Istri Bayangan Tuan Arogan

Istri Bayangan Tuan Arogan
Di mana Shera?


__ADS_3

Samuel melangkah masuk ke dalam mansion dengan perasaan yang tak bisa dijabarkan sama sekali. Dia teramat menyesal karena kebodohan dan keegoisannya, membuat wanita yang tak bersalah terluka oleh dirinya. Dia baru menyadari akan perasaannya kepada Shera adalah sebuah cinta.


Samuel tengah merutuki dirinya sendiri sejenak karena mengindahkan perkataan Mommynya tempo lalu mengenai Anne. Seandainya saja waktu dapat diputar maka Samuel akan menerima Shera sebagai istrinya. Namun, sekarang semuanya sudah terlambat.


"Mom! Dad!" teriak Samuel sambil matanya celingak-celinguk ke segala arah. Menelisik keberadaan orangtuanya di ruang santai.


Kini yang nampak di pelupuk matanya, hanyalah para bodyguard berdiri tegap, di sudut-sudut ruangan dan para maid yang sedang bertugas membersihkan rumah.


"Daddy! Mom!"


Samuel menggerakkan kakinya lagi ke ruangan lain sambil berteriak-teriak memanggil nama orangtuanya.


"Samuel! Berhenti berteriak ini bukan hutan!" seru Lily dari kejauhan.


Samuel tersenyum sumringah, melihat Mommy dan Daddynya ternyata di gazebo, taman belakang. Dia berjalan cepat menghampiri mereka.


"Mom, aku minta maaf," ucap Samuel dengan napas terengah-engah.

__ADS_1


Lily tak langsung menjawab. Melainkan melempar pandangan ke arah Leon sejenak sebab ia sudah tahu apa tujuan Samuel datang kemari.


"Untuk?" tanya Lily pura-pura tidak tahu.


Sebelum berkata, Samuel menarik napas dalam. "Mom, aku minta maaf, ternyata benar, Anne bukan wanita yang baik, dia berselingkuh dariku Mom, aku menyesal karena telah menyakiti Shera. Sekarang katakan padaku di mana Shera, Mom?"


"Penyesalan selalu datang di akhir kan, maaf Sam, sayangnya Mommy tidak tahu di mana Shera sekarang," ucap Lily sambil menghela napas berat kala melihat sorot mata Samuel memancarkan kerinduan mendalam.


"Mom, aku mohon Mom, aku mencintai Shera, Mom. Izinkan aku bertemu dengannya, Mom." Samuel sangat yakin jika kedua orangtuanya mengetahui keberadaan Shera saat ini.


Lily menggeleng pelan lalu melirik Leon sekilas.


"Sam, maaf, Daddy dan Mommy juga tidak tahu." Leon membuang napas kasar saat melihat kesedihan anaknya.


Dada Samuel semakin perih. Dia meremas dadanya sambil berkata,"Baiklah Mom, Dad, aku akan mencarinya sendiri, maafkan aku menganggu waktu kalian." Samuel mengusap air matanya lalu melangkah pergi dari hadapan kedua orangtuanya.


Samuel memutuskan pulang ke mansion. Sesampainya di sana, dia langsung pergi ke kamar tidur Shera.

__ADS_1


Begitu pintu dibuka, aroma tubuh Shera menyeruak ke indera penciumannya seketika, aroma mint yang menenangkan jiwanya. Samuel semakin merindukan Shera. Lalu tanpa pikir panjang dia menjatuhkan diri ke atas kasur, tempat di mana Shera dulu beristirahat. Aroma tubuh Shera masih menempel di kain sprei itu membuat Samuel menitihkan air matanya kembali.


"Shera, maafkan aku, kembalilah padaku Shera..."lirihnya sambil mengusap-usap tempat tidur Shera.


Setengah jam pun berlalu, Samuel terpaksa beranjak dari tempat tidur saat langit di luar terlihat mulai gelap. Dia hendak membersihkan diri di kamar mandi Shera saja. Akan tetapi, kedua matanya memicing seketika, saat melihat benda asing tergeletak di atas nakas Shera. Dia pun menyambar benda tersebut dan secepat kilat membukanya.


Mata Samuel membulat sempurna, melihat hasil USG atas nama Shera tertera di kertas, yang berarti mantan istrinya itu tengah berbadan dua.


"Tidak! Shera! Kau di mana!" jerit Samuel seketika.


Di sisi lain.


Deg.


Shera memegangi dadanya terasa perih sekarang, entah karena apa penyebabnya. Perasaan rindu kepada Samuel menjalar di dalam hatinya. Dia mengelus pelan perutnya seketika.


"Apa yang sedang dilakukan Sam ya? Apa dia dan Anne sedang berbulan madu?" Shera tersenyum getir, tengah membayangkan pria yang cintai sedang bermesraan bersama wanita lain. Setitik air mata membasahi kedua pipinya tiba-tiba.

__ADS_1


"Ayolah Shera, kau jangan menangisi dia lagi, Ikhlaskan lah dia, perjalanan hidupmu masih panjang, Shera." Shera berusaha menguatkan dirinya sendiri saat ini dan berharap Samuel dalam keadaan baik-baik saja di sana.


Lantas dia menghapus cepat air matanya lalu memandang keluar jendela, melihat kilatan di atas sana dan sepertinya hujan akan turun sebentar lagi.


__ADS_2