
Niat hati ingin segera mengemasi pakaian dan pergi dari mansion sekarang sejuga, Shera urungkan dulu ketika melihat Samuel dan Anne berada di ruang tamu.
Shera hanya mampu menghela napas kasar saat melihat Anne tengah bergelayut manja di lengan suaminya. Dia berusaha menyembunyikan kecemburuan di dalam hatinya yang meluap-luap, lagipula sebentar lagi dia dan Samuel akan bercerai.
Samuel belum menyadari kedatangannya, sementara Anne sudah tahu. Wanita itu malah secara terang-terangan, memperlihatkan kemesraan di hadapannya sekarang.
"Wow lihat istrimu itu Sam, baru datang, keluyuran dari mana saja dia," ucap Anne dengan menaikan intonasi suaranya.
Samuel menoleh. Tanpa sadar dia mengibaskan tangan Anne.
Anne sontak terkejut melihat sikap Samuel barusan.
"Oh ya Shera, aku mau mengatakan kalau aku sedang hamil suamimu, ups, sebentar lagi akan menjadi mantan suamimu, aku sudah tahu semuanya antara kau dan Samuel." Anne kembali membuka suara.
Shera enggan menganggapi, sekali lagi dia menarik napas.
"Dari mana saja kau! Dasar pembohong! Kau izin dengan managermu untuk beristirahat karena sakit, tapi apa ini? Kau malah keluyuran." Samuel bangkit berdiri seketika sambil melayangkan tatapan tajam.
"Aku dari rumah Mommy, tadi Mommy memintaku ke rumahnya, lain kali aku tidak akan sakit lagi, maaf menganggu waktu kalian, aku harus ke kamarku."
Tanpa mendengarkan tanggapan Samuel, Shera berjalan cepat menuju koridor kamarnya.
Samuel heran, mengapa Mommynya tak memberitahunya jika sudah sampai di Los Angels. Dia hendak mengejar Shera namun Anne menahan tangannya.
"Sam, kau mau kemana? Biarkan saja, untuk apa kau mengurusinya! Bukankah sebentar lagi kau akan mengugat cerai dia, sudahlah sekarang kau temani aku ke mall, membeli susu bayi," kata Anne.
Samuel mengangguk pelan. Namun, perasaannya dilanda kekalutan, karena sikap Shera yang acuh tak acuh padanya tadi.
"Ayo, kita ke mall sekarang!" Dengan semangat Anne beranjak dari tempat duduk dan merangkul tangan Samuel.
Samuel manut-manut saja lalu mengikuti Anne dengan perasaannya yang semakin gusar sekarang entah karena apa.
Sementara itu di atas, Shera langsung meletakkan hasil USG-nya di atas nakas kemudian mengambil koper, hendak membereskan pakaian. Dia memutuskan pergi tengah malam nanti saja, saat semua penghuni rumah tertidur pulas. Jadi, dia memiliki kesempatan untuk pergi tanpa diketahui orang rumah.
Shera menghentikan gerakan tangannya saat mendengar bunyi deru mobil di depan mansion. Dia mendekati jendela lalu celingak-celinguk di sela-sela kaca. Setelah melihat kendaraan roda empat milik Samuel menghilang, Shera bergegas merapikan pakaian.
Malam pun tiba, meski dirinya akan pergi malam ini, Shera akan bersikap seperti biasa saja, agar semua penghuni di rumah tidak curiga rencana perginya.
Benar praduga Shera, ternyata Anne dan Samuel kembali lagi ke mansion. Terdengar suara kicauan Anne menggema di ruang depan.
__ADS_1
Shera baru saja selesai makan malam. Dia buru-buru membersihkan piring-piring yang dipakainya tadi. Dia tak mau berpapasan dengan Samuel ataupun Anne. Setelah selesai dia bergegas berjalan ke koridor menuju kamarnya. Namun, semesta seakan tak mendukungnya, sebab Anne sekarang menghampirinya.
"Oh my God, Shera. Kau seperti orang dikejar setan, kenapa terburu-buru?" Anne mengangkat angkuh dagunya.
"Baby, sudahlah, ayo kita ke ruang tengah, katanya tadi kau keletihan berjalan-jalan di mall." Samuel melirik Shera sekilas.
Shera enggan menganggapi perkataan Anne. Dia malah menggerakan kedua kakinya.
"Hei kau tunggu!" seru Anne sambil mencengkal tangan Shera seketika.
Shera mulai tersulut emosi. "Apa mau mu Anne! Lepaskan aku!" katanya lalu menghempas tangan Anne.
"Awh sakit! Hiks, hiks, hiks, kau sangat jahat Shera!" Anne mengaduh kesakitan sejenak dengan menitihkan air matanya tiba-tiba.
Shera menggeleng pelan, melihat drama yang diciptakan Anne kini padahal tadi dia tak kuat saat mengibaskan tangan Anne.
Samuel melebarkan mata. "Shera! Apa-apaan kau! Anne sedang hamil! Apa kau sengaja ingin mencelakai anakku ha!" teriaknya menggelegar.
"Apa maksudmu! Aku tidak sengaja Sam, jelas-jelas Anne yang memulai duluan tadi, sudahlah hentikan dramamu Anne!" Entah keberanian dari mana Shera berani melawan Samuel. Kini dia tak peduli lagi apa yang akan dilakukan Samuel setelahnya. Lagipula sebentar lagi ia akan bebas.
"Kau!" Samuel hendak melayangkan tamparan di pipi Shera.
Melihat sorot mata Shera yang teduh, mampu mengetarkan hati Samuel seketika. Tanpa sadar ia menurunkan tangannya seketika. Untuk sejenak dia terdiam, bingung akan sikapnya sendiri sekarang.
Shera melenggoskan muka ke samping dan melenggang cepat dari hadapan Samuel dan Anne.
"Baby mengapa kau tidak menamparnya hiks, hiks, hiks... Lihatlah dia Baby, wanita itu sengaja mau melukaiku dan anak kita, mungkin dia iri padaku." Anne mengeluarkan air matanya.
"Sudahlah Baby, ayo kita ke ruang tengah, kau harus beristirahat sekarang." Samuel menarik tangan Anne dan menuntunnya ke ruangan lain sambil sesekali melirik-lirik punggung belakang Shera di ujung sana.
*
*
*
Waktu menunjukkan pukul 24.00 malam, suara denting jarum di ruang tamu berdengung kuat, Shera mengendap-endap keluar dari kamar perlahan-lahan. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan keadaan di sekitar terlebih dahulu. Setelah merasa aman, dia menyeret pelan kopernya hendak pergi ke dapur. Namun, belum sampai di luar, langkah kakinya terhenti saat di depannya ada sosok yang sangat ia hindari, menatapnya datar.
Shera mematung di tempat.
__ADS_1
Aish, bagaimana ini!
"Nyonya mau kemana? Hari sudah sangat malam, masuklah ke dalam," ucap Dimitri tanpa ekspresi sama sekali.
Shera menggeleng. "Aku tidak mau Dimitri, izinkan aku pergi, aku ingin bebas," ucapnya memelas.
"Nyonya mau pergi kemana?"
"Kau tidak perlu tahu, Dimitri, untuk saat ini biarkan aku pergi dari sini, apa Mommy belum mengatakan padamu kalau aku mengugat cerai Samuel?" Shera mengatup kedua tangannya di depan dada, berharap Dimitri tidak menghalanginya.
"Hm, iya sudah, tapi apa tidak terlalu cepat Nyonya, bagaimana perasaan Mister kalau tiba-tiba Nyonya pergi dari sini tanpa berpamitan dengannya?" Sekali lagi Dimitri bertanya.
"Untuk apa aku memikirkan perasaanya, lagipula dia tidak mencintaiku, sudahlah Dimitri, biarkan aku pergi." Raut wajah Shera murung seketika.
"Apa Nyonya mencintainya?"
Pertanyaan yang diajukan Dimitri, membuat Shera semakin panik, sebab sekarang dia dapat mendengar samar-samar suara Anne mendekat ke dapur.
"Dimitri, aku mohon, minggirlah."Shera hendak menyeret kopernya lagi.
Dimitri menghadang Shera tiba-tiba. "Saya tidak akan mengizinkan Nyonya pergi, jika anda tidak menjawab pertanyaan saya."
Detak jantung Shera semakin berdegup kencang saat mendengar suara Samuel juga di ujung sana.
"Tentu saja aku mencintainya, tapi cintaku hanya bertepuk sebelah tangan saja, sudah puas?"
Dimitri mengangguk lalu menggeser kakinya.
Secepat kilat Shera menarik koper dan berlarian menuju pintu dapur. Sesampainya di luar Shera mengedarkan pandangan ke segala arah sambil menelisik keadaan disekitarnya. Shera tampak bernapas lega karena para bodyguard tampak mengantuk dan tidak menyadari keberadannya.
Begitu sampai pintu gerbang, dia menyelinap masuk melalui lobang berukuran sedang yang terdapat di sisi kanan tembok.
Shera senang, tanpa harus lama-lama menunggu taksi. Dengan jarak beberapa meter ada taksi melintas. Shera memberhentikan kendaraan tersebut.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Shera menoleh ke belakang, melihat mansion megah berdiri kokoh di hadapannya.
"Selamat tinggal Samuel, aku harap kau selalu bahagia," desisnya pelan sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Shera pun naik ke dalam taksi, setelah mengatakan pada sang supir kemana tujuannya. Mobil itu pun bergerak menjauhi mansion.
__ADS_1