
"Apa yang kau lakukan di sini ha!?" Samuel menjambak rambut Shera seketika.
"Ahk! Ampun Sam, tadi aku mengambil minum di sini dan tak sengaja mendengar suaramu jadi aku bersembunyi di bawah meja supaya kau tidak melihatku," sahut Shera sambil menahan sakit yang menjalar di kulit kepalanya sekarang kala Samuel semakin menarik rambutnya lebih kuat dari sebelumnya.
Samuel tersenyum sinis."Alasan, kau pikir aku bodoh! Dasar wanita murah4n!' Dia menyentak tubuh kasar Shera hingga tubuh wanita itu condong ke depan dan alhasil keningnya mengenai sudut meja.
Bugh!
"Ahk! Shft...."
Kepala Shera terasa berdenyut kuat seketika, dia meringis pelan sambil menyentuh dahinya, sekarang mengalir darah. Shera melebarkan mata saat melihat darah di tangannya. Dia mendongakkan kepalanya ke atas, melihat Samuel, tengah menyeringai tipis' memperhatikannya.
"Apa salahku Sam?" tanya Shera dengan mata berkaca-kaca.
"Kau masih bertanya!?" Samuel menarik lagi rambut Shera.
__ADS_1
"Ahk! Lepaskan aku, Sam. Lepas...." lirih Shera, menahan kepedihan saat Samuel memperlakukannya seperti bin4tang saat ini. Shera tak habis pikir, mengapa Samuel begitu tega menyiksanya. Padahal dia sudah menjelaskan pada Samuel bahwa dirinya tadi berusaha bersembunyi dari sang suami, yang tak mau melihat wajahnya.
Sekarang, kedua mata Shera sudah digenangi air mata. Wanita itu menangis tersedu sedan sambil berusaha memberontak dari Samuel. Namun,karena perawakan Samuel' tinggi dan besar, Shera kewalahan dan kalah tenaga.
"Tidak akan! Kau pikir kau siapa ha! Mengatur-atur aku!" Samuel melangkah cepat mendekati wastafel dan menyalakan keran air.
"Argh,sakit... Lepaskan aku Sam, aku mohon, kau mau apa?" tanya Shera, tanpa menghentikan gerakan tangannya yang tengah berusaha melepaskan tangan Samuel dari rambutnya.
Seringai tipis muncul di wajah Samue, dia mendekatkan bibirnya ke telinga Shera lalu berbisik pelan,"Menurutmu, apa yang akan aku lakukan?"
Belum sempat Shera meneruskan perkataannya, Samuel membenamkan kepala Shera ke dalam wastafel yang sudah terisi air.
Shera menutup matanya seketika. Napasnya tersendat-sendat, kesusahan bernapas saat air mulai masuk ke hidungnya. Shera pasrah ketika Samuel memasukan kepalanya ke wastafel berkali-kali seperti orang kesetanan.
"Sam... Uhuk, uhuk... Lepaskan aku, aku minta maaf, lain kali, aku akan berhati-hati dan tidak menampakkan lagi wajahku di hadapanmu ..." Air mata Shera mengalir begitu deras bercampur dengan air keran. Dia melirik sekilas Samuel, memohon pengampunan dari sang suami. Akan tetapi, Samuel mengindahkan perkataannya dan membenamkan lagi kepalanya.
__ADS_1
Bruk!
Setelah puas menyiksa Shera, Samuel menyentak kasar tubuh sang istri ke lantai. Sekali lagi Shera mengaduh kesakitan. Dari atas kepala hingga sebatas dada semuanya basah. Shera sudah kacau sekarang. Tatapannya terlihat kosong.
Shera memandang langit-langit ruangan sejenak, meratapi kemalangannya saat ini. Air matanya tak berhenti mengalir sedari tadi.
Andai kata dia tidak mengiyakan tawaran Lily, mungkin saja ia tidak akan mengalami penyiksaan seperti saat ini. Namun, kalaupun dia menolak, nyawa Mamanya akan melayang. Nasi sudah menjadi bubur, tak mungkin lagi akan dapat di rubah.
Samuel mendekati Shera seketika sambil menyingsing ke atas kemeja putih yang terkena cipratan air barusan. Dia berjongkok di dekat Shera lalu berkata,"Aku harap kau tidak akan melupakan janjimu tadi, Shera. Aku paling tidak suka seseorang membuat ulah di mansionku, ini belum seberapa, kalau kau melanggar lagi, aku akan mencambukmu."
Shera dapat melihat kepuasan yang terpancar dari kedua bola Samuel. Pria itu tengah tersenyum sinis sekarang. "Kenapa kau membenciku?" Shera mengajukan sebuah pertanyaan, yang sedari tadi berkecamuk dibenaknya. Mengapa dan kenapa Samuel memperlakukannya begitu kejam dan tanpa perasaan.
- Sambil menunggu bab, mampir ke novel teman author yuk, di jamin seru 😍👍
__ADS_1