Istri Bayangan Tuan Arogan

Istri Bayangan Tuan Arogan
Lemas


__ADS_3

Setelah saling memandang satu sama lain, Samuel memutuskan kontak mata seketika dan bergegas berjalan mengekori Shera dari belakang. Hatinya semakin takut kala melihat sikap Shera sekarang, yang seakan tak menganggapnya ada. Namun, Samuel memakluminya sebab luka yang ia torehkan di hati Shera pasti masih membekas hingga saat ini.


"Mengapa kau mengikutiku ha!" Shera membalikkan badannya seketika. Wanita hamil itu sedang menahan amarahnya.


"Memangnya aku salah mengikuti ibu dari anak-anakku," ucap Samuel pelan sambil menunjukan mata memelas. Dia baru saja teringat, perkataan Mommynya di telepon tadi, memberinya saran untuk bersikap lemah lembut kepada Shera. Agar hati Shera dapat luluh. Mulai dari sekarang ia akan berusaha mengambil hati Shera sesuai saran dari Mommynya.


Shera tertegun sejenak, ketika melihat raut wajah Samuel yang begitu nelangsa. Ada perasaan iba dan kasihan yang merasuk ke relung hatinya saat ini. Shera pun baru saja menyadari kalau penampilan Samuel sekarang, tampak berantakan, seperti tak terurus.Tanpa mengucapkan satu katapun, Shera melenggoskan muka dan melangkah cepat menuju apartmentnya.


"Shera, apa kau sudah minum susu?" Entah angin dari mana, tiba-tiba Samuel bertanya saat Shera baru saja menggerakan gagang pintu.


Shera melirik Samuel. "Belum, kenapa?" tanya Shera sedikit ketus.


"Aku hanya ingin tahu saja, kasihan anak kita, eh maksudku anakmu dia harus diberi makan, kau pasti belum makan kan?"


Shera memicingkan mata, melihat perhatian yang diberikan Samuel saat ini.


"Iya, selesai mandi, aku akan makan, bye!" sahutnya sambil membuka pintu aparment hendak masuk ke dalam.


"Tunggu Shera." Samuel menahan tangan Shera seketika.


Shera menatap tajam.


"Shera, aku tahu, kau pasti sangat membenciku, tapi walau bagaimanapun aku adalah ayah anakmu, sekali lagi aku minta maaf, karena selama ini aku menyakitimu. Soal Anne, aku dan dia tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, anak yang di dalam perutnya juga bukan anakku, melainkan anak selingkuhannya."


Shera sontak terkejut, mendengar penuturan Samuel barusan. Akhirnya pertanyaan yang bersarang di benaknya kemarin, terjawab juga. Entah mengapa, perasaan senang menyelinap ke hatinya saat ini.


"Kalau kau tidak percaya, kau bisa menelepon Mommy." Samuel kembali menambahkan kala melihat Shera hanya diam dan tak menanggapi perkataannya.


"Hmm." Shera berdeham rendah.

__ADS_1


"Shera, aku tahu kau tidak akan mungkin mau kembali padaku, jadi, bolehkah aku tinggal bersamamu sembari menunggu anak kita lahir, ini demi anak kita, kau tenang saja, aku akan tidur di sofa, setelah kau lahiran, aku akan pergi." Samuel menatap tulus ke dua bola mata Shera.


Kali ini tatapan itu, lantas membuat Shera terenyuh. Dia nampak menimbang-nimbang sesaat.


"Shera, aku mohon, selama aku tinggal di sini, aku tidak akan merepotkanmu dan akan membantumu mengurus apartment, kau pasti kesusahan bergerak kalau perutmu sudah membesar nanti."


Samuel sedang memainkan aktingnya. Dia akan mendekati Shera dengan cara halus. Walau hatinya gamang, apakah Shera akan luluh padanya nanti. Entahlah, setidaknya Samuel akan berusaha terlebih dahulu.


Cukup lama Shera terdiam, sampai pada akhirnya, wanita itu kembali bersuara.


"Baiklah, tapi jangan mencampuri urusanku selama kau tinggal bersamaku, mengerti?" tanya Shera sambil melototkan mata sedikit.


Samuel mengulas senyum tipis. "Iya Sayang, kau sangat lucu tahu, sepertinya anakku akan bawel dan galak seperti ibunya," kata Samuel tanpa sadar. Dia menutup mulutnya sendiri seketika.


Shera terpaku. Benar juga kata Samuel, selama hamil, emosinya selalu meledak-ledak dan susah sekali dikontrol.


Mendengar hal itu, Samuel semangat 45. "Baiklah, aku keluar sebentar ya, aku tidak akan lama, baik-baik ya Sayang." Sebelum melangkah pergi, lagi dan lagi, Samuel tanpa sengaja mengelus pelan perut Shera dan melabuhkan kecupan di perutnya dengan cepat.


Shera terpaku di tempat sambil menatap seksama punggung Samuel bergerak menjauhinya.


*


*


*


Sudah seminggu Samuel tinggal bersama Shera. Pria itu benar-benar menepati perkataannya, walaupun terkadang setiap tengah malam, Samuel mengendap-endap masuk ke kamar Shera, sekadar mencium kening mantan istrinya itu.


Hari senin ini, biasanya Shera akan lebih cepat pergi berkerja. Samuel yang sudah terlihat luwes memasak di dapur, sedang menyiapkan sarapan untuk Shera.

__ADS_1


"Bagaimana, enak tidak?" tanya Samuel sambil meletakkan spatula ke wastafel.


Shera melirik Samuel sekilas lalu mengigit sandwich isi tuna yang di buat Samuel barusan.


"Hm, biasa saja!" kilah Shera, padahal rasa makanan tersebut, terbilang enak dilidahnya, namun, karena gengsi setinggi gunung, Shera enggan memuji masakan Samuel.


"Oh begitu." Samuel menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena ternyata masakannya tidak enak. Dia melirik jam di dinding dapur sekilas. "Hem sudah mau jam 7, berangkatlah Sayang, nanti terlambat, apa mau aku antar?" tanya Samuel menawarkan diri.


"Tidak usah, Sean akan menjemputku." Shera beranjak dari tempat duduknya sambil mengunyah pelan sarapannya.


Mendengar nama Sean disebut, dada Samuel bergemuruh kuat. Tampaknya pria itu tak pantang menyerah untuk mendapatkan Shera. Semakin mencelos hati Samuel, sebab Shera lebih menanggapi Sean ketimbang dirinya.


"Baiklah, hati-hati."Samuel menarik napas dalam, saat melihat Shera mulai mengambil tas kerjanya.


Shera enggan menyahut. Dia pun keluar dari apartment.


***


Tepat pukul satu siang, Samuel memutuskan untuk pergi ke cafetaria Shera. Ingin memantau aktivitas Shera secara diam-diam, seperti yang ia lakukan akhir-akhir ini. Apalagi dia terkadang pernah melihat Sean berkunjung ke tempat kerja Shera. Tentu saja dia cemburu.


Kedua mata Samuel terbelalak saat melihat Sean menarik tangan Shera keluar dari cafetaria. Secepat kilat ia mengikuti Shera dan Sean. Saat ini, Samuel seperti penguntit saja.


Berjarak beberapa meter dari cafetaria, kini Shera dan Sean berdiri saling berhadapan satu sama lain. Jantung Samuel berdetak cepat kala melihat Sean menyembunyikan sebuket bunga di belakang badannya ternyata.


Samuel menebak jika Sean ingin mengutarakan perasaannya. Karena jarak terlalu jauh, Samuel terpaksa mendekati mereka lagi dan bersembunyi di balik pohon.


Si4lan! Aku kalah cepat, bagaimana ini! Apa aku sudah tak memiliki kesempatan lagi?


Samuel memperhatikan dengan seksama Shera tengah mengambil bunga dari tangan Sean. Rasanya Samuel ingin sekali menjerit karena wanita yang ia cintai telah di ambil oleh oranglain. Di balik pohon rindang itu, Samuel merosot ke bawah dan terduduk lemas.

__ADS_1


__ADS_2