ISTRI kecil Tuan Yudistira

ISTRI kecil Tuan Yudistira
Pihak ke tiga


__ADS_3

***


Mereka makan bersama dengan suka ria, Yola mendekat dan mulai menggoda Arumi "Nona... Kado yang sangat indah... Apa kira kira isinya?" tanya Yola dengan nada yang manja. Bi inah menegur Yola dan menepuk pundaknya "Jangan dekati nona... Sungguh tidak sopan" Umpat Bi Inah.


"Benar Yola. Kau pikir kau sedang bicara dengan siapa?!" Komen para pelayan lain.


"Kenapa? Aku kan hanya sedikit penasaran... Apakah salah jika aku tanya apa isi dalam kotak itu?" Tanya Yola merunduk.


"Sudah-sudah... Astagfirullah... Bi Inah, Bi Yanti, jangan begitu dong. Kalian jangan marah... Aku akan membukanya sekarang agar kalian tidak penasaran ya" ujar Arumi mulai menarik kotak di sampingnya itu.


"Tapi nona. Itu adalah privasi anda..." Bantah Bi Yanti gugup.


"Tak apa... Lagi pula mungkin ini bukan sesuatu yang berharga" Balas Arumi di iringi senyuman manisnya.


"Jika tuan muda tahu... Anda akan terkena masalah besar" Bisik Joe mengingatkan.


"Tak apa... Nanti aku yang akan membujuknya" Timbal Arumi masih membuka kotak itu.


Alhasil semua mata tertuju pada dua tangan ramping dengan jemari lentik Arumi... Yang saat itu sibuk mengotak atik kotak istimewa pemberian Yudistira "Nah... Kotaknya tinggal di buka saja" Ucap Arumi seraya membuka seluruh bungkusan di kotak itu. Dan akhirnya, nampak pula isi dalam kotak itu.


"Ah...!" Pekik Kruss berdiri dan menunjuk.


"Hei jaga sikapmu..." Gumam Aska menarik pakaian Kruss untuk kembali duduk di kursi meja makan tersebut.


"Wahhhh... Hebat..." pekik seluruh pelayan yang ada di meja itu seraya menatap dengan netra yang berbinar.


"Bukankah itu..." oceh Yola menatap iri.

__ADS_1


"Ini? Apakah ini ponsel?" tanya Arumi menarik box ponsel yang sedari tadi tersembunyi di dalam kotak berbungkus walpaper.


"Wah. Itu ponsel keluaran terbaru nona... Anda sangat beruntung!" Pekik Yola memuji Arumi.


"Keluaran terbaru?" tanya Arumi bingung.


Kenapa tuan muda memberiku ponsel? Padahal aku sama sekali tidak membutuhkannya Tanya Arumi dalam hati. Ia menatap ponsel tersebut dengan tatapan sedih.


***


Usai makan besar, Arumi turun tangan dan membatu para pelayan lain untuk membenahi meja makan lalu membersihkan piring-piring kotor "Nona... Biar aku saja, tolong jangan menyentuh gerabah-gerabah ini, Jika sampai tuan tahu bahwa anda ikut berkutat. Kami bisa di pecat nanti..." Keluh kepala pelayan.


"Tapi bu... Saya sangat senang bersih-bersih" Ujar Arumi bersikeras.


"Tidak-tidak, tempat anda bukanlah di ruangan kotor ini. Mohon anda pahami peraturan yang telah kami patuhi" Pinta kepala pelayan.


"Tapi..." Arumi masih bersikeras.


"Bi Yanti... Izinkan aku membantu merapihkan meja makan" jelas Arumi.


Bi Yanti tak punya pilihan lain selain membiarkan Arumi membantu membersihkan beberapa piring kotor dan mencucinya bersih.


Beberapa saat kemudian...


"Terimakasih nona... Silahkan beristirahat" Ujar para pelayan lain.


Arumi menunduk dan lekas melangkah menuju kamar pribadi Yudistira. Ia pun melangkah ke arah tersebut dan naik ke lantai dua kemudian masuk dengan langkah longai bergontai "Cukup lelah... Tapi terasa nikmat" ucapnya lekas masuk.

__ADS_1


Blam... Pintu langsung di tutup pelan. Namun nyatanya saat Arumi memutar bola matanya untuk menelisik sekeliling kamar tersebut. Yudistira belum masuk kamar itu.


"Mana tuan muda?" tanya Arumi celingukan.


"Apakah dia ketiduran di ruang kerjanya? Astagfurullah" iapun lekas kembali keluar kamar itu dan mulai menuju ruang yang ia lihat tadi. Yakni ruang kerja...


Klek... Arumi berjalan tergesa-gesa dengan langkah lebarnya. Namun, saat hendak sampai setelah melewati beberapa ruangan. Seseorang malah menarik tangannya...


Gyuuut!


Hingga langkah Arumi terhenti, sontak... Arumi mencari ke belakang, di mana seseorang menarik sikutnya itu "Joe!!" Pekik Arumi.


"Ding dong... Salah..." ucap seseorang. Setelah Arumi pastikan, Pria yang menariknya itu bukanlah Joe. Melainkan pria berambut pirang yang memutuskan menginap bersama dua rekannya dengan alasan kemalaman.


"K-kau! Lepaskan! Dasar tidak sopan!" Teriak Arumi.


Kruss menyungingkan bibirnya "Heh... Dasar wanita aneh, sejak kapan kau jadi begitu berharga di mata tuan Arogan itu?" tanya Kruss menatap tajam dan sedikit menyungingkan bibirnya.


"Astagfirullah! Lepaskan! Apa sih maumu! Jangan sentuh aku... Kita bukanlah muhrim!" bentak Arumi berjingkrak untuk melepaskan cengkraman kruss.


"Aku lama bekerja dengannya... Tapi, aku sama sekali tak paham... Kenapa harus kau yang jadi istri pria seprtinya?" tanya Nya lagi. Arumi sungguh tak senang.


"Lepaskan!" Arumi mulai menarik kembali tangannya.


"Seharusnya sisa ponsel itu aku yang miliki... Tapi, Meski aku menukarnya dengan harga tinggi... Dia tetap tak memberikannya padaku. Ternyata... Itu untukmu ya?" Kruss mengoceh hal tak jelas.


"Lepaskan...!" bentak Arumi sangat keras hingga seseorang datang dan menarik tangan kruss hingga tangan Arumi pun terlepas "Lepaskan tangan kotormu darinya!" bentak seseorang. Arumi terbelalak dan begitu kaget...

__ADS_1


Kruss mati kutu seketika itu...


Kira kira siapa yang datang ya?


__ADS_2