Istri Bayangan Tuan Arogan

Istri Bayangan Tuan Arogan
Melawan


__ADS_3

Samuel kebingungan seketika, mengapa sikap Shera berubah tak seperti biasanya. Kemarin, wanita di hadapannya ini sama sekali tak mau menatapnya, namun sekarang Shera langsung menatap matanya, tanpa rasa takut sedikitpun.


Hening, kesunyian tercipta sesaat.


"Kalau tak ada lagi yang mau dibicarakan, aku mau ke kamarku," sahut Shera sambil melangkahkan kaki.


"Tunggu!" Samuel menahan tangan Shera seketika. "Siapa yang suruh kau pergi, aku belum selesai berbicara Shera soal yang kemarin, jangan beritahu Mommyku kalau aku mencambukmu."


Shera melirik Samuel. "Kau tak usah khawatir Sam, aku bukan pengadu."


Mimik muka Shera terkesan dingin. Membuat dahi Samuel semakin berkerut kuat. "Hm baguslah, lalu soal–"


"Iya, iya, aku tahu, tenanglah, aku akan melupakan apa yang terjadi di antara kita semalam, tak usah kau pikirkan, mulai detik ini, aku tidak akan menampakkan wajahku di hadapanmu," sela Shera cepat sembari mengibas tangan Samuel. "Aku mau ke kamar dulu." Shera kembali menambahkan, sebelum melangkahkan kaki.


Lagi dan lagi Samuel terheran-heran atas sikap Shera. Setelah melihat punggung Shera menghilang di depan sana. Samuel mengalihkan pandangan ke arah Dimitri.


"Dimitri, apa kau memberinya makanan yang salah?"

__ADS_1


"Tidak Mister, makanan yang disediakan para maid di kulkas semuanya baik." Dimitri sama herannya. Sedari tadi tangan kanan Samuel itu berdiri tegap di belakang Samuel, melihat interaksi antara Shera dan majikannya.


Tak ada sahutan, Samuel tampak berpikir keras, menerka-nerka apa yang terjadi pada Shera.


Di sisi lain, Shera menghempas tubuhnya di atas kasur. Dia menarik napas panjang, menetralisir perasaan takut yang menjalar di hatiya saat berhadapan dengan Samuel tadi.


"Oh my God, darimana datangnya keberanian ku tadi? Apa yang terjadi denganmu Shera?" Shera tak menyangka, bisa berani menyanggah perkataan Samuel. Shera bingung pada dirinya sendiri jadinya.


"Hah sudahlah, Shera. Bukankah bagus, kau harus pandai melawan pria psyco itu," desisnya pelan sambil merogoh sweater hendak mengambil ponsel. "Semoga saja aku diterima di perusahaan itu." Shera menekan-nekan layar ponsel berharap akan ada satu notifikasi masuk dan membawa kabar gembira untuknya.


***


"Semoga saja Dimitri membaca pesanku."


Sebelum keluar dari mansion, Shera tak lupa mengirimkan pesan singkat kepada Dimitri, mengatakan ada urusan di luar dan akan pulang sore. Untuk saat ini, hanya alasan itu yang terlintas dibenaknya dan Shera akan mencoba mencari cara lain ke depannya agar bisa keluar mansion tanpa dicurigai oleh empunya mansion.


Setelah meminta izin pada Dimitri, Shera bergegas pergi ke tempat kerjanya. Sesampainya di sana, Shera di sambut langsung oleh Bruno.

__ADS_1


"Aku tak menyangka, kau datang lebih awal, sepertinya kau sangat bersemangat dalam berkerja," sahut Bruno sambil berjalan berdampingan bersama Shera, hendak mengantarkan pegawainya itu ke ruangan kerja Shera yang berada di lantai dua.


Shera tersenyum tipis. "Iya Pak, saya–"


"Jika hanya berdua bersamaku, gunakan bahasa informal saja," potong Bruno cepat.


"Baik Pak." Senyuman yang terukir di wajah Shera tak memudar sedari tadi.


"Oh ya, hari ini ada pengangkatan CEO Triplet Corp yang baru, jadi setelah kau meletakan tasmu di ruangan, kau bisa ikut aku lagi ke aula besar," sahut Bruno lagi.


"Siap Pak, maaf kalau aku banyak bertanya, siapa nama CE..."


Shera tak melanjutkan perkataannya lagi, kedua matanya melebar sempurna, saat melihat sosok yang sangat ia hindari, berjalan pelan di depan sana.


Samuel, apa yang dilakukannya di sini? Aduh gawat, bagaimana ini?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1



__ADS_2