Istri Bayangan Tuan Arogan

Istri Bayangan Tuan Arogan
Muntah


__ADS_3

Pagi pun tiba, Shera melenguh sejenak kala cahaya mentari yang masuk melalui sela-sela jendela menerpa wajahnya. Rasa sakit akibat semalam, membuat tubuhnya begitu sulit digerakkan sekarang.


Kedua matanya membuka perlahan lalu mengerjap-erjap sebentar, pandangannya langsung tertuju pada langit-langit ruangan. Kejadian tadi malam berputar-putar dibenaknya, setitik air bening mengalir lagi dari pelupuk mata Shera kini. Masih teringat dengan jelas, saat Samuel memperlakukannya bak binat4ng. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat darah akibat cambukan sampai mengering sekarang.


Dengan sisa-sisa tenaga yang ada Shera bangkit berdiri, mau tak mau ia harus berangkat kerja. Dia pun berjalan dengan tertatih-tatih menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar Shera berlarian pergi ke kamar mandi tatkala perutnya bergejolak kuat.


"Hoek, hoek, hoek!" Shera memuntahkan semua makanannya ke dalam wastafel. Aroma alkohol menyeruak ke indera penciumannya seketika.


"Bodoh sekali kau, Shera. Seharusnya aku tidak mengiyakan ajakan Bruno, awas saja kau Bruno," Shera berdesis pelan sambil membasuh sudut bibirnya yang terkena bekas muntahan barusan.


Setelah mandi dan memakai pakaian kerja, Shera bersiap-siap. Tak lupa ia menutupi luka-luka di tubuhnya dengan mengoleskan conclear dan foundation.


Selang beberapa menit, Shera sudah berada di kantor. Dia menatap tajam ke arah Bruno yang saat ini tengah melangkah cepat, menghampirinya.


"Shera, aku minta maaf soal kemarin." Bruno menatap lekat-lekat wajah Shera. Sejak semalam dia berperang dengan batinnya karena baru menyadari tindakan yang dilakukannya merugikan dirinya pula.


Shera mendengus kasar. "Maaf? Kau pikir dengan permintaan maaf, aku bisa langsung memaafkanmu Bruno, semula aku menghormatimu sebagai atasanku tapi sejak tadi malam pandanganku berubah terhadapmu, aku tak menyangka ternyata kau selicik itu."


"Shera, tolong maafkanlah aku, aku benar-benar menyesal, karena aku rasa cintaku padamu membuat aku menjadi orang bodoh, karena kemarin seseorang mengatakan padaku kalau kau mau menghancurkan hubungannya, jadi aku berusaha membantunya," ucap Bruno dengan melayangkan tatapan memelas.


"Menghancurkan apanya? Kau gila atau apa Bruno? Untuk apa aku melakukan hal kotor seperti itu! Asal kau tahu, aku sudah memiliki suami, jadi, simpan saja rasa cintamu itu!" seru Shera sambil menunjukan cincin berliannya.

__ADS_1


Entah mengapa Shera tak dapat mengontrol emosinya yang meluap-luap saat ini. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, dia berlalu pergi dari hadapan Bruno.


Bruno tercenggang, tak mengira jika Shera sudah berkeluarga. Padahal seingatnya di surat lamaran kerja kemarin, status Shera single.


Sementara itu di sisi lain, Samuel duduk termenung di ruang kerjanya. Ada rasa tak tega menyelinap jauh di lubuk hatinya saat ia menyiksa Shera semalam. Sambil menopang dagunya di atas meja, kedua mata Samuel menatap lurus ke arah pintu ruangan.


"Mengapa aku sangat marah saat Shera digendong Bruno, ada apa denganku?" gumamnya kemudian.


"Mister!"


Samuel tersentak ketika dari samping Dimitri menepuk kuat pundaknya. Dia menoleh cepat. "Iya?"


"Ponsel anda berdering sedari tadi, Nona Anne menelepon anda, Mister," ucap Dimitri dengan raut wajah datar.


Samuel mendes4h pelan, karena terlalu lama melamun, membuatnya sampai lupa diri. Dengan cepat ia menyambar ponsel di atas meja.


"Sam, cepatlah kemari, aku memiliki berita bagus, hoek!"


Samuel panik seketika kala mendengar Anne muntah.


"Baby, kau kenapa?!"


"Jangan banyak tanya Sam, cepatlah kemari."

__ADS_1


Tanpa bertanya lagi, Samuel bergegas ke apartment dan tak lupa menyuruh Dimitri mengambil alih perkerjaannya.


*


*


"Baby, kau kenapa?!"


Sesampainya di sana, Samuel langsung masuk ke apartment dan mendapati Anne tengah muntah di kamar mandi.


Anne masih mengeluarkan isi perutnya ke wastafel sambil sesekali melirik Samuel dari cermin di hadapannya.


Selang beberapa menit, Anne sudah selesai membasuh bibirnya. Dia membalikkan badan sambil mengambil sesuatu di atas meja wastafel, lalu melangkah cepat, menghampiri Samuel.


"Baby, kita ke rumah sakit ya." Samuel menarik pinggang Anne.


Anne mengulas senyum tipis. "Iya, tapi nanti, kau harus tahu sesuatu, Baby," ucapnya lalu menyodorkan benda pipih kepada Samuel. "Ini, sebentar lagi kau akan menjadi seorang Daddy."


Mata Samuel berkedip cepat, seakan tak percaya akan perkataan Anne barusan. Dengan cepat ia mengambil benda tersebut dari tangan Anne dan mengamatinya dengan seksama, dua garis merah tergambar jelas di testpack.


"Hamil?"


"Iya Baby!" Anne tersenyum lebar kemudian memeluk erat tubuh Samuel. "Maka dari itu cepat ceraikan Shera, Baby, katakan pada Mommymu kalau aku akan melahirkan seorang cucu untuknya."

__ADS_1


Samuel terpaku di tempat. Seharusnya dia senang sekarang jika Anne tengah mengandung anaknya, tapi mengapa perasaannya malah kalut.



__ADS_2