
Hari datang silih berganti, tak terasa perut Shera semakin membesar. Selama itu pula Samuel berusaha mendekati Shera. Samuel seringkali menemani Shera ke rumah sakit, sekadar memeriksa kehamilannya. Akan tetapi Shera terkadang menjaga jarak dengannya. Samuel dibuat heran, oleh sikap Shera. Namun, dia tak akan menyerah untuk meluluhkan hati Shera. Meskipun waktunya tak lama lagi, sebab tempo lalu Samuel mengatakan akan menemani Shera sampai anaknya lahir ke dunia.
Perasaan Samuel semakin kacau karena perkiraan lahiran Shera sebentar lagi.
"Shera, apa kau sudah memberitahu bosmu untuk cuti kerja sebentar?" Semalam, Samuel memberi saran kepada Shera agar cuti berkerja sejenak untuk mempersiapkan lahiran anaknya yang di gadang-gadang hari perkiraan lahirannya, minggu depan. Tadi malam, Shera manut-manut saja dan berkata akan menghubungi bosnya.
"Sudah, Sam. Kau tenang saja, oh ya, bisakah kau memasak spaghetti, Sam? Aku mau beristirahat ke kamar, perutku sedikit sakit." Raut wajah Shera seperti menahan sakit.
Mendengar hal itu, Samuel mulai panik. "Tentu saja bisa, apa yang sakit? Apa sebaiknya kita ke rumah sakit saja, Shera," ucapnya sambil merangkul lengan Shera yang sedang kesusahan berjalan sekarang. Lalu dia menuntunnya melangkah menuju kamar Shera.
"Tidak Sam, aku hanya keletihan saja, kalau sudah berbaring pasti tidak sakit lagi, antarkan saja aku ke kamar." Shera menggengam erat tangan Samuel. Dia sedikit bersyukur atas kehadiran Samuel di sini. Karena dirinya tak sendirian menghadapi kehamilan pertamanya ini.
"Hm, baiklah, kau yakin? Mau aku urut kakimu?" Samuel semakin panik saat melihat wajah Shera yang sedikit pucat.
Shera tak langsung menyahut. Dia tengah menahan sakit yang menjalar di bawah sana seketika.
__ADS_1
"Shfttt, ahk... Sakit, Sam..." Shera sampai mengigit bibir bawahnya kala rasa sakit menjalar di perutnya semakin kian terasa sekarang. Secara bersamaan terdengar tetesan air jatuh perlahan dari bawah sana.
Sontak Samuel dan Shera menoleh ke bawah secara bersamaan. Melihat air ketuban Shera ternyata pecah dan mengalir pelan dari kedua pangkal kakinya.
"Shera! Bertahanlah Sayang!" Tanpa banyak kata, Samuel langsung mengangkat tubuh Shera dan melangkah cepat menuju pintu, hendak pergi ke rumah sakit.
*
*
*
"Hoek, hoek, hoek!" Seorang bayi munggil berjenis kelamin perempuan, menyembul keluar seketika.
Kedua Samuel mulai berkaca-kaca, melihat anaknya yang masih memerah menangis histeris. Dia terharu sejenak dan tanpa sadar dia mengecup pelan kening Shera sambil berkata," Terima kasih Sayang."
__ADS_1
Shera hanya diam saja namun matanya langsung tertuju pada anaknya yang sedang berbaring di dadanya kini. Kehangatan amat terasa di ruangan bersalin tersebut sekarang. Shera begitu bahagia atas kelahiran putrinya yang lahir dengan selamat, meski harus menahan sakit di sekujur tubuhnya sedari tadi.
Setengah jam kemudian, Shera sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.
Samuel memperhatikan dengan seksama anaknya tertidur pulas di samping Shera.
"Cantik sekali, seperti Mommynya. Jadi siapa namanya, Shera?" Samuel memegang tangan munggil anaknya.
Shera tersenyum simpul tanpa mengalihkan pandangan dari buah hatinya. "Tentu saja dia cantik sepertiku, aku bingung mau memberi namanya apa, menurutmu nama yang bagus untuk dia siapa?" tanyanya seketika.
Samuel langsung kegirangan karena Shera memperbolehkan dirinya turut andil dalam memberi anaknya nama.
Saat ini, Samuel tampak berpikir keras, tengah memikirkan nama yang cocok untuk anaknya.
"Shera?" Dalam hitungan detik, Sean melangkah masuk ke dalam bersama Risa dan seorang wanita. Kebetulan rumah sakit yang mereka tempati sekarang, tempat kerja Sean juga.
__ADS_1
Samuel dan Shera serempak menoleh. Shera melempar senyum tipis sementara Samuel memasang mimik muka masam, melihat kedatangan Sean. Akan tetapi, Samuel tiba-tiba keheranan, melihat seorang wanita paruh baya yang datang bersama mereka, menghampiri Shera tiba-tiba. Begitu pula dengan Shera tak kalah bingungnya, namun raut wajahnya berubah drastis saat mengamati muka wanita tersebut tampak mirip dengannya.
Sedangkan wanita itu menatap Shera tanpa mengedipkan sama sekali.