Istri Bayangan Tuan Arogan

Istri Bayangan Tuan Arogan
Marah


__ADS_3

Mendengar teriakan Samuel, Shera langsung mendorong dada Bruno, hingga menyebabkan pria itu terjungkal ke lantai.


Bruno sontak terkejut. Secepat kilat ia bangkit berdiri kemudian merapikan sesaat jas-nya.


"Oh my God, maaf Pak, aku...." lirih Shera sembari melirik ke kanan dan kiri, melihat para karyawan memandangnya dengan sinis.


Aduh, mampus aku, argh! Kacau baru hari pertama, aku sudah mempunyai musuh.


Shera menggerutu di dalam hati.


"Maaf Nona, Pak Bruno, saya tidak melihat ada orang di belakang." Si pelaku yang menabrak Shera barusan adalah seorang Office Boy (OB) , tengah mendorong troli, mengerjakan tugasnya.


Shera melirik sekilas. "Iya tidak apa-apa Pak, saya juga yang salah."


OB tersebut tersenyum kaku lalu berlalu pergi dari hadapan Shera dan Bruno.


Shera menelisik tubuh Bruno sejenak. "Maaf Pak, aku min–"


"Shera Winfred! Apa kau tuli! Ke ruanganku sekarang!" Dari kejauhan, Samuel memperhatikan interaksi Shera dan Bruno. Tanpa sadar kedua tangannya terkepal amat kuat, tengah menahan amarah, yang meledak-ledak di hatinya saat ini.

__ADS_1


Shera dan Bruno tersentak seketika.


"Baik Mister." Shera menoleh ke samping.


Setelah memberi perintah, Samuel langsung masuk ke dalam ruangannya lagi.


Shera mengalihkan pandangan ke arah Bruno kembali. "Permisi Pak, aku harus ke ruangan Mister, sekali lagi terima kasih nasihatnya," ucapnya cepat, dan tanpa mendengarkan tanggapan Bruno, ia berjalan cepat menuju ruangan pribadi Samuel.


"Masuk!" Begitu mendengar suara ketukan di luar, Samuel berseru.


Shera melangkah pelan, masuk ke dalam ruangan. Tanpa rasa takut sedikitpun, dia lmenatap mata Samuel, yang tengah duduk di kursi kebesarannya.


Samuel malah menatap tajam Shera. Dadanya masih bergemuruh kuat saat ini. Dia bingung sendiri jadinya, mengapa tiba-tiba marah, melihat Shera di sentuh oleh pria lain.


"Mister?" Shera kembali bersuara tatkala melihat Samuel terdiam membisu.


"Kau masih bertanya, ternyata kau wanita yang suka berbohong, kenapa kau ada di sini ha! Dasar pembohong!" Samuel bangkit berdiri tiba-tiba.


"Apa kau buta, tentu saja aku berkerja, Bukankah peraturannya kita sama-sama tak boleh mencampuri urusan masing-masing! Apa kau lupa?" Entah datang darimana keberanian Shera. Wanita itu membalas perkataan Samuel dengan sangat lantang. Dia tak mau ditindas lagi oleh sang suami yang hanya menganggapnya istri bayangan.

__ADS_1


"Kau sudah berani denganku!" Samuel menghampiri Shera lalu berdiri di hadapan Shera dengan jarak satu jengkal. Saat melihat bola mata Shera, ada perasaan aneh yang menjalar di relung terdalam hatinya.


"Untuk apa aku takut, apa kau mau mencambukku atau mau menyiksaku lagi! Silakan! Aku tak peduli Sam, siksa aku sesuka hatimu!" sahut Shera menggebu-gebu.


Samuel terpaku. Tak mengira Shera berani melawannya.


"Tapi satu yang harus kau tahu, namaku sudah terdaftar sebagai karyawan di perusahan ini, kalau aku keluar dari ruanganmu dalam keadaan penuh luka, para karyawan akan bertanya-tanya, ada hubungan apa antara kau dan aku, apalagi hari ini kau baru saja menjabat sebagai CEO." Shera kembali menambahkan.


Tak ada sanggahan, Samuel terdiam seribu bahasa, ada benarnya juga dengan perkataan Shera. Ditambah lagi tempo lalu, Daddynya sempat memberinya ultimatum untuk tidak membuat ulah di perusahaan baru.


"Kau tenang saja Sam, aku tidak akan membeberkan hubungan kita, lagipula tidak ada gunanya," ucap Shera menahan kepedihan. Sebenarnya, dia ingin sekali dicintai dan disayangi suaminya sendiri, namun, apalah daya itu hanyalah angan-angan saja. Terlebih lagi di hati Samuel tak ada namanya terukir, melainkan nama wanita lain.


"Oke, sekarang kau ke–"


Perkataan Samuel terhenti kala melihat Anne menyelenong masuk ke dalam ruangannya tiba-tiba.


"Baby, tangan kananmu itu sangat menyebalkan, tadi dia tidak menyuruhku masuk ke dalam!"


__ADS_1


__ADS_2