
Setelah berbincang-bincang sebentar bersama Bruno, Shera melangkah cepat memasuki mansion utama. Shera dapat bernapas lega karena Bruno mudah dikelabui rupanya, tadi saat pria itu bertanya mengenai tempat tinggalnya yang megah. Shera berkilah dan mengatakan mansion milik bibinya.
"Hah, syukurlah, sepertinya Samuel belum datang." Sesampainya di dalam, Shera mengedarkan pandangan di sekitar, menelisik keberadaan Samuel.
"Lebih baik aku langsung ke kamar saja, sebelum dia datang nanti, em tapi Samuel dengan Anne ke mana ya?"
Raut wajah Shera berubah sendu tatkala teringat kejadian beberapa jam lalu. Tak mau berlarut-larut dalam kepedihan, Shera memutuskan untuk bergegas pergi ke kamar. Namun, belum juga kedua tungkai kaki Shera bergerak, suara seruan seseorang dari belakang mengagetkannya.
"Mau pergi kemana kau!!!" Dengan napas memburu Samuel menghampiri Shera.
Shera tersentak sejenak kemudian membalikkan badan dan menatap langsung mata Samuel yang berkilat menyala.
"Tentu saja aku mau ke kamar, ada apa?" tanyanya tanpa rasa takut.
Bukannya menjawab pertanyaan, Samuel malah menyeret paksa Shera menuju lorong kamar.
"Sam! Kau mau apa! Lepaskan aku!" Shera menangkap adanya radar bahaya tengah mengintainya saat ini. Dia merasa Samuel sedang berang, entah karena apa.
"Berani-beraninya kau pergi bersama Bruno! Apa kau selalu tebar pesona dengan semua pria ha!" Samuel berkata tanpa menatap lawan bicaranya.
__ADS_1
Shera mengerutkan dahi sesaat. "Apa maksudmu? Lepaskan aku, Sam. Tanganku sakit..." lirihnya sambil menahan perih saat cekalan di pergelangan tangannya kian terasa kuat
Tak ada sahutan, Samuel mengindahkan perkataan Shera. Dan memilih mempercepat langkah kakinya.
"Sam!!! Lepaskan aku! Aku bilang lepaskan aku!"
Di sepanjang langkah, Shera menjerit histeris sembari memberontak. Akan tetapi, tenaga Samuel ternyata lebih kuat. Akhirnya Shera hanya bisa pasrah.
Sesampainya di kamar utama, Samuel mengunci pintu kamar rapat-rapat dan mendorong tubuh Shera ke atas kasur.
"Samuel, kau mau apa? Cambuk saja aku!" Shera begitu panik, melihat kedua mata Samuel menyiratkan tatapan yang aneh menurutnya.
Samuel menyeringai tipis dan berkata, "Rupanya kau mau dicambuk, oke sesuai keinginanmu!" Lalu Samuel melepas ikat pinggang yang melilit dicelana.
Cletak!
Shera meringis pelan kala kulit tipisnya tergores barusan. Sedikit lega karena cambukan hari ini tak terasa kuat seperti kemarin.
Selanjutnya keheningan tercipta sejenak di ruangan.
__ADS_1
Shera heran karena tak mendapat cambukan lagi. Dia masih bergeming di tempat, matanya terpejam, dan masih bersikap siaga dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.
Sementara Samuel diam-diam naik ke atas tempat tidur sambil melepas semua kain yang menempel ditubuh kekarnya.
"Argh!" Shera terlonjak kaget kala Samuel mengukungnya seketika. "Sam, kau ma–hmmm!"
Kurang ajar, dia menyentuhku lagi.
Shera menjerit histeris di dalam hatinya saat Samuel menciumnya dengan sangat liar dan brutal sekarang. Sampai-sampai dia kesusahan bernapas.
Shera, ayolah, lawan dia! Argh! Ada apa denganku! Si4l!
Saat Samuel mencumbunya lebih dalam kini, dia sama sekali tak melawan. Shera mengutuk dirinya sendiri karena pikiran dan anggota tubuhnya tak selaras saat ini.
"Lepaskan aku... " lirih Shera ketika Samuel mulai mengendurkan pelukan.
Samuel tengah menempelkan dahinya ke dahi Shera dan menatap dalam bola mata berwarna amber itu. Seringai licik terukir jelas di wajahnya tiba-tiba.
"Sam, ah...." Shera melebarkan mata tatkala Samuel bermain dileher jenjangnya sekarang.
__ADS_1
Mampir ke sini juga ya, sambil nunggu update-an 😍