
Meninggalkan Samuel yang dilanda keresahan hati, kembali pada Shera di kantor. Sedari tadi wanita itu berkutat dengan laporan yang menggunung di atas mejanya, meskipun kepalanya berdenyut nyeri sedari tadi dan sesekali bolak-balik toilet karena perutnya bergejolak kembali seperti tadi pagi. Shera tetap berkerja profesional.
Sambil mengoles-oles minyak di hidung dan pelipisnya, Shera menatap layar laptopnya kembali dan berharap laporannya cepat selesai
"Shera, wajahmu sangat pucat, kau sakit?" tanya seorang rekan kerjanya di samping, sedari tadi memperhatikan tingkah laku Shera.
Shera menoleh ke samping, belum sempat ia mengeluarkan suara, pandangannya menggelap seketika.
Shera ambruk di tempat.
"Shera!" jerit teman kerjanya seketika, melihat Shera tergolek tak berdaya di lantai.
Para karyawan yang berada di ruangan sontak terkejut dan bergegas membopong Shera ke rumah sakit terdekat.
*
*
"Aku di mana?" Shera meringis pelan saat melihat dirinya sekarang berada di ruangan berwarna putih. Dia terbaring lemah di atas brangkar sambil matanya celingak-celinguk ke segala arah.
"Nona Shera, bagaimana perasaan anda saat ini?" Seorang wanita berjas putih dan berkacamata, menghampirinya.
Shera menoleh. "Iya, sudah agak mendingan, aku di mana?"
Sang dokter tersenyum tipis. "Nona di rumah sakit sekarang, baguslah, saya senang mendengarnya, sebaiknya anda jangan terlalu memporsir tenaga, kurangi-kurangilah berkerja, kasihan janin anda."
Dahi Shera berkerut amat kuat. "Apa maksud Dokter?"
"Apa Nona tidak tahu kalau sekarang Nona sedang mengandung, ini hasil USG-nya tadi," ucap Dokter sambil menyodorkan hasil pemeriksaan kepada Shera.
Shera terkejut seketika. "Ha-mil?" ucapnya terbata-bata sambil memperhatikan hasil USG di tangannya.
__ADS_1
"Iya, selamat Nona, untuk saat ini sebaiknya anda beristirahat saja di rumah, saya akan meresepkan vitamin untuk anda."
Shera tertegun sejenak. Dia tak mampu berkata apa-apa lagi sekarang. Bahagia, bingung dan gelisah melebur menjadi satu saat ini.
Nak, mengapa kau hadir di waktu yang tidak tepat?
Shera mengelus perutnya yang masih datar itu seketika.
Selang beberapa menit, setelah mendapatkan vitamin dan merasa tubuhnya tak lagi lemas, Shera memutuskan pulang ke mansion, hendak memberitahu Samuel. Walau bagaimanapun Samuel perlu tahu bahwa dirinya saat ini tengah mengandung pria anak itu.
*
*
*
Kediaman Samuel.
Samuel menoleh. "Em, aku sedang bingung, Anne tengah hamil anakku."
Dimitri tampak terkejut, kemudian menghela napas dalam setelahnya. "Lalu apa yang anda risaukan, bukankah bagus, jadi anda memiliki alasan untuk menceraikan Shera."
"Iya kau benar, tapi aku bingung caranya menceraikan Shera karena..." Samuel menghentikan perkataannya seketika tengah berperang lagi dengan perasaannya, setiap mendengar nama Shera, dadanya berdebar-debar tak karuan, terlebih lagi ada sesuatu yang menjanggal dengan kehamilan Anne. Namun, karena dibutakan cinta, akal sehatnya tak lagi berkerja sebagaimana mestinya.
"Sekarang saya tanya apa anda mencintai Nona Shera?" Melihat atasannya diterpa kegundahan, Dimitri bertanya sekali lagi.
Samuel melirik Dimitri lagi. "Cinta?" ucapnya lalu terkekeh pelan. "Kau ini ada-ada saja Dimitri, tentu saja tidak, justru kehadirannya membuat hidupku sulit, Mommy selalu menempatkanku di posisi yang salah, lihatlah karena kehadirannya membuat aku dan Anne selalu bertengkar, jadi tidak mungkin aku mencintainya, yang ada aku malah membencinya, sampai kapanpun aku akan tersiksa jika terus bersamanya."
Tanpa disadari Samuel, seseorang dibalik pilar menitihkan air matanya seketika tatkala mendengar perkataannya barusan.
Shera meremas kuat hasil USG tersebut. Bagai tertusuk belati, hatinya begitu sakit. Niatnya untuk memberitahu kalau dirinya hamil, ia urungkan, tanpa berpikir panjang Shera mengambil ponsel, hendak menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Mom Lily apa sudah di Indonesia, ada yang mau aku bicarakan." Shera sampai mengigit bibir bawahnya, menahan isak tangisnya agar tidak terdengar oleh mertuanya.
"Hallo Sayang, kebetulan sekali Mommy sudah di LA, ayo datanglah ke mansion sekarang, Mommy membawakanmu oleh-oleh." Di sebrang sana Lily tampak kegirangan mendengar suara menantunya itu.
"Iya Mom, sebentar lagi aku ke sana," ucapnya sambil menghapus air mata. Secara diam-diam Shera melenggang pergi dari mansion.
Dengan jarak beberapa meter Samuel dan Dimitri masih di ruang tamu. Setelah menanggapi perkataan Dimitri tadi, keheningan tercipta sesaat di ruangan.
"Anda yakin tidak mencintai Nona Shera?" Dimitri mengangkat satu alis matanya sedikit.
"Tentu saja aku yakin, mengapa kau bertanya lagi Dimitri!" Samuel mulai tersulut emosi karena Dimitri mengajukan pertanyaan yang sama sekali lagi.
"Oh baguslah, setelah anda bercerai dari anda, jadi saya memiliki kesempatan untuk mendekati Nona Shera."
Samuel bangkit berdiri sambil melayangkan tatapan tajam. "Apa maksudmu! Berani-berani kau mau mendekati Shera! Kau tidak punya kesempatan!"
"Kenapa anda marah? Katanya anda tidak mencintai Nona Shera, tapi lihatlah sekarang sepertinya Mister tengah cemburu," ucap Dimitri tanpa ekspresi sama sekali.
Samuel berkacak pinggang. "Cih! Jangan gila kau, aku tidak mungkin cemburu."
"Saya tidak gila, Mister. Coba pikirkan lagi, Mister. Saya yakin sebenarnya anda sudah mencintai Nona Shera, hal itulah yang membuat perasaan anda gelisah saat ini, tapi karena ego yang tinggi, anda menyangkalnya, pikiranlah lagi matang-matang Mister, sebelum anda menyesal."
Samuel terpaku sejenak.
"Mister, maaf kalau saya lancang, sebaiknya anda periksa juga apakah Nona Anne benar-benar hamil anak anda atau bukan, karena–"
"Stop! Jaga ucapanmu Dimitri! Sekarang aku tanya, apa kau sudah menemukan bukti kalau Anne berselingkuh!"
Dimitri menggeleng cepat.
"Jadi tentu saja itu anakku!" Samuel mendengus lalu berlalu cepat dari hadapan Dimitri.
__ADS_1
Setelah melihat punggung Samuel menghilang, Dimitri menghela napas. "Mengapa semua anak laki-laki Nyonya Lily semuanya bodoh, Tuan Kendrick, Tuan Nickolas dan Tuan Samuel, semuanya sama saja," gumamnya pelan.