
Shera berteriak histeris saat melihat Samuel menghajar Sean membabi buta. Akan tetapi, pria yang baru saja ia kenal beberapa jam lalu membalas serangan. Kini keduanya saling menyerang satu sama lain. Alhasil, perkelahian mereka menjadi tontonan orang di sekitar.
Shera kebingungan mengapa Samuel berada di sini sekarang dan menghajar Sean tanpa alasan yang jelas.
"Samuel! Hentikan!" Begitu ada celah, Shera langsung berdiri di antara keduanya berusaha melerai perseteruan yang tidak jelas tersebut.
Samuel mendengus sejenak tanpa mengalihkan pandangan dari pria asing di hadapannya yang sedang mengusap darah di bibirnya.
"Apa kau gila, Samuel? Mengapa kau menyerang Sean? Kau sama sekali tidak berubah!" ucap Shera dengan penuh penekanan.
Samuel menarik napas dalam karena kecemburuannya membuat dia lepas kendali tadi.
"Karena dia mendekatimu, Shera. Aku tidak suka, maafkan aku, aku tidak bermaksud," balas Samuel sambil menahan diri untuk tidak membogem pukulan di wajah Sean lagi sebab pria tak dikenalnya itu menatap Shera dengan tatapan yang tidak dia suka sama sekali.
__ADS_1
Dahi Shera berkerut samar sesaat kemudian menelisik keadaan tubuh Sean."Sean, kau tidak apa-apa kan?"
"Aku baik-baik saja, Shera. Siapa dia?" tanya Sean sambil melirik Samuel sekilas.
"Mantan suamiku," balas Shera sambil tersenyum hambar. Tadi saat berbincang-bincang bersama Sean. Shera tanpa sengaja memberitahu permasalahan rumahtangganya saat Sean bertanya-tanya tentang latar belakangnya. Semula Shera berpikir negatif mengenai Sean. Namun, ternyata pria itu begitu ramah dan baik hati.
Sean nampak mangut-mangut sejenak, setelah itu melempar senyum penuh arti kepada Samuel.
"Jangan sentuh, istriku!" seru Samuel seketika kala Sean memegang tangan Shera tanpa sadar saat ini.
"Sam, kau sudah gila atau apa, aku bukan istrimu." Shera menimpali obrolan keduanya. Dia menggeleng-gelengkan kepala sejenak mendengar perkataan Samuel yang menurutnya aneh.
Enggan membalas, Samuel malah mengepalkan kedua tangannya karena Shera membela pria tersebut.
__ADS_1
"Shera, aku pergi dulu, hubungi aku nanti ya, kau sudah menyimpan nomorku tadi kan?" Sean kembali berkata sambil sesekali melirik Samuel. Sorot mata yang terpancar dari kedua bola mata pria itu menyiratkan angkara murka yang meledak-ledak di dalamnya. Tentu saja Sean tahu jika mantan suami wanita yang ia sukai itu sedang cemburu. Sean semakin penasaran akan kehidupan Shera. Wanita yang berhasil mencuri perhatiannya tadi. Dia berencana ingin menjadikan Shera istrinya nanti.
"Iya, aku sudah menyimpan nomormu, aku minta maaf Sean, karena Samuel menyerangmu tiba-tiba tadi, aku juga bingung mengapa dia bisa sampai di sini." Shera menunjukkan wajah tak enak hati karena ulah Samuel membuat Sean sampai terluka.
Sebuah senyum lebar terpatri di wajah Sean seketika. Akan tetapi, senyuman itu malah membuat Samuel semakin meradang.
"Iya, tidak apa-apa, aku pergi dulu, bye Shera!" Sebelum melangkah pergi, Sean mengacak-acak rambut Shera sejenak.
Shera terkekeh-kekeh pelan dibuatnya. Berbeda dengan Samuel, sepertinya di atas kepalanya sudah nampak dua tanduk seperti banteng menyembul keluar. Samuel benar-benar terbakar api cemburu.
Setelah melihat punggung Sean menghilang, Shera berjalan cepat melewati Samuel. Wanita itu seakan mengabaikan keberadaan Samuel. Walau dirinya senang akan kedatangan Samuel. Namun, Shera memilih melupakan masa kelamnya dan berjalan ke depan, menyongsong masa depannya.
Samuel tercengang, melihat sikap Shera barusan. Dia pun bergegas mengikuti langkah kaki mantan istrinya dari belakang.
__ADS_1
"Tunggu! Kembalilah padaku, Shera!" Samuel menahan tangan Shera dengan mencengkeram pergelangan tangannya.