
Keesokan harinya, Anne berencana datang ke perusahaan Samuel ingin melihat Shera lagi. Setelah menemui Samuel sejenak di kantor. Dia keluar dari ruangan sebentar, beralasan ingin mengambil barangnya yang ketinggalan di mobil. Kini Anne sedang mengedarkan pandangan di sekitar, menelisik keberadaan Shera.
"Di mana wanita itu?" Anne bergumam pelan sambil matanya bergerak ke segala arah.
"Baby, kenapa di sini?" Samuel menepuk pelan pundak Anne dari belakang.
Anne menoleh. "Hehe, sebentar lagi aku masuk Baby, aku sedang mencari udara segar," kilahnya.
"Oh, baiklah, aku mau ke ruangan lain dulu bersama Dimitri karena sebentar lagi akan ada pertemuan dengan kolega bisnis," ucap Samuel sambil tersenyum tipis.
"Oke, aku akan menunggumu di dalam ya nanti." Anne membalas dengan melengkungkan senyuman pula.
Samuel mengangguk kemudian melenggang bersama Dimitri, yang sedari tadi berada di belakangnya.
Selepas kepergian Samuel, Anne kembali mencari Shera. Pergerakan matanya tiba-tiba terhenti saat melihat Shera dan Bruno sedang sedang bertabrakan di koridor. Anne dapat melihat pria yang pernah melirik sinisnya kemarin, sepertinya memiliki ketertarikan pada Shera.
Kena kau! Awas saja kau, Shera!
Saat ini Anne menyeringai tipis. Dia tengah memikirkan cara agar Samuel dapat menceraikan Shera secepatnya.
*
*
*
Menjelang sore, para karyawan sudah selesai berkutat dengan perkerjaannya. Shera menghela napas kasar karena akhirnya dapat pulang ke rumah dan beristirahat. Sekarang dia sedang merapikan tas kerjanya sejenak.
"Shera, mari pulang bersamaku." Dari samping Bruno menghampiri Shera.
__ADS_1
"Aku bisa sendiri, Pak," ungkap Shera sambil tersenyum kecil.
"Ayolah Shera, hari ini kita dan semua divisi akan makan-makan diluar, sembari kau mencari teman di kantor, tenanglah aku akan mengantarmu pulang nanti." Bruno berusaha membujuk Shera.
Shera berpikir sejenak. Ya, memang benar, saat ini dia memiliki teman yang sedikit. Sebab gosip tentang kedekatannya dengan Samuel menjadi buah bibir di perusahaan, alhasil hampir sebagian karyawan memusuhinya terutama para kaum wanita.
"Baiklah, Pak. Tapi aku tak bisa lama-lama Pak, takut bibiku memarahiku kalau pulang telat." Setelah menimbang-nimbang barusan, akhirnya Shera mengiyakan ajakan Bruno.
"Good, iya, tidak apa-apa." Bruno mengulas senyum tipis.
Setengah jam kemudian, Bruno dan Shera telah sampai di restaurant. Mereka langsung bergabung bersama karyawan lainnya.
Shera tampak menikmati makanan yang tersaji di atas meja.Setelah bercengkrama dengan karyawan lainnya, mereka sedikit merubah pandangan tentang Shera. Sebab Shera memiliki kepribadian yang menyenangkan ternyata.
Kini hari sudah malam, Shera sampai lupa waktu.
"Ayo Shera, minumlah ini, sebagai perayaan kau bergabung di divisi keuangan," ucap salah seorang wanita yang duduk disampingnya sedari tadi.
"Aish, tidak seru, ayolah sedikit saja, kapan lagi coba." Wanita itu nampak cemberut.
Shera jadi serba salah. Dia pun melirik Bruno di sebelahnya sejenak.
"Minum sedikit saja Shera, kau tidak akan mabuk kok," ucap Bruno kemudian.
"Iya benar kata Pak Bruno, sedikit saja Shera, kasihan loh Jessika sudah menawarkannya padamu." Seorang wanita yang duduk di hadapan Shera, menimpali obrolan mereka.
Shera mengangguk pelan. Mau tak mau ia menuruti permintaan teman barunya itu. Namun, baru seteguk saja kepalanya sudah pusing.
"Sudah, aku tidak mampu lagi." Dengan cepat Shera meletakkan gelas di atas meja.
__ADS_1
Para karyawan malah terkekeh-kekeh melihat ekspresi Shera saat ini.
Shera meringis pelan kala kepalanya berdenyut kuat. Dan dalam hitungan detik, pandangannya kabur, kepala Shera langsung jatuh ke atas meja.
Para karyawan yang lain terkejut. Namun berbeda dengan Bruno. Dia malah tersenyum penuh arti. Dia pun langsung pamit pada semua karyawan ingin mengantarkan Shera pulang.
*
*
*
Bukannya mengantar Shera pulang, mobil Bruno malah berhenti di hotel berbintang lima.
"Aku di mana?" Shera setengah sadar. Dia menyipitkan mata ketika melihat Bruno sedang membopongnya.
Bruno enggan menyahut. Dia menatap penuh nafsu Shera lalu menuntunnya masuk ke dalam lift.
Sesampainya di lantai dua, Bruno terpaksa mengangkat tubuh Shera ala bridal style dan melangkah cepat menuju kamar.
Tepat di depan pintu, Bruno memutar gagang pintu lalu menyeringai tipis sebelum masuk ke dalam.
"Dengan begini kau akan menjadi miliku Shera," desisnya pelan.
Jepret!
Dari jarak beberapa meter, Anne memotret Bruno yang sedang menggendong Shera. Dia tersenyum lebar karena berhasil mendapat apa yang diinginkan.
Setelah itu Anne mengirim foto tersebut pada Samuel.
__ADS_1
Yes! Mulus sesuai rencanaku, bye-bye Shera.