
***
Usai menyiksa Arumi dengan bengis, Yudistira lekas melangkah ke luar kamarnya dan memanggil Joe yang saat itu ada di lantai bawah "Joe! Kemari!" Pekik Yudistira. Joe lekas berjalan cepat seakan berlari kenarah sahutan Yudistira "Ya. Tuan... Apakah ada hal yang anda butuhkan?" Tanya Joe sigap mendekat.
"Joe. Bawakan pakaian untuk istriku" Ucap Yudistira lekas masuk kembali ke kamarnya.
"Tuan muda... Apakah hanya itu yang anda butuhkan?" Tanya Joe. Yudistira sedikit menoleh "Ya. Itu saja sudah cukup..." Jawabnya seraya lekas masuk kamarnya setelah ia membuka pintu tersebut.
Joe mulai mengembangkan pipinya Apakah aku tak salah dengar? Tadi tuan Yudistira memanggil nona Arumi dengan sebutan istri? Bathin Joe menggumam dan melempar sebuah senyuman ringannya. Ia amat senang, kala Yudistira mulai mau membuka hatinya untuk Arumi.
Beberapa saat kemudian...
Joe masuk kamar Yudistira dan meletakan pakaian wanita seperti yang di minta oleh Yudistira. Ia meletakannya di matras Yudistira, lalu Joe menoleh ke arah Yudistira yang kala itu telah menyelam ke alam mimpinya.
"Tuan muda pasti lelah karna ia terus marah-marah sedari pagi..." Joe lekas keluar kamar tersebut setelah menyelimuti Yudistira sore itu.
Joe keluar kamar itu lalu Arumi mulai masuk. Ia mengenakan handuk pendek yang ada di Bathroom kamar Yudistira. Arumi mengintip di daun pintu, netranya tak dapati sosok Yudistira si pria bengis itu. Ia pun putuskan untuk masuk kamar utama dan meninggalkan Bathroom itu. Arumi menelisik dengan perasaan bingung di benaknya.
__ADS_1
Apa yang harus aku kenakan? Aku sama sekali tak memiliki pakaian. Bathin Arumi menggumam. Ketika netranya mulai memutar seratus enam puluh derajat. Ia pun dapati selebar kain yang di lipat begitu rapi. Warnanya cukup mencolok hingga mengganggu pandangan Arumi. Arumi lekas meraihnya dan menyimak kain tersebut.
"Pyama malam?" Tanya Arumi. Selama ini pakaian yang Arumi kenakan hanyalah gaun dan gamis ia tak pernah memakai pakaian lain selain itu.
Tapi, karna ia tak mau mengumbar lekuk tubuhnya seperti saat ini. Ia pun terpaksa memakai pakain setelan itu, baju dan celana terpisah itu mulai di kenakan Arumi tanpa bra dan Underwears "Rasanya sungguh tak nyaman... Dan beberapa hari ini aku tidak pernah beribadah karna tubuhku kotor" Bisik Arumi tak ingin membangunkan Yudistira yang saat itu terlelap begitu pulasnya.
Arumi mulai meraih handuk dan memakainya di kepalanya seperti ia mengenakan kerudung, seperti biasanya... Arumi hanya memperlihatkan dua bola mata indah miliknya saja. Ia keluar dan mencari seseorang, kini ia tak bisa kabur karana selain tak ada tempat tinggal lain. Arumi juga adalah istri sahnya Yudistira jika ia meninggalkan Yudistira, ia akan di sebut istri durhaka.
"Nona... Apa yang sedang anda lakukan?" Tanya Joe menepuk pundak Arumi yang berjalan mengendap-endap menuju ruang dapur.
Arumi mengangguk dan lekas kembali ke atas, Joe tersenyum "Baru kali ini aku bertemu wanita baik seperti itu. Banyak wanita yang mengincar tuan Yudistira karna kedudukan tinggi yang ia miliki. Wanita lain hanya ingin hartanya saja... Tapi wanita ini, Aku sangat terpesona oleh ke baikanya" Umpat Joe saraya berpaling dari tatapannya dan mulai kembali ke posnya.
Dalam kamar...
Ini pertama kalinya seperangkat alat shalat pemberian Yudistira itu di kenakan Arumi. Masih wangi aroma toko... Dan Arumi begitu khusuk saat bersimpuh di depan sang khalik.
Saat Arumi membaca witir kala ia usai beribadah, Yudistira terbangun dari mimpi buruknya dan lekas mencercapkan netranya, pria itu bangkit lalu menatap Arumi... Ia menatap Arumi yang kala itu bersimpuh dan menadahkan kedua tangannya seakan memohon. Hal tersebut membuat Yudistira termenung.
__ADS_1
Sudah lama sekali aku lupa pada tuhanku... Dan sudah lama sekali juga, aku tak pernah mengingatnya karna lebih sering menyalahkannya atas nasib sial yang menimpaku. Bathin Yudistira menggumam.
Yudistira duduk dengan menggulung tangannya di perut dan memperhatikan gerak-gerik Arumi. Usai mengusap wajahnya, Ia lekas membuka rok muken dan melipat sajadah yang jadi tempatnya bersimpuh tadi.
"Kau pasti sedang mendoakan hal yang buruk untukku kan?" Ucap Yudistira terdengar jelas di telinga Arumi.
"Astagfirullah..." Arumi lekas membalas demikian.
"Apakah aku katakan benar?" Tanya Yudistira, ia kurang puas akan jawaban Arumi yang hanya sebuah istigfar.
"Tuan. Haram bagi umat muslim mendoakan hal buruk untuk saudaranya. Apa lagi, itu untuk suamiku sendiri..." balas Arumi begitu jelas.
Yudistira sesat tersenyum kala Arumi menyebutnya suaminya.
"Heh. Sudah saatnya makan malam... Ayo turun. Jangan sampai aku menyuapimu dengan bubur panas lagi..." Imbuh Yudistira.
Akhirnya Arumi melangkah ke meja makan... Dan mulai makan bersama tanpa sebuah paksaan. Apakah ini hal yang baik atau sebaliknya?"
__ADS_1