
***
Teman teman Yudistira pulang beberapa jam yang lalu tanpa menunggu Yudistira terbangun karna mereka harus meneruskan pekejaan yang tertunda meski libur kerja.
"Nona Arumi... Bagai mana ke adaan tuan muda?" Tanya Bi Inah. Arumi menjawab ringan "Alhamdulilah, tuan muda sedikit membaik setelah dokter memeriksa ke adaannya" Jawab Arumi. Ia ke luar kamar untuk membawa baskom kecil berisikan air hangat dan handuk tipis untuk membersihkan tubuh Yudistira.
"Begitu ya... Syukurlah" Bi Inah pun merasa lega. Cuma yang bi inah khawatirkan adalah Arumi, tampaknya Arumi sangat lelah, terlihat dari lingkar matanya yang mulai berwarna hitam sedikit pekat
"Bi Arumi pamit ke kamar" ucap Arumi sembabari memutar langkahnya.
"Ya. Non... Semoga tuan muda cepat sembuh" Ujar Bi inah mendoakan. Arumi menoleh di iringi senyuman tipis di balik cadar yang ia kenakan "Terimakasih bi... Atas doanya" Arumi lekas kembali ke kamar.
Sesampainya di sana, Arumi kembali mengompres jidak Yudistira. Lalu membersihkan tubuhnya dengan melucuti satu persatu kancing pakaiannya.
"Jika kamu sadar... Sudah pasti aku akan habis di maki... Maaf ya jika kelakuanku ini sungguh tidak sopan" Basik Arumi. Yudistira mulai polos, dada kekar yang Arumi lihat amatlah menggodanya, gumpalan otot berkumpul membentuk sebuah pemandangan yang indah.
"Astagfirullah... Kenapa pikiran ku jadi aneh setelah menatap beberapa gumpalan milik suamiku yang terlihat seperti roti sobek!" racau hati Arumi menolak pesona yang di miliki Yudistira, sesaat otak Arumi jadi sedikit mesum.
Usai mengelap seluruh tubuh pria itu, Arumi lekas mengganti pakain Yudistira dengan pyama. Namun, Arumi jadi risih ketika ia juga harus membersihkan bagian intim suaminya. Ia memang belum pernah melihat langsung senjata suaminya yang trlihat begitu besar meski saat ini senjata itu masih terbungkus celana katun suaminya.
__ADS_1
"Astagfirullah! Apa yang sedang aku pikirkan! Kenapa tiba-tiba mataku menatap ke arah sana dan berkhayal hal yang tidak-tidak!" teriaknya meracau dalam hati.
Mau bagai mana lagi...
Arumi adalah istri Yudistira... Mau tak mau, ia harus membersihkan seluruh tubuh suaminya tanpa terkecuali. Saat celana Yudistira di lorotkan ke bawah, Arumi sungguh hiteris.
"Kyaaaaaa! Astagfirullah... Apa yang sedang aku lakukan!" Teriaknya dalam hati. Bathinnya meluap luap setiap ia menyentuh tubuh Yudistira. Ia malu tapi juga tak punya pilihan lain... Entahlah, entah apa yang Arumi bayangkan setelah melihat dengan jelas senjata Yudistira yang luar biasa. Ia membersihkan Area vital itu dengan tatapan sedikit takut dan begitu malu "Astagfirullah! Maafkan aku! Aku sungguh minta maaf..." racau Arumi tak berhenti mengoceh seraya membersihkan nya dengan lembut. Ia beberapa kali menutup matanya untuk tak melihat senjata vital Yudistira yang terasa lepek seperti sosis yang sudah di goreng.
"Jika dia saadar apa yang sudah aku lakukan padanyam. Habislah aku... Masyallah..." Gerutunya seraya menyelesaikan sentuhan terakhir. Yudistira mulai berganti pakaian dengan sempuran. Arumi mengganti seluruh pakaian dalam pria itu seorang diri hingga ia berkeringat dan kelelahan.
Arumi mulai duduk di karpet dan menyenderkan tubuhnya di matras Yudistira. Karna tubuhnya sangat lelah, Arumi pun terlelep dengan menyender ke matras itu dan tangannya tak sengaja menggengam tangan Yudistira "Lekas lah sembuh tuan muda..." Bisiknya sembari penat di benaknya mulai pudar seiring lelapnya kala menyelam ke alam mimpi.
***
Yudistira bangun begitu saja setelah ia membuka matanya "Hosh! Hosh! Hosh!" Napasnya tak teratur ketika ia serentak bangun dan terdiam dalam posisi duduk "Sial!' Umpatnya mendengus kasar.
"Lagi-lagi mimpi buruk itu... Kenapa mereka tak mau pergi! Mereka selalu menghantuiku dan merenggut segala ketenanganku!" bentaknya menggebrak ranjang. Yudistira teerus menggerutu dan tak sadar bahwa di sampinya Arumi masih terlelap dengan menggenggam tangannya selama beberapa jam.
"Aku harus segera konsultasikan masalah ini sesegera mungkin sebelum aku benar-benar gila!" Bentak Yudistira seraya meraih selimut yang melilitnya itu. Namun... Saat ia hendak menarik selimut itu, selimutnya tersangkut dan memaksanya untuk menoleh ke arah Arumi yang menindih selimutnya itu.
__ADS_1
"Ah dia?" pekiknya membelalakan matanya lebar lebar.
"Kenapa dia malah duduk di sana dan terlelap?" tanya Yudistira tak paham.
Setalah di simak dengan seksama, nyatanya Yudistira mulai paham... Ia melihat baskom kecil yang terisi banyak air dan kain lap di dalamnya. Ia lekas menyentuh jidaknya dan memeriksa pakaiannya.
"Astaga! Sejak kapan pakaianku berganti dengan pyama malam?" tanya Yudistira kaget setalah melihat dengan jelas bahwa pakaiannya telah berganti, lalu pakaian yang ia kenakan kemarin malam mulai berserakan di bawah ranjang dekat Arumi terduduk.
"Jangan jangan wanita ini? Ah mana mungkin dia? Pasti Joe yang melakukannya!" oceh Yudistira nyerocos dalam hatinya.
Tadinya Yudistira ingin menegur Joe, tapi karna pandangan Yudistira teralihkan pada Arumi yang terlelap, akhirnya... Ia tak ingin melakukan apapun selain turun dari ranjang dan duduk di karpet lalu menyender di samping ranjang seperti yang Arumi lakukan. Ia merebahkan kepalanya di sana seraya menatap wajah istrinya yang terlelap begitu pulasnya.
"Jika bukan Joe yang merawatku... Belarti itu kamu kan?" tanya Yudistira. Yudistira mulai mengulurkan tangannya dan berusaha menyeka beberapa peluh deras di jidak Arumi. Yudistira lihat dengan jelas, bahwa wanita itu sangat lelah... Ia mulai menatap Arumi secara seksama seraya merasakan betapa nikmatnya memiliki istri soleha seperti istri yang ia miliki saat ini.
"Tetaplah bersamaku... Apapun yang terjadi ya, Kamu mau kan menemaniku?" tanya Yudistira di iringi senyuman tulusnya. Ia pun mulai membuka hati nya untuk Arumi... Kali ini, Yudistira berinisiatif mencium kening Arumi dengan tulus tanpa maksud tertentu.
Jika dulu, Ia jadikan Arumi sebagai alat untuk membelas dendam... Maka kali ini, ia menjaga Arumi dengan segenap jiwanya...
Semoga Yudistira benar benar sebaik ini... Selamanya agar ia mulai memiliki kluarga yang harmonis se utuhnya...amin...
__ADS_1