
Hari datang silih berganti, di sebuah kota terpencil, seorang wanita berwarna mata amber sedang melayani pengunjung cafetaria. Shera menunggu dengan sabar dua gadis belia tengah melihat-lihat daftar menu.
Shera mengedarkan pandangan di sekitar sejenak, melihat pengunjung tampak ramai. Meskipun begitu dia begitu senang.
Beberapa hari sebelumnya, setelah memasukan lamaran ke berbagai tempat, akhirnya Shera mendapatkan perkerjaan, walaupun hanya sebagai pramusaji saja, akan tetapi Shera tak peduli. Yang terpenting dia mendapatkan uang dari hasil jerih payahnya sendiri.
"Nona, aku mau pesan americano satu dan cheese burger satu."
Akhirnya pengunjung yang ditunggu Shera sedari tadi membuka suara.
Shera mengangguk pelan dan melemparkan senyuman tipis lalu mencatat pesanan si pengunjung.
"Kalau aku ice lemon tea dan cheese burger juga."
"Baik, apa ada lagi yang mau di pesan?" Shera bertanya sambil menyelipkan pulpen ke telinganya.
"Sudah itu saja," sahut seorang gadis diantaranya.
Shera pun mengambil daftar menu dan melangkah cepat menuju dapur.
Sesampainya di dalam, Shera menyerahkan kertas pada seorang koki.
__ADS_1
"Kau jangan terlalu kecapekan, Shera. Biarlah Charlote yang mencatat-catat pesanannya." Seorang wanita berambut putih, si pemilik cafetaria yang bernama Theresa, menyentuh pundak Shera seketika dari belakang.
Shera menoleh lalu melengkungkan senyuman. "Tidak apa Madam, tenanglah, aku masih kuat kok," sahutnya.
Si pemilik cafetaria tersebutsudah mengetahui keadaan Shera yang tengah berbadan dua. Saat diwawancara, Shera memberitahu keadaannya sebenarnya, semula dia takut-takut jika kehamilan mudanya, membuat dirinya susah diterima berkerja. Namun, wanita tua ini menerimanya dan malah memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Sungguh mulai hati Theresa, mungkin karena kehilangan anak perempuannya beberapa tahun silam membuat pemilik cafetaria merindukan sosok anaknya.
"Baiklah, tapi kalau kecapekan, beristirahatlah." Madam Theresa mengelus pelan rambut panjang Shera sambil mengulum senyum.
"Baik Madam," sahut Shera dengan perasaan yang bahagia karena dirinya dikelilingi orang-orang baik saat ini. Namun, berbeda dengan Samuel.
Tepatnya di Los Angeles, di ruang kerjanya, Samuel duduk melamun sedari tadi. Sorot matanya nampak kosong, wajah dan pakaiannya juga terlihat berantakan. Samuel seperti kehilangan semangatnya. Seolah-olah dia hidup tapi jiwanya sudah pergi entah kemana.
Semenjak kepergian Shera, Samuel bingung akan perasaannya. Wanita itu seperti membawa separuh jiwanya. Sudah seminggu pula, dia meminta Dimitri mencari Shera akan tetapi hasilnya nihil. Dan tak hanya itu hubungannya dengan Anne sedikit renggang, karena Samuel tak pernah lagi berkunjung ke apartment Anne. Dia berdalih ingin berkerja hendak mengumpulkan pundi-pundi uang.
Sedari tadi Dimitri duduk di sofa sambil mengetik laporannya. Dia pun melirik Samuel. "Iya Mister."
"Apa ada informasi mengenai Shera?" tanya Samuel penuh harap.
"Maaf Mister, belum ada." Dimitri memasang wajah datar.
Samuel menarik napas panjang. Dia merasa Dimitri tengah menyembunyikan sesuatu. Lantas tak menanggapi perkataan Dimitri dan menyuruh tangan kanannya itu kembali berkerja.
__ADS_1
"Mister, apa anda tidak mau berkunjung ke apartment Nona Anne, kasihan Nona Anne sudah hampir seminggu tidak anda temani," ucap Dimitri tiba-tiba.
Samuel tampak berpikir keras. Benar perkataan Dimitri. Akibat permasalahan hatinya sendiri, dia tak memperdulikan Anne, apalagi sekarang kekasihnya tengah mengandung anaknya.
"Iya, kau benar." Samuel melirik sekilas arloji di pergelangan tangannya, yang menunjukkan pukul satu siang. "Tidak ada pertemuan lagi kan?"
"Tidak ada, Mister tenang saja, perkerjaan Mister sudah selesai semuanya," balas Dimitri.
"Hm, baiklah, aku mau ke sana sebentar, sambil makan siang." Samuel bangkit berdiri kemudian.
Dimitri membalas dengan menganggukkan kepala.
*
*
Apartment Anne.
Tok, tok, tok!
"Anne! Buka pintunya, ini aku, tumben sekali dikunci."
__ADS_1
Dari luar pintu apartment, terdengar suara Samuel. Membuat Anne dan seorang pria menghentikan ciumannya, mereka pun menegang seketika.