Istri Bayangan Tuan Arogan

Istri Bayangan Tuan Arogan
Kejam!


__ADS_3

Sementara itu, di sisi lain, Shera membelalakkan matanya saat melihat pesan singkat dari Dimitri, mengatakan padanya untuk pulang segera karena suasana hati Samuel sedang buruk. Shera diterpa dilema, bagaimana tidak, saat ini ia sedang menyuapi Mamanya yang sedang terbaring lemah di atas brangkar. Shera senang karena kondisi Mamanya sudah terlihat membaik, dan sekarang sedang masa pemulihan.


"Ada apa Shera? Kenapa kau gelisah?" Lenka mengamati mimik muka anaknya yang berubah drastis dalam sekejap.


Shera mengigit bibir bawah sesaat. "Nggak Ma, ini em Bos aku suruh aku cepat pulang. Soalnya dia mau minta dimasakin makanan kesukaannya," kilah Shera.


Dia tak memberitahu Lenka, mengenai pernikahan dadakan yang dilakukan kemarin. Sebab dia tak mau melihat Mamanya sedih. Jadi Shera membuat alasan bahwa kemarin, meminjam uang pada bosnya untuk pengobatan Mamanya, asal dia mau berkerja sebagai asisten rumah tangga dan menginap di rumah selama berkerja.


"Benarkah? Ya sudah, kau pulanglah dulu, nanti Bosmu marah padamu, Mama tak enak hati, gara-gara Mama, bosmu kelaparan, sampaikan salam Mama pada orang baik itu," kata Lenka, pelan


Shera tersenyum hambar. Dia merasa bersalah karena telah membohongi Mamanya, namun, apa boleh buat, dia tak mau Lenka banyak pikiran. Jadi untuk sementara waktu, ia akan berusaha berakting sebaik mungkin. Apalagi tadi Shera sangat tak tega, melihat raut wajah Mamanya yang sedih kala melihat bekas luka di keningnya.


"Baik Ma, kalau begitu Shera pulang dulu ya, besok Shera akan ke sini lagi."


Lenka membalas dengan mengangguk dan mengulas senyum tipis.


Setelah pamit pada Mamanya, Shera bergegas pulang ke rumah dan berharap tak berpapasan dengan Samuel. Karena jalan masuk ke rumah hanya satu pintu utama. Ingin sekali rasanya Shera meminta pada Dimitri, membuatkan pintu khusus masuk untuknya. Namun apalah daya sikap Dimitri sebelas dua belas seperti Samuel, Shera pun tak berani jadinya.


Selang beberapa menit, Shera telah sampai ke mansion. Baru saja kaki munggilnya bergerak menapaki tangga, akan tetapi suara seseorang dari belakang, membuat Shera terkejut dan kalang kabut.


"Dari mana saja kau, Shera?" tanya Samuel setengah berteriak.


Sepertinya semesta tak mengabulkan doa Shera. Dengan pelan ia memutar tubuhnya ke belakang, melihat Samuel melayangkan tatapan tajam. Sementara Dimitri menatap Shera tanpa ekspresi sama sekali.

__ADS_1


"Ak-u da-ri ru-mah sakit, Sam," ucap Shera sedikit tergagap-gagap.


"Apa kau lupa dengan peraturanku?"


Intonansi Samuel terdengar dingin di telinga Shera saat ini. Shera bergedik ngeri sejenak.


"Tidak Sam, aku ingat, maafkan aku, Sam, aku–"


"Cukup!!! Dari tadi aku selalu mendengar permintaan maaf dari kau bahkan dari orang yang aku sayangi, apa kalian selalu menganggap enteng ucapanku ini ha!!!" murka Samuel, sambil menarik pergelangan tangan Shera kemudian berjalan masuk ke dalam mansion.


Tanpa sadar tubuh Shera bergetar hebat. Dia begitu ketakutan. Shera berusaha memberontak di sepanjang langkah, sambil menahan rasa perih karena cekalan Samuel sangatlah kuat.


"Apa maksudmu Sam, aku benar-benar minta maaf, sungguh aku tak bermaksud ingin berpapasan denganmu tadi."


"Diam! Tak usah banyak alasan kau! Kau harus di hukum!!!" Samuel mempercepat langkah kaki menuju suatu ruangan khusus di sisi selatan.


Tak ada sahutan, Samuel malah menyeringai tipis.


Keduanya berjalan melalui lorong-lorong yang memanjang lurus ke depan lalu melewati taman belakang dan akhirnya sampai di depan pintu berganda yang lumayan besar.


Sesampainya di depan, pintu terbuka otomatis. Samuel langsung menyentak kasar tubuh Shera ke lantai. Lalu melangkah cepat ke sisi kanan hendak mengambil sesuatu.


"Ahk!" Shera mengusap sikutnya yang memerah saat terkena hantaman lantai barusan. Dia mengedarkan pandangan di sekitar, melihat ruangan yang dipenuhi lukisan dan beberapa alat-alat aneh terpajang di dinding. Secepat kilat ia menoleh ke samping, melebarkan mata saat melihat Samuel menghampirinya sambil membawa sebuah cambukan.

__ADS_1


Shera beringsut ke belakang, ketakutan. "Sam, kau ma-u apa?"


Mengulas senyum sinis, Samuel berkata sambil memegang ujung cambukan,"Menurutmu?"


Pletak!!


"Ahk! Ampun...." Shera menahan rasa perih ketika cambukan panjang itu menerpa kulit tipisnya. Tanpa permisi air mata mengalir dari pipinya.


Samuel mencambuk Shera berulang kali dan mengabaikan jeritan Shera meminta pengampuan. Ruangan dipenuhi suara tangisan Shera sedari tadi, wanita itu menangis pilu.


Pakaian putih yang dikenakan Shera nampak bersimbah darah dan di sekujur tubuhnya luka-luka.


Setengah jam kemudian, tak ada lagi isak tangis terdengar di ruangan.


Samuel melempar cambukan ke sembarang arah lalu membuka jasnya yang terciprat darah Shera tadi.


"Inilah akibatnya melanggar peraturanku di mansion, Shera," ucap Samuel ngos-ngosan.


Shera enggan menjawab. Sorot matanya terlihat tak bernyawa. Air matanya pun sudah nampak mulai menggering. Wanita itu tengah memandang langit-langit kamar dengan tatapan kosong.


Hening sejenak.


Samuel berdiri tegap sambil memperhatikan Shera berbaring di lantai. Tanpa mengeluarkan satu patah kata, dia keluar dari ruangan tiba-tiba.

__ADS_1



Hai semua, sembari menunggu up, mampir ke karya author kece ini yuk, di jamin seru 😍


__ADS_2