
"Apa tidak ada apartment kosong Madam? Coba di cek lagi," Samuel bertanya sekali lagi kepada Madam Dolores yang kebetulan saat ini berada di lobby bangunan apartment.
Madam Dolores memandang sinis Samuel. Tentu saja dia tahu siapa pria di hadapannya ini. Tadi dia sempat melihat perkelahian yang terjadi di antara Samuel dan Sean.
Madam Dolores begitu penasaran lalu saat berpapasan dengan Shera, dia langsung menanyakan siapa kedua pria tersebut. Semula Shera enggan memberitahunya, akan tetapi Madam Dolores memaksa Shera. Setelah mendengar penjelasan Shera. Madam Dolores kesal setengah mati karena ternyata pria di depan inilah yang membuat Shera menderita.
"Bukankah sudah aku katakan tadi, tidak ada, lebih baik kau pergi saja dari sini," ucap Madam Dolores sangat ketus.
Samuel mengerutkan dahi sedikit, melihat respon Madam Dolores. "Aku akan membayar mahal Madam, tolonglah, aku harus dekat dengan anakku," katanya sambil melayangkan tatapan memelas, berharap Madam Dolores mau mengiyakan permintaannya sebab dia yakin sekali masih ada apartment yang kosong.
Terdengar dengkusan kasar dari hidung Madam Dolores. Sebelum berkata dia sempat mengerlingkan matanya ke atas. "Tidak ada, semuanya penuh, sekarang pergi dari sini, dasar pria aneh, dulu saja kau tidak pernah menganggap Shera, sekarang kau berlagak seperti pahlawan untuknya! Cih! Pergi kau sana! Atau mau aku panggilkan satpam untuk menyeretmu keluar ha!" teriaknya seraya melototkan mata.
__ADS_1
Samuel tercengang. Kini dia tahu mengapa si pemilik apartment tak memberikan apartment untuknya. Saat mendengar Madam Dolores memanggil satpam seketika, Samuel tergesa-gesa berjalan menuju pintu utama.
"Ahk! Bagaimana ini, aku tidak mau berjauhan dari Shera. Siapa tahu saja Shera kabur lagi." Samuel berkacak pinggang sambil memikirkan bagaimana caranya memantau pergerakan Shera. Sebab penginapan lumayan jauh dari apartment Shera. Setelah bergelut sejenak, Samuel akhirnya memutuskan singgah ke kedai kecil di sebrang apartment sambil memikirkan langkah dia selanjutnya.
*
*
*
Bohong, jika Shera tak senang dengan ungkapan cinta Samuel tadi, yang ternyata Samuel juga mencintainya. Akan tetapi, bayangan-bayangan Samuel menyiksanya tanpa ampun tempo lalu. Menyisakan trauma mendalam yang masih membekas di benaknya sampai saat ini.
__ADS_1
Shera masih takut-takut, apakah Samuel benar-benar mencintainya? Atau mempunyai tujuan lain.
Entahlah, Shera hanya bisa menerka-nerka.
Namun, dia penasaran bagaimana hubungan Samuel dan Anne. Begitupula dengan anak mereka. Apakah mereka sudah menikah? Ingin sekali Shera bertanya, akan tetapi dirinya masih gengsi.
Sembari melamunkan mantan suaminya itu, Shera sampai lupa menutup jendela kamarnya. Lamunan Shera buyar seketika saat gemercik air menerpa bagian dalam apartmentnya.
Secepat kilat ia melangkah menuju jendela hendak menutupnya. Kala kedua tangan Shera mulai bergerak, pandangannya teralihkan pada sosok pria di bawah sana yang tengah menatap ke arahnya sekarang. Secara bersamaan pula air hujan turun dari atas langit dengan begitu deras membasahi seluruh kota kecil tersebut.
Di tengah guyuran hujan, Samuel berdiri tegap menghadap ke atas apartment Shera. Setelah bersantai sejenak di kedai tadi, pikirannya semakin semrawut seperti benang kusut. Dan tanpa sadar dia mengikuti nalurinya lalu berlarian keluar dari kedai dan menatap ke atas apartment Shera.
__ADS_1
"Sayang, jangan tidur terlalu malam ya, maafkan aku, aku benar-benar minta maaf, aku mencintaimu, Shera!" teriak Samuel.