
Selepas kepergian Samuel, Shera menitihkan kembali air mata sambil menutup kelopak matanya.
***
Esok harinya, Shera meringis pelan saat rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya. Dengan perlahan ia membuka kelopak mata saat bias cahaya dari jendela menerpa wajahnya. Shera baru saja tersadar jika hari sudah berganti. Dengan tertatih-tatih ia bangkit berdiri, lalu mengambil tas miliknya yang berada di lantai. Sesudah itu Shera keluar dari ruangan hendak ke kamar.
Sesampainya di kamar, Shera langsung mandi lalu memakai dress panjangnya. Sembari memakai pakaian Shera mengambil ponsel sebentar di tasnya dan begitu terkejut saat mendapati pesan dari seorang perawat, mengatakan kalau Mamanya meninggal dunia tadi subuh.
Dunia Shera berhenti berputar seketika. Dia menggeleng kuat. "Tidak, ini pasti bohong! Aku harus ke sana, pasti perawat ini bohong, iya, aku yakin itu." Shera bergegas memakai baju lalu keluar dari kamar hendak ke rumah sakit. Shera sampai lupa meminta izin pada Dimitri.
***
Waktu menunjukkan pukul empat sore, hujan turun dengan begitu deras seakan menangisi kepergian Lenka ke atas sana, Shera begitu terpukul, tak menyangka Mamanya telah pergi selama-lamanya dari sisinya. Padahal kemarin keadaan Mamanya terlihat begitu sehat dan bugar. Akan tetapi tadi malam kata petugas kesehatan Lenka henti napas tiba-tiba.
__ADS_1
Setelah mengantarkan Mamanya ke tempat peristirahatan terakhir tadi, Shera langsung pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Dia kehabisan ongkos untuk pulang.
Sesampainya di mansion, Shera di sambut oleh Samuel di depan pintu utama. Pria itu mengetatkan rahangnya, melihat Shera pergi entah kemana tanpa memberitahu Dimitri.
"Shera! Apa kau tengah menguji batas kesabaranku ha!" teriak Samuel sambil mencengkram tangan Shera hendak ke ruangan kemarin.
Sesampainya di ruangan, Samuel kembali mendorong tubuh Shera ke lantai lalu mengambil cambukan lagi, yang cambukannya masih terukir darah Shera belum juga mengering.
Samuel menghentikan gerakan tangan tiba-tiba saat melihat Shera hanya diam saja.
"Kenapa kau tak berteriak?" tanya Samuel sambil melempar cambukan ke lantai.
Tak ada sahutan, Samuel pun penasaran lalu mendekat dan berjongkok di dekat Shera.
__ADS_1
"Shera?" Samuel menyibak rambut panjang Shera kemudian lalu melebarkan pupil matanya ketika melihat kedua mata Shera terpancar kesedihan mendalam.
"Ada apa dengannya?" gumam Samuel sambil memegang pipi Shera.
"Kenapa berhenti, Sam? Bunuh saja aku... Aku tak pantas hidup lagi, semuanya pergi meninggalkanku, bunuh saja aku, Sam... Aku mohon..." ucap Shera sangat lirih, sambil menitihkan air mata, Shera sudah tak memiliki tujuan untuk hidup lagi, Mama dan Papa telah pergi meninggalkannya.
Dunia Shera hancur seketika.
Kini dia sebatang kara dan tak memiliki siapa-siapa, setiap cambukan yang diberikan Samuel tadi, tak sebanding dengan rasa sakitnya saat ini, yang ditinggalkan Mamanya. "Bunuh saja aku..."
Samuel menatap lekat-lekat mata Shera. Hatinya terasa begitu sakit sekarang, entah karena apa, saat melihat air mata Shera mengalir pelan.
"Bunuh a-" Shera melebarkan mata saat bibirnya di kecup Samuel tiba-tiba.
__ADS_1