimbangi langkah kaki Bruno.


Tak ada sahutan, Bruno malah mempercepat langkah kakinya, Shera panik bukan main, mendengar bisik-bisik karyawan kantor bergema di telinganya.


Langkah kaki Bruno pun terhenti dan menatap Shera. "Maaf,aku tak bermaksud."


Shera enggan menanggapi. Dia mengusap-usap pergelangan tangannya yang membekas akibat cengkraman Bruno tadi.

__ADS_1


"Shera, ayo kita ke ruangan lain, aku mau harus memberitahumu sesuatu." Bruno menatap lekat-lekat mata Shera seketika.


Shera menghela napas kasar sejenak. "Di sini saja Pak, aku takut kalau hanya berduaan, karyawan lain, akan beranggapan yang bukan-bukan tentang diriku," ucapnya.


Dahi Bruno berkerut samar. "Beranggapan apanya? Memangnya aku kenapa, di ruangan saja Shera, di sini banyak karyawan lalu-lalang."


"Tapi Pak, sebentar lagi aku harus berkerja, apa Bapak lupa kalau hari ini CEO sudah diganti, nanti dia marah lagi padaku, kalau aku melalaikan tugas." Sebisa mungkin Shera menciptakan jarak di antara Bruno karena tak mau para karyawan membuat gosip tentang dirinya dan Bruno.


Benar juga perkataan Shera. ******* berat pun terdengar dari hidung mancung Bruno seketika.


"Baiklah, jadi begini Shera, hari ini aku memaklumi kesalahan mu yang tidak sopan pada atasan kita, tapi lain kali jangan bersikap seperti itu lagi, jika berpapasan dengan Mister Samuel, bungkukkan badan sedikit dan sapalah walau dia tidak membalas sapaanmu, kalau dia sedang berbicara, perhatikan dan tatap mata lawan bicaramu," jelas Bruno panjang lebar.


"Baik Pak, aku benar-benar minta maaf, tadi aku gugup karena baru pertama kali menghadiri acara penyambutan, sebelumnya terima kasih karena sudah menasehatiku. Aku mau ke ruangan du–Ahk!"


Shera terkejut saat dari belakang seseorang menabrak punggungnya. Secepat kilat Bruno menahan tubuh Shera. Alhasil keduanya saling bertatapan dengan jarak yang begitu dekat.

__ADS_1


Beberapa meter dari Shera dan Bruno berada, Samuel mengepalkan kedua tangannya kala hatinya terbakar panas, entah karena apa.


"Shera Winfred! Ke ruanganku sekarang!" teriak Samuel seketika.


__ADS_2