Istri Bayangan Tuan Arogan

Istri Bayangan Tuan Arogan
Malapetaka


__ADS_3

"Nah itu, di depan CEO baru kita, Samuel Anderson, putra ketiga Leon Anderson, kau pasti kenalkan dengan Leon Anderson, orang terkaya di negeri ini, yah aku tak menyangka, ternyata perusahaan ini milik Tuan Leon juga, setahu ku pemilik perusahaan ini adalah temannya Tuan Leon, tapi sepertinya sudah dialihkan."


Lantas perkataan Bruno barusan, menjawab semua pertanyaan di benak Shera.


Shera tercengang, tak mampu berkata lagi sekarang, lidahnya kaku, sangat sulit untuk digerakkan. Shera merasa telah dipermainkan semesta, bagaimana tidak'dia ingin sekali menghindari Samuel, namun, malah bertemu lagi di kantor.


Shera memutar badan ke belakang sembari menutup wajahnya tatkala hampir saja matanya bertubrukan langsung dengan mata Samuel.


Oh my God, apa yang harus aku lakukan sekarang?


Sementara itu, dengan jarak beberapa meter, Samuel melirik Bruno sekilas. Pria itu sedikit keheranan, melihat seseorang di dekat Bruno menunjukkan gelagat mencurigakan, siapa lagi kalau bukan Shera, tengah menunduk dan menyembunyikan wajahnya dengan tas.


Bruno membungkukkan badan sedikit dan tersenyum tipis.


Samuel mengangkat dagu dengan sangat angkuh lalu melangkah cepat bersama Dimitri menuju lorong lain.


"Sepertinya rumor kalau CEO baru kita benar adanya, bagaimana menurutmu Shera?"


Selepas kepergian Samuel, Bruno memberi tanggapan tentang atasan barunya. Dia keheranan karena Shera tak langsung menjawab. Bruno menoleh ke samping, terkejut karena tak melihat Shera. Secepat kilat ia mengedarkan pandangan di sekitar, menghela napas pelan karena Shera ternyata ada di belakangnya.

__ADS_1


"Shera, kau kenapa?" tanya Bruno.


Shera mengintip-intip di sela-sela tas kerjanya dan bernapas lega karena tak terlihat Samuel lagi di ujung sana. Dengan pelan-pelan Shera menurunkan tas dan berkata,"Maaf Pak, tadi aku sedang menutup wajah jelekku ini agar CEO-nya tidak lari, hehe."


Kedua alis Bruno saling bertautan. "Jelek? Apa aku tidak salah mendengar, ada-ada saja, ayo cepat kita harus ke ruanganmu sekarang, supaya tidak telat datang ke aula besar, kau lihat tadi CEO baru kita wajahnya sangat menakutkan."


Shera tersenyum kaku. "Hehehe, Iya Pak."


Shera terpaksa menuruti Bruno. Mau menghindari dari acara aula tidak akan mungkin, karena dia baru saja masuk kerja. Dengan langkah lesu Shera mengikuti Bruno kemudian, meneruskan kembali perjalanannya mereka ke ruang kerja.


Selang beberapa menit, Shera sudah berada di aula besar, berdiri tegap, tepat di belakang karyawan lainnya. Dia tengah bersembunyi dari Samuel. Shera diterpa gelisah sekarang,


Jantung Shera berdebar-debar. Ketakutan melandanya seketika, jika sampai ketahuan Dimitri atau Samuel.


Saat mendengar bunyi derap hentakan kaki berdegung di telinganya saat ini, Shera langsung menundukkan muka, tak berani menatap ke depan.


"Perkenalkan CEO baru di perusahaan Triplet Group, Mister Samuel Anderson, Mister akan memberikan kata-kata sambutan terlebih dahulu." Dimitri membuka suara kembali.


Samuel pun naik ke atas pondium lalu berpidato singkat sejenak. Setelah selesai berbasa-basi, Samuel terlihat kesal saat tak sengaja, melihat salah satu karyawannya, tak memperhatikannya berbicara sedari tadi.

__ADS_1


"Aku tidak suka, jika aku sedang berbicara, karyawanku malah menundukkan muka, bukankah itu tidak sopan."


Suasana mendadak mencekam, aura yang menguar dari tubuh Samuel membuat para karyawan bergedik ngeri. Mereka saling melemparkan pandangan satu sama lain.


"Shera, apa yang kau lakukan, angkat kepalamu," ucap Bruno pelan, menyadari karyawan yang dimaksud Samuel adalah Shera.


Shera semakin panik.


"Apa begini cara kalian memperlakukan atasan kalian? Pantas saja perusahaan ini berkembangnya lambat."


"Shera, angkat kepalamu." Bruno berdecak kesal sejenak, karena tak mau membuat atasan mereka mengamuk. Dia menyenggol lengan Shera seketika.


Shera mendesah kasar. Mau tak mau mengangkat wajah dan langsung menatap ke depan. Samuel melebarkan matanya seketika, terkejut.


Habislah aku.


Shera meremas kuat rok spannya dengan sangat kuat. Tengah berkeringat dingin, karena sebentar lagi ia akan mendapatkan malapetaka. Buliran-buliran keringat nampak jelas di dahinya kini.


__ADS_1


__ADS_2