Istri Bayangan Tuan Arogan

Istri Bayangan Tuan Arogan
Bertahanlah


__ADS_3

Pagi pun tiba, Shera terpaksa membuka mata kala mendengar suara seseorang bergema di telinganya.


"Nona kita sudah sampai di kota XXX." Seorang pemuda bertubuh tampun menepuk pelan pundak Shera.


"Benarkah?" Shera linglung. Dia mengucek-ucek matanya sejenak, sebab nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. Dia pun menoleh ke kanan dan kiri, ternyata kereta api sudah kosong.


"Iya, kalau begitu saya permisi dulu."


"Oh ya, terima kasih karena sudah membangunkanku." Shera melemparkan senyum tipis.


Pemuda itu membalas dengan tersenyum juga lalu melenggang pergi dari hadapan Shera.


Shera bangkit berdiri kemudian menyeret kopernya untuk turun dari kereta api. Beberapa jam lalu, Shera memutuskan untuk pergi ke kota terpencil, yang sangat jauh dari hiruk-pikuk kota Los Angeles. Dahulu ia pernah sekali berliburan ke kota ini bersama mendiang orangtua angkatnya.


Sesampainya di luar, Shera mengedarkan pandangan ke segala arah, melihat kumpulan manusia yang tidak terlalu ramai. Dia tidak heran sebab penduduk di kota ini memang sedikit. Kota inilah yang akan menjadi tempat tinggal ke depannya.


Shera berharap penuh mendapatkan perkerjaan secepatnya. Walaupun Lily memberinya uang dengan nominal yang banyak, tapi uang tersebut tidak dapat menanggung kebutuhan hidup ia dan anaknya kelak.

__ADS_1


Shera menyapa seorang wanita paruh baya yang sedang menjajakan makanan di pinggir jalan. "Permisi."


"Iya, mau beli apa? Silakan dipilih." Wanita itu melemparkan senyum hangat.


"Maaf, aku tidak membeli, aku mau bertanya di daerah sini apakah ada sewa apartment kecil untuk aku tempati, Madam," jelas Shera sambil tersenyum kikuk.


"Wah, kebetulan sekali anak perempuanku bulan ini membuka sewa apartment, tapi tidak terlalu lengkap fasilitasnya, bagaimana? Apa kau mau Dear?"


Mendengar perkataan wanita tersebut. Shera sangat senang, karena tanpa harus berputar-putar, ternyata ia menemukan tempat tinggal untuknya dalam waktu singkat. Tanpa berpikir panjang Shera mengangguk pelan lalu bertanya berapa harga sewa pertahunnya. Setelah mengenal satu sama lain dan bernegosiasi sebentar tadi, Shera memutuskan ikut bersama wanita paruh baya itu ke apartment anaknya.


"Bagaimana? Apa kau suka Shera?" tanya Madam Dolores seketika sambil menyibak gorden berwarna coklat itu ke sisi kanan.


Shera menoleh. "Suka Madam Dolores, terima kasih."


"Your welcome, Dear. Kalau kau butuh sesuatu katakan padaku ya, anakku masih di penatu, sebentar lagi dia akan tiba," ucap Madam Dolores mengulas senyum.


"Iya, Madam."

__ADS_1


"Beristirahat lah dulu, aku mau ke bawah."


Anggukan pelan sebagai balasan Shera. Setelah melihat punggung Madam Dolores menghilang di balik pintu. Shera melangkah pelan ke arah jendela lalu melihat pemandangan di luar sana, pegunungan besar nan indah berjejer rapi di hadapannya, membuat Shera tanpa sadar mengukir senyuman.


"Nak, maafkan Mommy ya karena menjauhkan mu dengan Daddymu, semoga saja suatu saat nanti kau dapat mengerti dengan keputusan Mommy." Shera menatap lurus ke depan sambil mengelus-elus perutnya yang masih datar.


Shera berharap calon buah hatinya itu dapat mengerti dengan keputusannya kelak. Dia sudah memikirkan matang-matang jawaban apa yang akan ia katakan pada anaknya nant8, sakit memang karena dirinya tak diakui oleh pria yang dicintainya. Namun, apa boleh buat, Shera tak mau Samuel tersiksa akan kehadirannya. Biarlah Samuel dan Anne mengukir kebahagiaannya sendiri di sana.


Shera melebarkan mata saat perutnya tiba-tiba bergejolak, tanpa banyak kata ia berlarian menuju kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.


"Hoek, hoek, hoek, hoek!" Secara bersamaan pula kepalanya berdenyut hebat. Dengan sekuat tenaga Shera menyeimbangi tubuhnya agar tak terjatuh. Lima menit kemudian, Shera terduduk lemas di dekat wastafel sambil menyeka sudut bibirnya seketika.


"Bertahanlah Nak." Tanpa sadar Shera menitihkan air matanya, tengah membayangkan dirinya akan melahirkan tanpa ditemani siapapun.



Mampir sini juga yuk 😍

__ADS_1


__ADS_2