
***
"Di mana kamu tinggal sekarang?" Tanya Leon seraya terus melajukan kendaraannya.
"Saya tinggal di kediaman tuan Yudistira" Jawab Arumi menunduk, ia sangat takut pada pria yang saat ini mengajaknya pergi bareng ke rumah sakit tempat sang ayah angkat di rawat.
"Rumah Yudistira... Pasti sangat besar ya? Hem... Ku dengar, kau jadi istrinya" nampaknya Leon lagi mengintrogasi Arumi. Ia seakan mengorek seluruh informasi dari Arumi.
"Dia sangat baik..." Jawab Arumi singkat menutupi segala ke angkuhan suaminya.
"Begitu ya. Ku harap kamu bahagia, meski bukan kakakku yang jadi jodohmu" Leon pun menyinggung soal sang kakak yang saat ini depresi berat akibat kabar buruk yang menimpa Arumi di pernikahannya.
...****************...
Rumah sakit...
"Silahkan nona... Pasien sedang koma, jadi... pastikan anda tak begitu berisik kala menengoknya" Pinta sang dokter.
Arumi yang telah berganti mengganti pakaiannya dengan pakaian medis pun mulai masuk, sementara Leon masih ada di luar lalu memperhatikan Arumi di cermin besar yang membatasi ruangan tersebut.
__ADS_1
"Ayah..." Ucap Arumi menghampiri Ayah Angkatnya dan duduk di sampingnya. Arumi yang duduk di kursi mulai meraih tangan kekar sang ayah dan mencium punggung tangan pria itu "Ayah. Ini Arumi Ayah..." Bisik Arumi. Ia mengusap-usap tangan pria itu seakan mencoba membangunkannya.
"Maafkan Arumi Ayah, gara-gara Arumi... Ayah jadi terluka begini. Ayah... Arumi benar-benar anak durhaka, Arumi tidak berbakti padamu Ayah... Jika Ayah sembuh, ayah bisa menghukum Arumi karna kecerobohan Arumi Ayah..." Arumi merengek, ia sungguh menyesal, tapi... Mungkin itulah goresan takdir yang harus Arumi dapatkan. Ia tak bisa menawar dan ikhlas menerima meski banyak tentangan yang ada di hadapannya.
Perlahan tangan sang ayah mulai begerak "Ayah..." jemari tunjuk sang ayah mulai merespon sentuhan tangan Arumi. Arumi membelalakan matanya dan lekas menekan bel. Seketika para suster mulai berhamburan masuk ke ruagan tersebut.
"Suster, ayah ku sadar..." ucap sang Arumi menoleh pada suster dengan sebuah senyuman yang mengembang.
"Ayah... Ayah sadar! Alhamdulilah... kabar baik ayah" Arumi bahagia, sampai-sampai netranya berbinar kala itu.
"Biar saya periksa..." ucap Suster, tapi.. Tangan tuan Anggara begitu sulit di lepas.
"Ada apa ayah?" Tanya Arumi heran.
"Ayah jangan bicara dulu... Biarkan para medis memeriksamu..." pinta Arumi. Tapi Tuan Anggara menggelengkan kepalanya.
"Arumi. Maafkan aku..." Ucap sang ayah dengan suara paraunya.
"Ayah. Aku yang harusnya meminta maaf, karna tak bisa menjadi menantu idaman seprti yang ayah dambakan" jelas Arumi. Tapi, Tuan Anggara menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Semua salahku. Akulah yang membuatmu jadi begini" ujar Anggara menitikan Air matanya.
"Apa maksud ayah, Arumi sama sekali tak paham..."
"Arumi... Maafkan aku... lima belas tahun yang lalu... Kluargamu, tewas... Karna kecerobohanku. Aku menabrak mereka hingga mereka terjun ke jurang... Dan seketika mobilnya meledak... Dan hanya kamulah yang bisa aku selamatkan. Jadi, aku berfikir... Jika kamu jadi menantuku, masa lalu kelam itu bisa ku hapus dengan mudah di ingatanku. Namun, nyatanya... Tuhan berkata lain, dan aku harus meminta maaf padamu. Arumi maafkan...A-k-u..." Usai menjelaskan hal demikian, tangan tuan Anggara terkulai lemas seketika itu.
Arumi terbelalak ketika menatap tuan Anggara yang membelalakan matanya lebar-lebar hingga pupil matanya membesar total. Nampaknya, kini mata Tuan Anggara tak sensitif cahaya dan di pastikan mati otak...
PIIIIIPPPPPPPPPPP! Bunyi nyaring itu, membuat tubuh Arumi lemas... Ia mulai terjatuh di samping kaki ranjang.
Pandangannya begitu terhalang oleh butiran basah yang bertumpuk. Entah karna penjelasan ayah angkat yang tak bisa ia percayai... Atau malah karna tuan Anggara tak bisa di selamatkan. Makanya ia jadi lesu begitu. Dan tak ada kata lain selain sedih...
Leon menggebrak kaca dan tampak sedih, Arumi melangkah pelan menuju pintu keluar. Meski ia tak bisa mengatur arah kakinya yang lemas dan bergetar itu.
Setelah sekian lama tinggal di kediaman Anggara, ia baru tahu hal yang begitu menyesakkan... Rupanya, bukan alasan iba kala tuan Anggara mengadopsinnya dari panti asuhan. Namun karna rasa bersalah yang besar lah yang mampu membuatnya berfikir. Membesarkannya dan menjadikannya menantu... Sudah cukup menghapus masalalu kelam itu.
Meski Loen menyalahkan Arumi gara-gara nasib sang ayah yang sial. Tapi, Arumi sungguh tak punya wewenang untuk membalas segala cacian Leon yang menyalahkannya atas meninggalnya sang ayah.
Rasa kecewe di bnak arumi sudah bertumpuk dan hampir meledak...
__ADS_1
Akhirnya yang bisa Arumi lakukan adalah menutup wajahnya dengan ke sepuluh jemarinya. Lalu menangis sejadi-jadinya... Bukan menangisi sang ayah yang wafat di ruang pasien... Namun menangisi keluarganya yang tewas tanpa ia ketahui.
"Ayah.. Ibu... Maafkan aku karna aku tak bisa berbakti kalian..." tangis Arumi pecah dan tiada henti... Kala tahu status orang tuanys yang telah wafat. Selama ini yang Arumi tahu bahwa ia hanyalah anak yang tak di inginkan.