
Menjelang sore, setelah selesai berkerja, Shera memutuskan pergi ke minimarket terdekat dulu, hendak membeli makanan untuk dia dan Samuel makan malam.
Setengah jam pun berlalu, dia sudah membeli spaghetti, daging beef dan bahan-bahan makanan lainnya. Sesampainya di rumah, Shera keheranan, melihat pintu apartment tertutup rapat, tak seperti biasanya. Pasalnya setiap kali dia pulang berkerja, Samuel pasti menyambutnya di depan pintu sambil membawakan segelas air putih untuknya.
Tok, tok, tok!
Shera mengetuk perlahan pintu apartmentnya sambil berkata,"Samuel, ini aku, buka pintunya."
Tak ada sahutan, Shera semakin bingung. Apakah Samuel tak ada di dalam, entahlah, tapi dari atas pintu, dia dapat melihat lampu menyala terang benderang di dalam sana. Dia memutar gagang pintu seketika dan ternyata pintu sama sekali tak dikunci. Shera mulai melangkah masuk ke dalam apartmentnya, namun baru beberapa langkah, Shera membelalakkan mata saat melihat tetesan darah menerpa lantainya.
Shera panik dan mengikuti tetesan darah tersebut.
"Sam! Apa yang terjadi denganmu!" teriak Shera kala melihat Samuel duduk membelakanginya di ruang belakang, dekat balkon.
Samuel tak menyahut ataupun memutar kepalanya.
Shera melangkah cepat, menghampiri Samuel, kedua matanya melebar sempurna, melihat tangan Samuel bersimbah darah.
"Sam! Kau kenapa?!" Shera langsung berjongkok di hadapan Samuel lalu menyambar tangannya.
"Aku tidak apa-apa, Shera. Kau sudah pulang, maaf aku belum merapikan apartment." Samuel menarik tangannya seketika.
Shera panik, melihat wajah Samuel nampak pucat pasi."Samuel, kemarikan biar aku obati!" Dia kembali mengambil tangan Samuel.
Samuel mengibas tangan Shera. "Tidak usah, Shera. Lebih baik kau istirahat saja!" Samuel berseru sambil bangkit berdiri.
"Ck!" Shera berdecak kesal dibuatnya. "Jangan keras kepala, Saml! Kemarikan tanganmu! Kalau kau tidak menuruti perkataanku, kau tidak boleh tinggal di sini!" Shera memberikan ancaman. Samuel langsung terdiam, kala melihat sorot mata Shera menyiratkan kemarahan.
"Ayo ikut aku, di kamarku ada obat P3K." Tanpa sadar Shera menarik tangan Samuel dan mengenggamnya dengan sangat erat.
Samuel menurut saja. Meski saat ini dia senang, atas perhatian yang diberikan Shera. Namun, ketika mengingat kejadian tadi siang, Samuel tak mau terlalu berharap banyak.
"Duduklah, Sam!" titah Shera menyuruh Samuel duduk di tepi ranjang. Kemudian melangkah cepat, mendekati lemari kecil yang berisi kotak P3K.
__ADS_1
Samuel mengangguk perlahan lalu menjatuhkan bokongnya.
"Apa yang terjadi denganmu, Sam?" Shera duduk di samping Samuel seketika sambil menaruh kotak P3K di atas kasur.
Samuel tak langsung menjawab. Dia tampak berpikir sejenak, tak mungkin juga Samuel berkata jujur mengapa dia bisa sampai terluka tadi.
"Hmm." Kedua mata Samuel bergerak ke segala arah, sedang merangkai kata-kata di benaknya.
Sementara Shera melirik Samuel sekilas lalu mulai mengambil, alkohol, kasa, dan obat merah di dalam kotak, kemudian menyentuh tangan Samuel.
"Ahk..." Samuel meringis kesakitan kala air alkohol itu mulai menerpa kulitnya yang tergores. Sesekali dia curi-curi pandang ke arah Shera yang tengah sibuk, mengobatinya.
Di dalam ruangan, keheningan sempat tercipta di antara mereka. Dengan jarak dua jengkal, Samuel dapat menghirup aroma khas tubuh Shera.
Samuel tanpa sadar mendekatkan wajahnya ke wajah Shera. Sedangkan Shera masih menundukkan wajahnya tengah membalut jari tangan Samuel. Dalam hitungan detik, Shera mengangkat dagunya.
"Sam, lain ka..."
Perkataan Shera terhenti, kala dia dan Samuel memandang satu sama lain sekarang. Untuk sejenak, keduanya saling bertatapan tanpa mengedipkan matanya sama sekali. Kini, tak ada jarak yang terbentang di antara mereka lagi. Shera dapat merasakan detak jantungnya berdegup sangat kencang, kala hembusan napas Samuel menerpa wajahnya. Tanpa sadar dia memejamkan matanya.
Kring! Kring!
Suara alarm jam weker dari atas nakas, yang biasanya ia atur sebagai pengingat dirinya untuk minum vitamin yang diberikan dokter kandungan, Shera segera tersadar. Dia membuka cepat matanya dan langsung mendorong dada Samuel, hingga pria itu terjungkal ke tempat tidur.
"Sam, lukamu sudah diobati, sebaiknya kau keluar sekarang. Aku mau beristirahat!" Shera tampak salah tingkah. Berulang kali ia menyelipkan anak rambutnya ke telinga.
Raut wajah Samuel berubah masam seketika. Enggan menyahut, melainkan bangkit berdiri dan melangkah cepat menuju pintu kamar.
Setelah melihat Samuel keluar, Shera duduk di tepi ranjang lagi sambil memegangi dadanya yang masih berdebar-debar tak karuan.
"Oh my, hampir saja, ada apa denganmu, jangan lemah Shera!" Shera menggerutu sendiri dibuatnya karena debaran yang ia rasakan saat pertama kali bertemu Samuel kembali terasa.
*
__ADS_1
*
*
Di sisi lain, Sean duduk termenung di ruang tengah, sambil menatap lurus ke depan. Setelah di tolak oleh pujaan hatinya tadi, kegalauan melanda hatinya seketika. Wajah Sean nampak muram dan lesu.
"Sean, kau sudah pulang? Bagaimana, apa jawaban Shera? Apa dia menerimamu, Nak?"
Risa baru saja masuk ke rumah. Sedari tadi dia berada di belakang rumah, sedang menanam bunga-bunganya. Dia keheranan, melihat Sean tak menyusulnya tadi.
Dari belakang, Risa dapat melihat anak semata wayangnya itu, hanya diam saja. Dia pun menghampiri Sean dan duduk di sampingnya.
"Sean, kau kenapa Nak?" tanya Risa sambil menyentuh punggung tangan kanan Sean.
Sean menoleh seketika.
Risa melebarkan matanya sedikit ketika melihat sorot mata Sean menyiratkan kesedihan mendalam. Sebagai seorang ibu, Risa dapat menebak jika Shera tak menerima pernyataan cinta anaknya. Tanpa banyak kata, Risa memeluk Sean seketika.
"Sudalah, Sean, mungkin dia bukan jodohmu, kau jangan bersedih, masih banyak wanita di luar sana," ucap Risa sambil mengelus pelan punggung Sean.
Tak ada sahutan, Sean malah menitihkan air matanya seketika. Tubuhnya nampak bergetar pelan, karena untuk pertama kalinya dia di tolak mentah-mentah oleh seorang wanita.
Semenit pun berlalu, Sean sudah mulai tenang, Risa melonggarkan pelukannya dan memegang pipi anaknya.
"Sudah, jangan kau pikirkan lagi, oh ya, apa kau sudah mengambil rambut Shera?"
"Sudah Mom. Ini." Sean mengeluarkan plastik kecil, di dalamnya terdapat sehelai rambut Shera, yang dia ambil secara diam-diam saat bersama Shera.
Risa mengulum senyum tipis lalu mengambil plastik dari tangan Sean.
"Sebenarnya itu untuk apa Mom?" Sean menghapus jejak air matanya seketika.
"Ada saja, sudah, sekarang kau mandi Sean, malam ini kita pergi ke rumah Aunty Clara," sahut Risa sambil menaruh plastik tersebut ke saku celananya.
__ADS_1