Istri Bayangan Tuan Arogan

Istri Bayangan Tuan Arogan
Kebahagiaan Shera


__ADS_3

Seminggu kemudian, pasca melahirkan, Shera di perintahkan Lily, berdiam diri di rumah dan menyuruhnya untuk tidak melakukan aktivitas berlebihan.


Perjanjian yang dikatakan Samuel tempo lalu juga tak berlaku lagi sekarang karena Lily mengatakan dirinya pasti memerlukan bantuan Samuel untuk mengurus buah hatinya. Shera menurut sebab ada benarnya juga dengan perkataan mantan mertuanya itu.


Sebelum kembali ke Los Angeles, Samuel ditugaskan Lily mengerjakan perkerjaan rumah, selagi Shera menimang anaknya. Shera manut-manut saja. Meski terkadang dia ingin membantu, sebab kerapkali Samuel memasak makanan sampai gosong.


Setelah menutup panggilan dari Lily, Shera mendekati buah hatinya, bernama Shania Andersean, tengah tertidur pulas di atas tempat tidur. Terdengar dengkuran halus dari hidung bayi munggil itu, Shera mengulas senyum tipis, melihat kelucuan anaknya.


"Lucunya." Kala Shania tertidur pulas, Shera seringkali mencium-cium gemas pipi bulat anaknya itu.


Boom!


Dalam tidurnya Shania terperanjat ketika mendengar suara bising dari luar. Shera pun tak kalahnya terkejutnya, secara perlahan dia mengelus dada Shania, berharap anaknya tak terbangun juga.


Semenit pun berlalu, Shera beringsut turun dari ranjang, hendak memeriksa keluar.


Sesampainya di luar, Shera membelalakan mata, melihat asap mengepul dari dapur. Dia melangkah cepat dengan mimik muka panik.


"Samuel! Apa yang terjadi?!" Shera berteriak sambil mematikan kompor seketika. Kemudian melihat Samuel, sedang terbatuk-batuk akibat asap yang menggepuk ke udara.


Samuel enggan menyahut. Dia malah menyengir kuda.


Sambil mengibas-ibaskan tangan di sekitar, Shera kembali bersuara."Samuel, kalau kau tak bisa memasak, jangan dipaksakan, sekarang kau keluar dari sini, biar aku saja yang membersihkan dapur ini." Shera menebak Samuel tak bisa menggoreng ikan dengan benar, alhasil terjadilah ledakan kecil di wajan tadi dan mengakibatkan makanan gosong karena tak di angkat Samuel.


"Jangan, nanti aku dimarahi Mommy, maaf Shera, aku belum terlalu pandai, biar aku saja yang membereskan semua ini!" Samuel menarik tangan Shera, hendak menuntunnya keluar dari dapur.


"Tapi, Sa–"


"No, no, no, tidak ada tapi-tapi!" Belum sempat Shera menyelesaikan perkataannya, Samuel menaruh jari telunjuknya tepat di bibirnya sambil mengajaknya keluar dari dapur.


Shera terdiam.


Sesampainya di ruangan tengah, Samuel memegangi pipi wanita itu.


"Sudah, kau jangan khawatir, aku akan mengurusnya, sekarang kau masuk ke dalam, tidurlah bersama Shania."Samuel langsung mengecup bibir ranum Shera dan melangkah pergi, meninggalkan Shera yang berdiri mematung, menatap kepergiannya.


Tanpa sadar Shera tersenyum lebar kala debaran itu semakin hari semakin kian terasa aneh. Dia tak menampik jika sampai saat ini masih mencintai Samuel. Namun, karena luka yang dia dapatkan dulu sehingga Shera menciptakan benteng pertahanan dihatinya sendiri. Shera dibuat galau jadinya, apakah akan menjadi single parent atau kembali merajut bahtera rumah tangga bersama Samuel, terlebih lagi sekarang ada Shania yang membutuhkan figur seorang ayah. Shera diterpa kebingungan.

__ADS_1


Setelah melihat punggung Samuel menghilang di balik pintu, Shera mulai menggerakkan kakinya. Namun, bunyi ketukan yang terdengar dari luar, menghentikan gerakan kakinya. Shera melangkah cepat menuju ambang pintu dan membuka pintu berlapis kayu tersebut.


Begitu pintu terbuka, Shera begitu terkejut, tatkala seorang wanita berhamburan memeluknya. Dia melihat Risa, Sean dan seorang pria paruh baya, berdiri di depan pintu dengan tatapan penuh haru.


"Shera, anakku, ini aku Mommymu Nak!" Clara melonggarkan pelukan dan mengecup pelan pipi Shera seketika.


"Maksudnya?" tanya Shera dengan tatapan kebingungan.


"Sayang, siapa yang datang?"


Bibir Clara tak jadi bergerak kala Samuel menginterupsi obrolan mereka.


Samuel mengernyitkan dahi, melihat kedatangan mereka. "Ada keperluan apa ya?" tanya Samuel penasaran.


"Bolehkah kami masuk dulu Nak." Clara melempar senyum tipis kepada Samuel seketika.


Samuel mengangguk cepat sambil melirik Shera yang tak kalah penasaran dan terheran-heran.


Setelah masuk ke dalam ruangan dan saling duduk berhadapan. Clara dan Risa mulai berbicara secara bergantian, menyampaikan kabar gembira untuk Shera. Mengatakan bahwa Shera adalah anak Clara yang hilang beberapa tahun silam.


Kemarin setelah mendapatkan hasil tes DNA dan ditelusuri lebih lanjut, mengenai kejadian tempo dulu, Clara mendapatkan fakta bahwa bayi yang meninggal di sungai bukanlah anaknya. Ternyata polisi melakukan kesalahan fatal. Akibatnya, Clara menuntut pihak kepolisian yang menangani kasus tersebut.


Setelah mendengarkan penjelasan Clara. Shera langsung memeluk orangtuanya secara bergantian.


"Selama ini aku pikir, aku di buang kalian, aku sangat merindukan kalian..." lirih Shera sambil menitihkan air mata. Dia tak menyangka masih memiliki orangtua. Sedari dulu Shera pikir dirinya di buang oleh orangtuanya sendiri. Namun, nyatanya karena suatu kejadian membuat dia dan orangtua kandungnya terpisah oleh jarak dan waktu.


"Tidak Sayang, Mommy tidak mungkin membuangmu, apa kau sekarang sudah menikah Nak?" Clara memeluk dengan erat sang putri sambil melirik Samuel sekilas.


"Tentu saja sudah, aku suaminya dan cucumu ada di dalam Mom!" Belum sempat, Shera menjawab, Samuel langsung berkata. Dia menatap penuh arti ke arah Sean, yang sepertinya masih mengharapkan Shera. Sebab sedari tadi, Samuel meredam rasa cemburunya kala melihat Sean, tak mengalihkan pandangan dari Shera.


"Bukannya kalian sudah bercerai?" Sean menatap tajam Samuel seketika.


"Itu hanya kabar burung!" Sean tersenyum penuh arti.


"Ck! Kau pem–"


"Sean! Hentikan!" Risa melototkan matanya kepada anak semata wayangnya itu karena terlalu ikut campur urusan Shera.

__ADS_1


Sean terdiam sejenak lalu memalingkan mukanya ke samping.


Di ruang tamu, suasana mendadak canggung seketika.


"Sudah, Mommy tak mempermasalahkan kau sudah bercerai atau tidak, yang terpenting cucu Mommy tak kekurangan kasih sayang, bukan begitu Ronald?" Clara melirik sang suami di samping.


Shera sedikit tersentil mendengar perkataan Mommynya. Dia tersenyum hambar, menanggapi perkataan Mommynya.


"Iya benar, oh ya di mana cucu Daddy dan Mommy, kami mau melihatnya." Ronald mengulum senyum kepada Samuel dan Shera bergantian.


"Oke tunggu sebentar." Samuel beranjak dari sofa dan mengambil Shania di kamarnya.


Cukup lama, kedua orangtua Shera berada di apartment. Sementara Risa dan Sean sudah pulang ke rumah.


Clara dan Ronald terlihat begitu gembira, menimang-nimang cucu pertamanya itu. Mereka mencium gemas Shania dan berebutan menggendong Shania.


Hari ini, perasaan Shera begitu campur aduk. Akhirnya setelah sekian lama, kepedihan yang pernah ia rasakan dulu tergantikan dengan kebahagiaan yang berkali-kali lipat.


Dari kejauhan, Shera memperhatikan interaksi antara orangtua dan buah hatinya. Sambil berdiri, Shera terkekeh-kekeh pelan.


"Ah–hmmf!"


Shera terkejut saat seseorang dari belakang membekap mulutnya dan memeluknya lalu menuntunnya bersembunyi di balik dinding antar ruangan.


Kedua mata Shera melebar ketika si pelaku membalik tubuhnya tiba-tiba dan ternyata si pelaku adalah Samuel.


"Samuel, apa yang kau lakukan?!" tanya Shera sambil melototkan mata karena Samuel mengurungnya hingga membuat punggungnya menempel ke dinding.


Samuel mendekatkan wajahnya tiba-tiba. "Kenapa kau selalu jual mahal, Shera? Apa kau tidak mendengar bunyi detak jantungmu sekarang yang seperti lomba lari maraton?" tanyanya sambil tersenyum smirk.


Shera nampak gelagapan. Secepat kilat ia ingin mendorong dada Samuel. Akan tetapi, tenaganya kalah. Naasnya Samuel malah menarik pinggang Shera lalu mengecup cepat bibir ranumnya.


Shera tersentak. Namun, kehangatan yang terasa di relung hatinya saat ini membuat dia tanpa sadar menikmati sentuhan yang di berikan Samuel. Hatinya berbunga-bunga, seakan ada kupu-kupu yang berterbangan di sekitarnya sekarang.


Dengan mata terpejam, Shera mengalungkan kedua tangannya di leher Samuel. Sementara, Samuel mengecup bibir Shera dengan penuh kelembutan dan kehangatan.


Semenit berlalu, Samuel terpaksa menyudahi cumbuannya karena mendengar Clara memanggil nama Shera.

__ADS_1


"Sayang, kau tidak bisa membohongi perasaanmu sekarang, aku tahu kau masih mencintaiku, mari kita mengukir kisah kita kembali bersama Shania, aku berjanji akan menjadi suami dan ayah yang baik untukmu dan Shania. Aku mencintaimu, Sayang. Belahlah dadaku jika kau tak percaya." Samuel menatap lekat mata Shera sambil mengusap pelan jejak permainannya di bibir Shera barusan.


Shera langsung menundukkan mukanya, karena tak berani menatap mata Samuel, yang akhir-akhir ini seakan membiusnya. Terlihat semburat merah muncul di kedua pipi Shera seketika. Entah mengapa, menurut Shera, kini Samuel seperti pujangga cinta yang selalu bisa meluluh lantahkan hatinya.


__ADS_2