Istri Bayangan Tuan Arogan

Istri Bayangan Tuan Arogan
Rujuk


__ADS_3

Belum sempat Shera melontarkan pertanyaan kepada wanita tersebut. Mantan mertuanya, Lily menyelenong masuk ke dalam dan memeluknya seketika.


"Selamat Sayang, Mommy sangat senang!" Lily merengkuh tubuh Shera dengan begitu erat. Beberapa menit lalu dia mendapat kabar dari Samuel bahwa Shera akan melahirkan. Tanpa berpikir panjang, dia pun pergi bersama Leon dengan menggunakan helikopter.


Shera tersenyum simpul. "Iya Mom, terima kasih, cepat sekali Mommy ke sini?" tanyanya.


"Hehe, tentu saja Sayang, Mommy pakai helikopter biar cepat sampai," celetuk Lily sambil melonggarkan pelukan dan melirik cucunya di samping Shera. "Lucunya, cucu Mommy bertambah lagi!" celetuknya sambil melirik Leon yang baru saja masuk ke dalam ruangan.


Leon melempar senyum tipis ke arah Samuel dan Shera secara bergantian. "Selamat untuk kalian berdua, karena sekarang sudah menjadi ibu dan ayah."


"Terima kasih, Dad." Tanpa sadar Shera dan Samuel berkata secara bersamaan. Keduanya langsung melemparkan pandangan satu sama lain.


Leon dan Lily terkekeh-kekeh pelan, melihat tingkah laku mereka. Kehangatan pun tercipta di dalam ruangan kala suara tangisan bayi munggil menggema di ruangan seketika. Mengabaikan Risa, Sean dan seorang wanita.


Sedari tadi wanita yang wajahnya mirip dengan Shera, memperhatikan interaksi antara Lily dan Shera. Karena tak mau mengusik momen kebahagiaan Shera. Dia melirik Risa sekilas, memberinya kode untuk keluar dari ruangan.


Risa mengerti lalu menoel lengan Sean agar keluar dari ruangan juga.

__ADS_1


Sesampainya di luar ruangan, Risa merangkul tangan wanita berambut pendek itu.


"Clara, maafkan aku kemarin gegabah karena menghilangkan helaian rambut dia, tapi aku yakin sekali itu anakmu, kau lihat sendiri kan wajahnya sangat mirip denganmu," ucap Risa, beberapa bulan lalu, ia bertandang ke rumah Clara, namun sahabatnya itu ternyata tak tinggal lagi di kediamannya. Risa kebingungan. Dia pun bertanya kesana kemari, di mana Clara tinggal. Dan akhirnya Risa mendapatkan alamat lengkap Clara. Dia memang sudah lama tak bertemu Clara karena kesibukan yang ia memiliki, membuat Risa jarang bertemu Clara.


Semenjak kehilangan putri semata wayangnya dulu, Clara begitu trauma. Kala itu saat Clara sedang berada di pasar, menunggu sang suami membeli makanan, namun seseorang tak dikenal mengambil bayinya dari stroller tiba-tiba. Clara menjerit histeris, meminta tolong pada orang sekitar. Namun, tak ada orang yang peduli. Dia pun akhirnya terpisah dengan anaknya. Clara dan suaminya berusaha mencari anaknya. Hingga sebulan kemudian dia mendapat kabar dari pihak kepolisian bahwa ada seorang bayi terjatuh ke sungai dan di makan oleh ikan hingga wajah bayi tersebut susah dikenali. Dari hasil identifikasi ternyata itu adalah anaknya.


Clara syok dan trauma mendalam. Dia dan suaminya pun memutuskan tinggal di California, tempat kelahirannya dulu. Namun, beberapa hari lalu, sahabatnya Risa mencarinya dan mengatakan ada seorang wanita yang mirip dengannya. Tentu saja Clara penasaran. Dan di sinilah ia sekarang. Ingin melihat secara langsung bagaimana rupa Shera, yang kata Risa, wajahnya sangat mirip dengannya.


Cukup lama Clara tertegun tadi, mengamati wajah Shera.


"Hmm, tenanglah Clara, aku punya akal, aku akan mengambil sampel rambut Shera lagi." Risa melirik Sean sekilas, sedari tadi mendengarkan obrolan mereka. "Uuhh Sean memang tak bisa diandalkan, semenjak di tolak, dia tidak mau membantu Mommynya ini!" sungut Risa seketika.


Sean hanya mendengus pelan, mendengar kekesalan Mommynya.


"Sudahlah Risa, sebaiknya kita–"


"Eits, aku yakin Shera adalah anakmu, siapa tahu saja polisi bisa saja salah mengidentifikasi kan, sudahlah, kau tenang saja, beberapa hari lagi aku akan membawa kabar baik lagi untukmu!" potong Risa cepat.

__ADS_1


Clara hanya mengulas senyum tipis, melihat semangat dari sahabatnya itu.


"Sudah, sekarang kita pulang, aku tak mau suamimu memarahiku karena menculikmu terlalu lama. Sean, Mommy pulang ya, bye!" Tanpa mendengar balasan dari Sean, Risa menarik tangan Clara dan melangkah pergi.


Sementara itu di dalam ruangan, Leon dan Lily masih bercengkrama dengan cucunya. Kehangatan semakin kian terasa saat Samuel menggendong buah hatinya saat ini.


"Mommy, harap kalian dapat segera rujuk," celetuk Lily seketika, suasana mendadak canggung seketika.


Shera dan Samuel saling menatap satu sama lain sejenak. Samuel tersenyum tipis, berharap Shera dapat menerimanya kembali sebagai suaminya.


Sementara Shera hanya diam saja dengan raut wajah datarnya.


"Honey, sudahlah, jangan paksa mereka, tugas kita hanya mendoakan yang terbaik untuk mereka, lagipula mereka lah yang menjalani kehidupan mereka ke depannya." Leon menimpali seketika.


Lily membuang napas pelan sambil tersenyum kaku pada Shera. Karena apa yang dikatakan suaminya benar juga. "Hm, iya, maafkan Mommy ya, Shera."


"Tidak apa-apa, Mom." Kemudian Shera mengalikan pandangan kepada Samuel. Melihat pria yang pernah mengisi relung hatinya itu, tengah menggendong anaknya sambil mengajak anaknya berbicara. Entah mengapa, melihat hal itu, ada perasaan yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata saat ini.

__ADS_1


__ADS_2