
Beberapa minggu kemudian, Shera dan Samuel sudah berada di Los Angeles bersama buah hatinya. Kedua orangtua Shera pun ikut bersama mereka. Karena Shera dan Samuel akan melangsungkan pernikahan untuk kedua kalinya di Los Angeles.
Setelah bergelut dengan hatinya, akhirnya Shera memutuskan untuk kembali mengarungi rumah tangga bersama Samuel. Dan berharap pria yang selalu membuat jantungnya berdebar-debar itu dapat menepati janjinya. Lagipula ia memang tak bisa menyangkal perasaannya terhadap Samuel. Jika dia masih mencintai Samuel walau pria itu dulu pernah menorehkan luka di hatinya. Namun, Shera yakin semua manusia dapat berubah menjadi lebih baik lagi. Buktinya, selama tinggal bersama, secara diam-diam Shera melihat sikap Samuel yang berubah drastis. Hal itulah yang membuat Shera membulatkan tekadnya untuk kembali bersama Samuel.
Minggu ini, kediaman Andersean begitu ramai dengan para tamu undangan dan sanak saudara. Setelah menjalani proses pernikahan di gereja tadi pagi, pesta kembali berlanjut di rumah Lily. Lily hanya mengundang kerabat terdekat dan teman-teman dekatnya ke pesta pernikahan Samuel, sesuai keinginan putra ketiganya itu, acara pun berlangsung di taman belakang mansion.
Sejak jam lima sore, Lily sangat sibuk dengan menimang cucu barunya. Sembari memperhatikan Shera dan Samuel berjarak beberapa meter darinya, sedang menyalami para tamu undangan sedari tadi.
"Lily, berikan saja Shania padaku, pasti kau kecapean kan?" Clara hendak mengambil alih cucu pertamanya itu seketika.
Shania tampak begitu tenang dalam gendongan Lily. Kedua bola mata munggilnya bergerak ke segala arah, memandangi para tamu undangan di sekitar.
Lily menggeleng cepat. "Hehe, tidak, aku tidak kecapean, biar aku saja yang menggendong Shania."
Kegemesan Shania membuat Lily enggan untuk melepaskannya. Walaupun besannya yang merupakan keluarga terpandang di kota California itu ingin menggendong Shania sekarang. Tapi Lily tetap tak mau melewatkan momen bersama Shania setiap detiknya.
"Ayolah, kemarikan dia, pasti kau capek, sini!" Clara hendak mengambil Shania. Namun, Lily seakan tak mau melepaskan cucunya itu.
"Tidak, kau pasti capek, Clara. Dari pagi mengurusi pernikahan anakmu kan, nah biar aku saja yang menggendong Shania!"
"Siapa yang bilang aku capek, aku masih segar, Lily. Shania cucu pertamaku, biar aku saja yang menggendong, lihatlah di sana ada cucu-cucumu yang lain!" kata Clara, menahan sebal karena Lily tak mau mengalah darinya. Padahal dari tadi, Lily menggendong cucunya itu.
"Tidak, Shania cucu terakhir ku jadi dia harus selalu bersamaku!" ucap Lily, tak mau kalah.
Clara mendengus pelan lalu menyentuh badan Shania, hendak mengambil cucunya itu. Akan tetapi, Lily tak tinggal diam. Alhasil keduanya pun saling tarik-menarik satu sama lain.
Shania keheranan, melihat kedua neneknya beradu mulut. Bayi munggil itu malah terkekeh-kekeh dan berceloteh kecil, seakan menikmati perseteruan di antara nenek-neneknya.
"Sam, ada apa dengan mereka?" Shera menyenggol lengan Samuel seketika kala keduanya baru saja selesai bersalaman dengan tamu undangan.
Samuel menoleh. "Astaga, sepertinya Shania sedang direbutkan, tunggu sebentar, aku melerai dua wanita gila itu!"
"Sam! Itu kan Mommy kita, mengapa kau bilang mereka gila!" Shera melototkan mata, mendengar perkataan Samuel barusan.
Samuel menyengir kuda sejenak. "Aish, itu hanya perumpamaan saja Sayang, sudahlah, tunggulah di sini, aku ke sana sebentar ya." Sebelum melangkah pergi, Samuel mengecup cepat bibir Shera.
"Mom Lily! Mom Clara! Stop! Apa yang kalian lakukan?!" Tanpa memikirkan para tamu undangan yang masih di acara, Samuel berseru cukup nyaring.
Gerakan tangan Clara dan Lily pun terhenti seketika. Keduanya sama-sama menoleh ke samping. Sementara, Shania mengedipkan mata dengan cepat, melihat kedatangan Daddynya.
"Sam, Mommy mau menggendong Shania tapi Mommy mu tak mau memberikannya sama Mommy!" Clara langsung mengadu.
"Ckk! Tidak bisa Clara, Shania harus selalu bersamaku!" Lily tetap kekeh terhadap pendiriannya.
Samuel menghela napas kasar sejenak kala melihat tingkah kedua wanita di hadapannya ini seperti anak kecil yang rebutan mainan.
"Mom, please berikan Shania pada Mommy Clara, dia belum menggendong cucunya sendiri," kata Samuel.
__ADS_1
Lily melebarkan matanya, karena Samuel lebih membela Clara daripada dirinya.
Sementara Clara tersenyum penuh kemenangan.
"What, tidak mau Sam! Biarkan Shania bersama Mommy! Bagus ya, kau lebih membela mertuamu daripada Mommymu sendiri!" Lily menatap nyalang sang anak.
Samuel serba salah. Sekali lagi helaan napas pelan terdengar dari hidungnya. "Aku tidak membela Mommy Clara, Mom. Bukan begitu maksud ku, Mom..." lirihnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ada apa ini?" Shera menepuk pelan pundak Samuel lalu menatap Clara dan Lily secara bergantian, meminta penjelasan mengapa sedari tadi sepertinya perseteruan belum juga mereda.
Samuel melirik Shera sekilas lalu menghembuskan napas pelan. "Emm, itu Sayangโ"
"Shera, mertuamu tidak mau memberikan Shania pada Mommy," potong Clara cepat sembari menunjukkan tatapan memelas.
Shera tak langsung menjawab. Dia menatap mertua dan Mommynya secara bergantian sambil menyungging senyuman.
"Bagaimana kalau menggendong Shania secara bergantian saja, lihatlah Shania sepertinya sudah mulai mengantuk." Shera melihat Shania tengah menguap lebar sekarang.
Lily melirik Shania lalu menepuk-nepuk pelan punggung belakangnya. "Hm, baiklah, tapi Shania tidur bersama Mommy ya malam ini,"ucapnya pelan.
Shania semakin menguap lebar. Dengan terkantuk-kantuk, dia mulai menutup mata munggilnya.
"Aku juga mau tidur bersama cucuku!" protes Clara seketika, menahan sebal.
"Aish! Sepertinya Shania hanya mau tidur denganku!" kata Lily, ketus.
Shera dan Samuel melempar pandangan saty sama lain, melihat keriwehan Mommy mereka.
Clara dan Lily terdiam sejenak, tengah memikirkan akan saran dari Samuel.
"Hm, baiklah, Mommy mau mengantar Shania ke dalam dulu! Kemarikan Shania padaku, Lily!" Clara terlebih dahulu menanggapi. Saat ada celah, dia langsung mengambil alih Shania dari Lily.
Raut Lily berubah masam seketika. Saat melihat Shania digendong Clara sekarang.
"Ya, berhati-hatilah, Mom." Samuel melempar senyuman pada Clara. Mengabaikan Mommynya yang tengah kesal sendiri.
Clara mengangguk lalu melangkah cepat, menuju pintu rumah.
"Katanya Mommy mau tidur bersama Shania," kata Samuel, kala melihat Mommynya tak bergerak sama sekali.
Lily malah melipat tangan di dada. "Mommy jadi bad mood gara-gara kau!" serunya.
Samuel menggeleng pelan sejenak, melihat tingkah Mommynya yang tak berubah sedari dulu. Sementara, Shera mengulum senyum tipis.
"Ah sudahlah, yang terpenting malam ini bukan hanya Mommy yang bad mood tapi kau juga!" Lily kembali menambahkan sambil melempar senyum smirk pada Shera.
Dahi Samuel berkerut samar. "Memangnya aku bad mood kenapa?"
__ADS_1
"Kau tanyakan saja pada Shera, sudahlah Mommy mau masuk ke dalam dulu, oh ya Shera.." Lily mendekati Shera seketika.
Samuel semakin heran dan penasaran. Dia melihat Shera dan Lily saling berpelukan sejenak saat ini.
Lily melonggar pelukan. "Sekali lagi selamat ya, Mommy sangat senang karena kau akhirnya menjadi menantu Mommy lagi, kalau Samuel macam-macam, katakan sama Mommy ya," ucap Lily sambil tersenyum lebar.
"Terima kasih Mom, iya Mommy tenang saja," balas Shera dengan mata penuh haru karena memiliki mertua sebaik Lily.
Setelah itu, Lily pamit undur diri dan melenggang pergi dari hadapan Samuel dan Shera.
"Sayang, Mommy bilang aku juga bad mood malam ini, memangnya aku kenapa?" Samuel bertanya dengan kerutan kening yang tak memudar sedari tadi.
Sebelum menjawab Shera terkekeh pelan, sepertinya dia menebak apa yang ada dipikirkan mertuanya tadi. "Malam ini kita tidak bisa tidur bersama, Sayang."
Samuel terperangah. "What! Aku kan suamimu sekarang! Kenapa tidak boleh Sayang? Malam ini kita tetap harus tidur bersama Sayang, apa kau tidak mau memberikan Shania adik?"
"Bukan begitu Sayang, tapi aku baru saja selesai melahirkan dan dalam sedang masa nifas, mengertilah Sam," kata Shera mulai memberi pengertian.
Samuel masih kebingungan dengan kata baru yang ia dengar barusan. "Nifas? Apa itu?"
Shera hanya bisa mengulas senyum simpul, melihat tingkah suaminya. Dia pun mulai menjelaskan pada Samuel, apa itu masa nifas.
Setelah mendengarkan penjelasan Shera panjang lebar. Raut wajah Samuel berubah lesu seketika. Dengan muka tertekuk sempurna, dia berkata,"Jadi kapan masa nifasmu selesai?"
"Hmm, sekitar seminggu lagi Sayang, bersabarlah ya." Shera merangkul tangan Samuel hendak menenangkan kegundahan sang suami saat ini.
Kini wajah Samuel sangat lesu dan lemas karena apa yang diinginkan sejak lama akhirnya tak bisa langsung tersalurkan. Suasana hatinya sekarang benar-benar buruk, seperti kata Mommynya tadi.
"Sudah, jangan sedih, yang terpenting sekarang kita sudah menjadi suami istri!" Shera menggalungkan kedua tangannya di leher Samuel tiba-tiba sambil tersenyum lebar.
Melihat sorot mata Shera yang menyiratkan kebahagiaan hari ini, suasana hati Samuel tak terlalu buruk. "Iya Sayang, seminggu lagi, kau harus kuat meladeni ku ya," ucap Samuel sambil memegang pinggang Shera.
Shera tersipu malu. Dia membalas dengan tersenyum hangat.
Cup!
Samuel mengecup cepat bibir Shera lalu berkata,"I love you, Sayang."
"I love you too," balas Shera. Kemudian Samuel menarik pinggang Shera dan memeluk istrinya dengan begitu erat.
Keduanya saling memeluk satu sama lain. Mengabaikan teriakan Dimitri sedari tadi. Meminta mereka agar kembali ke tempat duduk sebab tamu undangan ingin bersalaman dengan mereka.
Bak dunia milik berdua, Shera dan Samuel seakan tuli. Keduanya masih bergeming di tempat sambil melabuhkan kecupan di bibir berkali-kali.
...THE END...
...๐ธ๐ธ๐ธ...
__ADS_1
...Cerita Samuel dan Shera, sudah selesai. Bab selanjutnya extra part ya. Untuk Anne dan semuanya di belakang layar ya, author hanya fokus sama Samuel dan Shera. ...
...Terima kasih untuk para pembaca yang selalu setia menunggu cerita ini. Author minta maaf kalau ending ataupun alurnya kurang memuaskan. Sampai ketemu di novel lainnya ya ๐ค๐ฝ๐...